BeritaUnggulan

Haul KH. Siradjul Millah Waddin dan KH. Syaukat Siradj, Habib Umar Assegaf Tekankan Pentingnya Bekal Akhirat

Haul ke-39 Almaghfurlah KH. Siradjul Millah Waddin dan Haul ke-4 Almaghfurlah KH. Abdullah Syaukat Siradj digelar di kediaman Almaghfurlah KH. Abdullah Syaukat Siradj, Ngempit, Kraton, Pasuruan, pada Ahad malam (31/08). Acara yang terbuka untuk umum tersebut menghadirkan Habib Umar bin Muhammad Assegaf untuk menyampaikan mauizah hasanah.

Potret pembacaan Qasidah Burdah oleh Ustadz Abdulloh Hamim

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan maulid Simthud-Dhurar yang dipimpin oleh al-Habib Ahmad al-Habsyi bersama kedua putranya dan tim Terbang Sidogirian. Suasana semakin khidmat ketika tim Terbang Sidogirian melantunkan syair kerinduan kepada Almaghfurlah KH. Abdullah Syaukat Siradj.

Fokus: salah satu anggota tim Terbang Sidogirian sedang fokus mengiringi shalawat dengan tabuhannya
Lantunan shalawat oleh bagian vokal tim Terbang Sidogirian

Tanpa iringan tabuhan terbang, lantunan syair tersebut menggema di kediaman beliau. Suasana hening seakan membawa para hadirin larut dalam kerinduan terhadap sosok Almaghfurlah. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Yasin dan tahlil yang dipimpin oleh Ustadz Yasin Abdul Karim.

Suasana pembacaan Yasin dan tahlil oleh Ustadz Yasin Abdul Karim

Habib Umar bin Muhammad Assegaf, saat menyampaikan mauizah hasanah mengenai kehidupan setelah kematian serta pentingnya mempersiapkan bekal untuk menghadap Allah.

Di saat semua menyimak mauizah, potret salah satu kru multimedia

Dalam ceramahnya, dai asal Pasuruan tersebut menjelaskan bahwa para nabi dan orang-orang saleh memiliki kehidupan di alam barzakh yang tidak dapat sepenuhnya dijangkau oleh akal manusia. Beliau kemudian mengisahkan keadaan jasad KH. Abdullah Syaukat Siradj yang telah dimakamkan di Pemakaman Ma’la.

Habib Umar bin Muhammad Assegaf sedang memberikan mauizah hasanah kepada para hadirin haul

Menurut penuturannya, ketika jasad KH. Abdullah Syaukat Siradj diangkat setelah beberapa tahun dimakamkan, kondisi jasad beliau masih utuh. Hal tersebut beliau kaitkan dengan firman Allah tentang orang-orang yang gugur di jalan-Nya.

Baca juga: Nuansa Kesufian dalam Kehidupan KH. Noerhasan bin Nawawie

لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya, mereka hidup di sisi Tuhannya dan mendapatkan rezeki.”

Baca juga: Peringatan Maulid Nabi: Hadirkan Kehangatan Cinta kepada Rasulullah

Habib Umar juga mengingatkan keutamaan mengucapkan salam ketika melewati atau memasuki area pemakaman. Beliau membacakan doa yang diajarkan Nabi Muhammad ﷺ:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا أَهْلَ الْقُبُورِ، أَنْتُمْ سَابِقُونَ وَنَحْنُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ

“Semoga keselamatan atas kalian, wahai penghuni kubur. Kalian telah mendahului kami, sedangkan kami, insyaallah, akan menyusul kalian.”

Salah satu foto Habib Umar bersama Habib Musthofa alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Menurut Habib Umar, pengajaran salam tersebut menunjukkan adanya bentuk hubungan antara orang yang masih hidup dengan penghuni kubur. Lantaran itu, ziarah kubur tidak hanya menjadi sarana mengingat kematian, tetapi juga momentum untuk mengambil pelajaran dan mendoakan mereka yang telah mendahului.

Baca juga: Habib Quraisy Tekankan Urgensi Mencintai Nabi dalam Peringatan Maulid

Lebih lanjut, Habib Umar mengingatkan bahwa kehidupan dunia sejatinya terus berlalu, sementara akhirat semakin dekat. Beliau mengutip nasihat Ali bin Abi Thalib yang diriwayatkan oleh al-Bukhari:

اِرْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً، وَارْتَحَلَتِ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً

“Sesungguhnya dunia sedang pergi meninggalkan kita, sedangkan akhirat sedang datang menghampiri kita.”

Foto Mas Siradj putra KH. Abdulloh Syaukat Siradj

Berangkat dari nasihat tersebut, Habib Umar mengajak para hadirin untuk melakukan introspeksi. Menurutnya, seringnya seseorang menghadiri pemakaman dan menyaksikan kematian seharusnya semakin menyadarkan bahwa dirinya pun akan mengalami hal yang sama.

“Karena kita akan jadi seperti mereka, dan kita kelak akan dikubur juga,” tuturnya.

Suasana lokasi haul saat pembacaan Yasin dilaksanakan

Pada bagian akhir ceramah, Habib Umar mengisahkan seseorang yang membeli daging di pasar kemudian menyempatkan diri mengikuti salat jenazah seorang yang saleh. Sesampainya di rumah, ia mendapati daging yang dibelinya tidak kunjung matang meskipun telah dimasak berulang kali.

Baca juga: Launching Logo Milad 290, “Satu Arah dalam Bermanhaj dan Bermazhab”

Kisah tersebut kemudian dibawa kepada para ulama. Dalam penjelasan yang disampaikan Habib Umar, kejadian itu dikaitkan dengan keberkahan mengikuti salat jenazah orang saleh yang menjadi sebab diampuninya dosa. Kisah tersebut menjadi ilustrasi tentang besarnya keberkahan yang dapat diperoleh seseorang melalui kedekatan dengan orang-orang salih.

KH. Hasbulloh Mun’im Kholili, salah satu staf pengajar senior MMU Aliyah Pondok Pesantren Sidogiri

Menutup mauizahnya, Habib Umar menegaskan bahwa kematian merupakan sesuatu yang pasti dan tidak mungkin dihindari. Namun, yang seharusnya menjadi perhatian bukanlah kapan kematian datang, melainkan sejauh mana persiapan seseorang untuk menghadapinya.

“Yang terpenting adalah apa yang kita siapkan di dunia ketika ajal datang mendatangi kita,” pungkas beliau.

Pembacaan doa yang dihaturkan kepada KH. Mas Abdul Adzim Kholili

Rangkaian haul kemudian ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh KH. Mas Abdul Adzim Kholili dan KH. Hasbulloh Mun’im Kholili. Momentum haul tersebut diharapkan tidak berhenti pada mengenang jasa para masyayikh, tetapi juga menjadi sarana meneladani kehidupan mereka serta memperbanyak bekal untuk kehidupan akhirat.

Penulis: Nijaful Ali
Editor: Elmaghroby

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *