Jumat malam (14/08), suasana Gedung Madrasah Miftahul Ulum (MMU) al-Ghazali dan as-Suyuthi tampak semarak. Para santri berbondong-bondong memadati lokasi untuk menyaksikan panggung evaluasi dua jamiyah: Jamiyah Mubalighin dan Jamiyah Dufuf.

Baca juga: Evaluasi Semester I: Jamub Siapkan MC Terlatih
Di Gedung as-Suyuthi, riuh tepuk tangan membahana hingga ke sudut-sudut lantai. Panggung, pencahayaan, serta sound system menghiasi lantai dasar gedung tersebut. Bangku-bangku juri pun berbaris rapi di hadapan panggung yang telah dilengkapi rebana dan mikrofon.

Di balik kemeriahan itu, terdapat perjuangan gigih pengurus serta panitia evaluasi Jamiyah Dufuf untuk menembus berbagai rintangan demi kelancaran acara.
M. Fajar Maulana Hidayah adalah saksi sekaligus bukti cucuran keringat pada evaluasi Jamiyah Dufuf semester I ini. Saat diwawancarai oleh redaksi sidogiri.net, Sekretaris Jamiyah Dufuf tersebut mengungkapkan bahwa evaluasi tahun ini fokus pada pembenahan dari pelaksanaan tahun sebelumnya.
“Beberapa minggu sebelum acara, kami telah berdiskusi dan menyiapkan rundown acara sebaik mungkin. Salah satunya dengan mengevaluasi kendala tahun lalu yang menyebabkan mulainya acara telat jauh dari jadwal,” ungkapnya.
Beberapa hari sebelum acara puncak, seleksi peserta Dufuf telah dimulai. Perlu diketahui, jamiyah di Sidogiri merupakan wadah untuk mengasah dan melahirkan bakat para santri. Mulai dari jamiyah yang fokus pada khithabah (orasi) di atas panggung, hingga seni sastra dan perfilman. Seluruh kegiatan ekstrakurikuler di Pondok Pesantren Sidogiri ini berada di bawah koordinasi Pengurus Pusat Ikatan Santri Sidogiri (PP-ISS).

Kembali pada rentetan acara evaluasi Jamiyah Dufuf, proses seleksi peserta sempat mengalami penundaan jadwal. Pelaksanaan yang awalnya direncanakan pada 16 Shafar 1448 H, ternyata mundur ke hari Jumat, 23 Shafar 1448 H.
“Saat itu banyak kendala, salah satunya kesiapan peserta yang masih belum cukup. Akhirnya dialihkan ke hari Jumat selanjutnya dan diadakan dalam dua sesi, yakni malam dan siang hari,” tuturnya.
Namun, keterlambatan jadwal ini terbayar tuntas saat hari H tiba. Momen satu hari sebelum acara memang sempat diwarnai beberapa masalah, tetapi hal itu tak melunturkan semangat panitia dan pengurus. Panitia bertekad kuat agar tidak mengulang kesalahan di tahun sebelumnya.

Fajar mengungkapkan bahwa pihak panitia dan pengurus sebenarnya telah mengonfirmasi berbagai pihak yang bekerja sama jauh sebelum waktu pelaksanaan. Namun, seperti dinamika lapangan pada umumnya, selalu ada masalah yang tak terduga. Ketika waktu acara sudah sangat dekat, kendala kembali muncul, kali ini masalah tim FOH (Front of House) dalam menyiapkan sound system.
Fajar yang saat itu berlari bolak-balik, meneriaki krunya melalui walkie-talkie, benar-benar memeras peluh hingga acara siap dimulai.
Baca juga: Gelar Kelas Menulis Lanjutan: Tips Menyusun Buku yang Menarik dan Komunikatif
Acara pun berjalan. Kerumunan santri yang baru selesai dibaiyah di Masjid Jami Sidogiri berbondong-bondong memenuhi halaman, gerbang, hingga lantai atas gedung. Tiga juri melangkah masuk dan memperhatikan secara seksama setiap penampilan.
Fajar menjelaskan bahwa panitia telah mengundang tiga juri berpengalaman di dunia al-Banjari: Ustadz Januar Eka Putra (vokalis grup hadrah al-Banjari al-Barokah Pasuruan) sebagai juri vokal, Ustadz Muhammad Munawirul Makin (vokalis Majelis Ahbabul Musthofa) sebagai juri adab, serta Ustadz Fatkhur Rohman, atau yang akrab disapa Cak Kacong sebagai juri musik.

Di tengah riuhnya acara, ada satu hal yang terasa janggal. Salah satu penampilan tradisi pesantren khas Madura, yaitu al-Manduri, batal ditampilkan karena minimnya peserta yang mendaftar. Padahal, Fajar menjelaskan bahwa rebana dan pelantunan shalawat dengan tabuhan khas pesisir Madura ini termasuk salah satu sajian yang paling dinantikan.
“Hal ini disebabkan oleh ketidaksiapan peserta dan minimnya pendaftar pada kategori ini. Namun, kami akan berusaha sebaik mungkin pada semester selanjutnya agar hadrah ini bisa tampil dan menyuguhkan pertunjukan yang memukau,” ujarnya.

Meski tanpa al-Manduri, variasi pertunjukan lain seperti al-Banjari, Darbuka, hingga hadrah ISHARI sukses memantik decak kagum dan riuh tepuk tangan para santri.
Baca juga: Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri Siapkan Layanan Libur Maulid 1448 H
Untuk peserta yang mengikuti evaluasi kali ini terbagi menjadi sepuluh grup, yaitu empat grup dari tingkatan pemula, tiga dari tingkatan sedang, dua dari tingkatan mahir, serta satu grup Terbang Sidogirian dari Urusan Olahraga dan Seni (UOS).
Setiap peserta tampil maksimal, termasuk grup Terbang Sidogirian dari UOS. Grup ekstrakurikuler ini menyedot perhatian penonton lewat permainan rebana yang ciamik dan perpaduan suara vokal yang apik, hingga memancing sorakan gemuruh dari para santri.

Setelah seluruh rangkaian acara usai, Fajar beserta seluruh panitia akhirnya bisa bernapas lega. Acara berjalan lancar, kendati ada sedikit keterlambatan dari rundown yang tak terhindarkan. Fajar berharap pelaksanaan evaluasi kali ini dapat menuai sukses yang lebih besar pada semester berikutnya.
Penulis: Nijaful Ali
Editor: Elmaghroby












