Pembagian Hadiah Madinah Pada Penutupan Annajah
Feb22

Pembagian Hadiah Madinah Pada Penutupan Annajah

Malam Ahad (22/02) Annajah Tsanawiyah menutup kegiatan Annajah yang telah dilaksanakan semala satu tahun. Bertempat di gedung As-Syuyuthi, acara ini dihadiri oleh seluruh murid MMU Tsanawiyah. Tujuan acara ini adalah untuk memotifasi murid Tsanawiyah agar senantiasa memantapkan dan berpegang teguh pada akidah Ahlusunah wal Jamaah. Diundang sebagai narasumber adalah Ust. Dairobi Naji, Dewan Pakar Aswaja dan redaktur Sidogiri Media. Menurut pemaparan Ust. Dairobi, salah satu tujuan mondok adalah untuk memperkuat akidah yang sesuai dengan ajaran Ahlusunah wal Jamaah, agar tidak terpengaruh oleh aliran-aliran lain yang tidak sesuai dengan ideologi Ahlusunah wal Jamaah. Acara dimulai dengan pembacaan shalawat oleh tim dufuf sidogiri, kemudian di pertengahan acara, Majalah Dinding (Mading) Madinah (Singkatan dari Majalah Dinding Annajah. Mading ini dikelola oleh Annajah Tsanawiyah Sidogiri dengan selogan Bentengnya Ahlusunah wal Jamaah, terbit 2 kali setiap bulan) memberikan hadiah bagi para pemenang sayembara menulis artikel yang diadakan Madinah. Pemenang sayembara tersebut nantinya akan dilantik menjadi redaksi Mading Detik Madinah pada akhir tahun ajaran yang terbit selama sembilan hari. Kanzul...

Selengkapnya
Orientasi Insan Pers BPP Datangkan Sastrawan Nasional dari Madura
Feb13

Orientasi Insan Pers BPP Datangkan Sastrawan Nasional dari Madura

Kiai M. Faizi, sastrawan Nasiolan dari pulau Madura, ketika menjelaskan teori kepenulisan esai Sudah menjadi agenda Badan Pers Pesantren (BPP) untuk mengadakan Orientasi Insan Pers di setiap semester. Pada semester pertama, BPP mendatangkan Mashuri M.A peneliti sastra di Balai Bahasa Jawa Timur dan apresiator cerpen majalah Ijtihad untuk membahas tentang cerpen. Pada semester kedua ini, BPP mengundang Kiai M. Faizi, sastrawan Nasiolan dari pulau Madura, untuk membahas mengenai esai, dengan tema “Teori Kepenulisan Esai”. Laporan: Moh. Kanzul Hikam Malam Kamis (12/02) ruang auditorium sekretariat lantai II dipadati oleh seluruh redaksi media Pondok Pesantren Sidogiri, guna mengikuti Orientasi Insan Pers yang diadakan oleh BPP. Pada acara yang membahas tentang esai tersebut, pengurus BPP mengundang Kiai M. Faizi, pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah, daerah Al-Furqaan Sabajarin, Guluk-guluk, Sumenep. Kiai kelahiran 27 Juli 1975 ini tiba di Pondok Pesantren Sidogiri pukul 08:30 WIS. Sebelum acara dimulai beliau sempat beristirahat di ruang lobi sekretariat. Pada acara dimaksud, beliau memberikan materi tentang teori kepenulisan esai, yang dibagikan secara gratis oleh BPP. Suasana ruang auditorium ketika acara berlangsung Acara dimulai sekitar pukul 09:20 WIS. Mengenai esai, beliau menyampaikan, bahwa dalam kepenulisan esai, ada dua poin yang harus diperhatikan. Pertama, segmen pembaca. Kedua, cara pengambilan sudut pandang yang berbeda dari yang biasanya. “Jika orang lain biasa melihat sesuatu dari depan, maka kita harus mencari sudut pandang lain yang menarik, semisal dari atas,” papar beliau, memberikan contoh pengambilan sudut pandang yang berbeda. Beliau juga bercerita tentang pengalaman beliau ketika mengikuti lomba tingkat nasional. “Saya pernah ikut lomba menulis cerita anak-anak tingkat nasional. Ketika itu karya saya mendapat juara pertama. Tapi sebelum itu, ada salah satu juri yang menyangsikan karya saya tersebut, karena dalam karya tersebut saya mencantumkan cerita mahasiswa yang sedang membuat skripsi. Jelas ini tidak bisa dipahami oleh anak-anak, karena mereka tidak tahu apa itu skripsi. Untungnya ada juri yang mmempertahankan karya saya tersebut sehingga bisa mendapat juara pertama,” cerita Kiai yang pernah menghadiri beberapa kegiatan sastra nasional dan internasional ini panjang lebar. Dari cerita beliau di atas, dapat dipahami bahwa kita harus memperhatikan segmen pembaca dari tulisan kita agar dapat dipahami, utamanya esai. Acara berakhir pukul 11:00 WIS. Sebelum acara ditutup, pengurus BPP memberikan cindera mata kepada beliau yang diwakili oleh Ust. Ahmad Rizqon, wakil I BPP dan di bantu oleh Ust. Nuris Shalihin Damiri, wakil II BPP. Baca juga: Mashuri; Seharusnya Santri Itu Bisa...

Selengkapnya
Pelantikan Redaksional Kabar Ikhtibar Milad ke-283
Feb05

Pelantikan Redaksional Kabar Ikhtibar Milad ke-283

Koran Harian Kabar Ikhtibar adalah media Pondok Pesantren Sidogiri yang terbit di setiap akhir tahun ajaran. Koran ini terbit setiap hari selama delapan hari untuk mempublikasikan kegiatan milad Pondok Pesantren Sidogiri, baik pra acara, pasca acara dan hari dimana milad itu dirayakan. Untuk itu pada Selasa (04/02), sebagai instansi yang menaungi seluruh media Pondok Pesantren Sidogiri pengurus Badan Pers Pesantren (BPP) melantik beberapa redaksi dan direksi untuk mensukseskan penerbitan koran tersebut. Laporan: Moh. Kanzul Hikam Selasa sore (04/02) pengurus BPP telah melantik kerabat khidmah Koran Harian Kabar Ikhtibar. Bertempat di kantor BPP, acara ini dihadiri oleh wakil I BPP, Ust. Ahmad Rizqon, wakil II BPP, Ust. Nuris Shalihin, TU BPP, Ust. Sabiq Ni’am dan beberapa anggota kerabat khidmah Kabar Ikhtibar yang berjumlah 18 orang. Mengenai koran yang terbit setiap akhir tahun ini, Ust. Ahmad Rizqon, wakil I BPP menjelaskan bahwa di setiap akhir tahun acara yang dilaksanakan Sidogiri hampir semuanya sama, seperti khitan masal, baksos, donor darah dan semacamnya. Beliau menghimbau kepada segenap redaksi agar sebisa mungkin melakukan inovasi terhadap berita yang akan disajikan, agar tidak monoton seperti tahun-tahun sebelumnya. Demikian juga dengan ketaatan redaksi terhadap deadline, karena jika terlambat, tentu akan menghambat penerbitan koran yang asalnya pagi bisa jadi agak siang, sebelum dzuhur. Pria asal Jember ini juga mengharapkan totalitas dari seluruh kerabat khidmah Kabar Ikhtibar dalam menjalankan tugasnya, karena seluruh kegiatan seperti sekolah, musyawarah dan lainnya pada akhir tahun sudah diliburkan. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak melaksanakan tugasnya karena sebagian besar kegiatan telah libur. “Saya sangat mengharap totalitas dari semua kerabat khidmah Kabar Ikhtibar, karena semua kegiatan di Sidogiri pada akhir tahun sudah libur,” ungkap sekred Sidogiri Media ini. Baca juga: Gus Baha; Kebenaran Tidak Bisa Ditinggalkan Hanya Karena Ada...

Selengkapnya
Bahas Uzlah, Kuliah Syariah Datangkan Penulis buku Sufi Berduit
Feb02

Bahas Uzlah, Kuliah Syariah Datangkan Penulis buku Sufi Berduit

Ust. Dairobi Naji (kanan) dan Ust. Ahyat Ahmad (kiri) pada acara Diskusi Panel Kuliah Syariah Malam Ahad (01/02) Kuliah Syariah melalui Lembaga Penelitian Studi Islam (LPSI) kembali menggelar diskusi panel. Acara bertempat di aula Sidogiri Excellent Corp (SEC) lantai III dengan tema “Uzlah di Zaman Ini, Mungkinkah?”. Diundang sebagai pemateri dalam diskusi panel kali ini adalah Ust. Dairobi Naji, penulis buku “Sufi Berduit” dan Ust. Achyat Ahmat, Direktur Annajah Center Sidogiri (ACS). Acara ini dihadiri oleh seluruh anggota Kuliah Syariah. Suasana Diskusi Panel pada malam Ahad (01/02) Secara etimologi uzlah berarti menghindar dari sesuatu. Secara terminologi uzlah adalah membebaskan diri dari masyarakat menuju kahadirat Allah SWT.  Urgensitas uzlah dalam proses sulûk dapat dilihat dari manfaat yang diberikan pada setiap orang yang menjalankannya. Terbebasnya seseorang dari berbagai kesibukan duniawi menjadi kesempatan untuk mendedikasikan diri dan seluruh waktunya untuk beribadah secara total. Baca juga: Ulama Sufi dan Cendekiawan se-Dunia Kunjungi Sidogiri Nabi Muhammad SAW sendiri sebelum dilantik menjadi Nabi, sering menyepi di gua Hira`. Demikian juga, banyak para tokoh sufi yang cepat mencapai derajat kewalian melalui uzlah. Ibnu Athaillah juga lebih menekankan uzlah sebagai sarana yang paling efisien untuk menyatukan pikiran dengan Allah SWT, sehingga seorang sâlik dapat all out dalam beribadah. Ust. Dairobi, penulis buku Sufi Berduit, ketika menjelaskan materi di depan para peserta Mengenai uzlah di zaman sekarang ini, menurut Ust. Dairobi hal itu sangatlah mungkin, karena uzlah itu tidak harus menghindar dari keramaian, uzlah tidak harus pergi ke-gua. Sekalipun kita berada di tengah keramaian kita tetap bisa ber-uzlah dengan cara menjaga hati dari radzail (penyakit hati yang dapat menjadikan karakter yang hina dan merendahkan martabat) serta menyetel hati kita untuk selalu bertakarub pada Allah. “Uzlah itu gak harus ke gua, asal bisa menghilangkan radzail itu sudah uzlah,” jelas Ust. Dairobi Naji. Demikian juga dianggap uzlah ketika seseorang mengalihkan pandangan dari maksiat yang telah menjamur di zaman sekarang. Moh. Kanzul...

Selengkapnya
Gus Baha: Kebenaran Tidak Bisa Ditinggalkan Hanya Karena Ada Kebatilan
Jan30

Gus Baha: Kebenaran Tidak Bisa Ditinggalkan Hanya Karena Ada Kebatilan

Untuk kesekian kalinya KH. Ahmad Bahauddin Nur Salim kembali mengisi kajian tafsir di Pondok Pesantren Sidogiri pada malam Kamis (29/01). Bertempat di ruang auditorium sekretariat lantai II, acara ini dihadiri oleh keluarga muda Pondok Pesantren Sidogiri. Pada kajian kali ini beliau menjelaskan mengenai metode penafsiran Syekh Izzuddin bin Abdissalam yang memunculkan kaedah “لايترك الحق لاجل الباطل” “Kebenaran Tidak Bisa Ditinggalkan Hanya Karena Ada Kebatilan”. Kaedah ini timbul ketika Syekh Izzuddin mengkaji ayat: ۞ إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa bukit Shafa dan Marwah merupakan bagian dari syi’ar ibadah untuk sa’i pada ibadah umrah dan haji. Maka barangsiapa yang menuju Baitul Haram untuk menunaikan haji atau umrah maka tidak mengapa bahkan wajib baginya untuk melakukan sa’i antara bukit Shafa dan Marwah, meski orang-orang musyrik juga sedang sa’i dan mendekatkan diri kepada berhala-berhala mereka di sana. Menurut beliau ayat ini menjelaskan jika ada ada perkara hak yang bercampur aduk dengan perkara batil maka perkara hak itu tidak bisa ditinggalkan karena adanya perkara batil itu. Buktinya Allah tetap memerintahkan kita untuk melakukan sa’i di Shafa dan Marwah sekalipun di sana terdapat kemunkaran, yakni orang-orang musyrik juga sedang sa’i dan mendekatkan diri kepada berhala-berhala mereka di sana, sehingga menimbulkan kaedah hukum yang telah disebutkan. Hal ini juga dibuktikan ketika Rasulullah thawaf di ka’bah yang ketika itu masih dikuasai oleh Kafir Qurasy, tentu di sana masih ada banyak berhala yang disembah oleh penduduk Qurasy. Tapi Nabi tetap melaksanakan thawaf sekalipun di sana terdapat kemungkaran. Dari sinilah Syekh Izzuddin menyimpulkan bahwa kebenaran tidak bisa ditinggalkan hanya karena ada kebatilan. Baca juga: Tutorial Aplikasi Wali Santri Demikian pula ketika Nabi hendak melaksanakan perang, yang mana hukum berjihad ketika itu adalah wajib. Ketika demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa di dalam pasukan yang ikut berperang bersama Nabi pasti terdapat orang fasiq dan fajir, sedangkan berkumpul bersama dengan orang demikian termasuk maksiat. Seandainya Nabi menentukan kriteria pasukan yang hendak berperang bersama beliau (untuk menghindari maksiat), mungkin sangat sedikit pasukan yang ikut bersama Rasulullah, karena tidak semua shahabat itu seadil Abu Bakar dan Umar. Baca juga: NKRI Menurut Habib Mohammad Baharun Hal ini berbeda dengan keterangan yang ada di dalam Fathul Mu’in. Di dalam Fathul Mu’in dijelaskan bahwa melaksanakan haji hukumnya adalah wajib, namun ketika di sana ada kebatilan (kemunkaran) maka hukumnya menjadi tidak wajib. Begitu juga dengan keterangan Imam Baijuri dalam kitabnya al-Baijuri. Jika diputuskan hukum demikian, menurut Gus Baha, mungkin tidak akan ada yang melakukan haji, karena dalam proses pendaftaran, pemberangkatan hingga prosesi haji itu sendiri pasti ada kemunkaran, padahal haji itu wajib....

Selengkapnya