Semangat menghafal al-Qur’an tidak selalu berada pada titik yang sama. Ada kalanya menguat, tetapi tidak jarang pula melemah seiring rutinitas dan kesibukan. Oleh sebab itu, Tahfidz al-Qur’an Pondok Pesantren Sidogiri menggelar Motivasi untuk memantik semangat para penghafal al-Qur’an pada malam Ahad (29/08).
Bertempat di Aula Lantai III Sidogiri Corp, kegiatan yang dimulai sekitar pukul 21.00 WIS tersebut diikuti oleh seluruh anggota dan badal Tahfidz al-Qur’an. Ustadz Ahmad Dhofir dihadirkan sebagai narasumber untuk memberikan motivasi sekaligus berbagi pengalaman dalam menghafal dan mengabdi pada al-Qur’an.
Baca juga: Khidmah Saat Libur Maulid: Bahagia Melihat Orang Senang
Acara diawali dengan penyampaian sambutan oleh Ustadz Nailul Marom selaku perwakilan Pengurus Tahfidz al-Qur’an PPS. Beliau memaparkan prosedur kegiatan tahfidz serta hasil tes berkala yang telah dilaksanakan. Selain itu, beliau mengingatkan pentingnya menata kembali niat dalam menghafal al-Qur’an.
“Bagi yang niatnya karena urusan duniawi, mari tata kembali niat kita dalam menghafal,” ajak beliau.
Memasuki sesi motivasi, Ustadz Ahmad Dhofir membuka pemaparannya dengan mengisahkan perjalanan Tahfidz al-Qur’an di Pondok Pesantren Sidogiri. Alumni asal Bondowoso tersebut mengenang masa ketika jumlah anggota tahfidz masih terbatas.
“Awalnya, anggota tahfidz itu cuma dua kamar,” terang beliau.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi pengantar bagi Ustadz Dhofir untuk mengungkapkan rasa syukurnya karena telah ditakdirkan menjadi salah seorang yang mengabdi pada al-Qur’an. Menurutnya, latar belakang seseorang dalam menghafal al-Qur’an bisa beragam. Ada yang memang mencintainya, ada yang sekadar mengikuti orang lain, dan ada pula yang menjalaninya karena terpaksa.
“Ketika kalian suka, maka harus memprioritaskan al-Qur’an sebagai yang pertama dan utama,” imbuh beliau.
Menjadikan al-Qur’an sebagai prioritas, lanjutnya, dapat dimulai dengan menyadari bahwa kemampuan menghafal merupakan anugerah yang sangat berharga. Ia juga mengajak para peserta untuk melihat kemuliaan al-Qur’an yang tidak hanya memberikan manfaat di dunia, tetapi juga menjadi bekal menuju kemuliaan di akhirat.
Ustadz Dhofir turut mengingatkan bahwa usia manusia di dunia sangat singkat jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Sebab itu, waktu yang ada semestinya dimanfaatkan untuk memperbanyak bekal akhirat, salah satunya dengan mendekatkan diri pada al-Qur’an.
“Maksimal umur manusia di dunia itu dua jam di akhirat. Makanya, kita harus betul-betul memanfaatkannya,” ajak beliau.
Selain niat dan prioritas, kualitas bacaan juga menjadi perhatian. Menurutnya, bacaan yang kurang lancar dapat memengaruhi semangat seseorang dalam menghafal maupun mengulang hafalan. Lantran itu, memperbaiki kualitas bacaan menjadi salah satu langkah penting agar proses menghafal terasa lebih ringan.
Lingkungan juga tidak luput dari pembahasan. Ustadz Dhofir menyarankan para anggota tahfidz untuk memilih lingkungan yang positif karena suasana sekitar dapat memberikan pengaruh terhadap semangat menghafal. Namun, apabila berada di lingkungan yang kurang mendukung, kondisi tersebut tetap dapat dijadikan sebagai sarana pembelajaran dan latihan untuk menjaga konsistensi.
Di sela-sela motivasi, Ustadz Dhofir juga mengingatkan persoalan sederhana yang kerap mengganggu aktivitas menghafal, salah satunya rasa kantuk akibat terlalu kenyang. Ia kemudian menyarankan agar hafalan turut diulang dalam salat sebagai salah satu cara menjaga hafalan sekaligus membiasakan diri berinteraksi dengan al-Qur’an.
Baca juga: Launching Logo Milad 290, “Satu Arah dalam Bermanhaj dan Bermazhab”
Meski pada awalnya terasa berat, kebiasaan tersebut dapat menjadi ringan apabila dilakukan secara konsisten. Menurutnya, keberhasilan dalam menghafal sangat berkaitan dengan kesungguhan seseorang dalam menentukan dan mengejar target.
“Intinya, tergantung dari seberapa besar target kalian. Insyaallah membuahkan hasil,” tambah beliau.
Menutup pemaparannya, Ustadz Dhofir berpesan kepada seluruh anggota Tahfidz al-Qur’an agar tidak melupakan predikat sebagai penghafal al-Qur’an. Motivasi yang diperoleh dalam kegiatan tersebut hendaknya tidak berhenti sebagai semangat sesaat, tetapi dilanjutkan dengan praktik dalam keseharian.
Melalui kegiatan Motivasi ini, Tahfidz al-Qur’an Pondok Pesantren Sidogiri berharap para anggota semakin mampu menjaga semangat, memperkuat hafalan, serta menjadikan al-Qur’an sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mereka.
Penulis: Muhammad Fajar
Editor: Elmaghroby












