Lapangan Utama Milad Sidogiri 281 Masih Mengkhawatirkan

share to

Gus Faqih, Wakil Ketua Milad Menyampaikan Beberapa Hal Terkait kegiatan Milad

Perayaan akbar Milad Sidogiri dan Ikhtibar Madarasah Miftahul Ulum (MMU) kian dekat. Otak-atik persiapan sudah menemui performa. Dengan tempat baru, tentunya ada sensasi berbeda dibandingkan tahun sebelumnya.

Gus Faqih, Wakil Ketua Milad menyatakan, bahwa saat ini persiapan Milad sudah mencapai 60%, hal tersebut dilihat dari kesiapan panitia dari 4 divisi, seksi acara, akomodasi, kreatif dan elektro.

“Tahun sekarang dengan tahun kemarin berbeda. Konsep tahun kemarin bisa menjiplak tahun sebelumnya, tahun ini memang formulasinya baru dan dari panitia semua,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Kepala Ubudiyah ini.

Kegiatan percobaan 4 divisi itu digalakkan pada acara PHBI (Peringatan Hari Besar Islam) Isra’ Mikraj pada malam Sabtu (27/07) yang lalu. Santri asal Pasuruan ini juga mengatakan perihal gambaran kecil dari Milad yang akan di back-up dalam acara tersebut. Melihat dari tempat acara yang masih belum bisa dikondisikan, saat ini panitia bergerak dalam perbaikan tempat acara.

“Untuk lapangan belum steril, apalagi ketika hujan. Bisa jadi ketika hari inti lapangan tidak bisa digunakan,” Ujarnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut pengurus harian memberikan tiga opsi kepada panitia, dipaving, diberi urukan pasir atau ditimbun dengan pastu (pasir berbatu) di titik tertentu. Hal ini masih belum ada keputusan pasti dari panitia karena terkendala dengan uang operasional.

“Awalnya, solusi untuk itu adalah olahraga santri dipusatkan di selatan. Minimal tanah akan mengeras karena seringnya diinjak, kenyataannya hal tersebut masih dianggap kurang. Opsi yang lain adalah dipaving, diuruk dan ditimbun dengan pastu. Tapi opsi ini masih menyulitkan panitia, mengingat jika dipaving butuh biaya 300 jt, jika diuruk 135 jt dan yang terakhir pastu bisa 100 jt lebih, ini yang menuai perdebatan,” kata salah satu staf pengajar MMU Tsanawiyah ini.

Sementara itu, untuk mengantisipasi robohnya panggung utama, karena tidak adanya dinding penghalang (pagar) seperti tahun kemarin, panitia akan menerapkan sistem buka tutup terpal atap panggung karena hal tersebut yang menjadikan panggung bergerak.

“Untuk tampilan pentas, kami biarkan berlubang di sisi depan, dan di belakang akan ada pemasangan terpal yang menjulang ke atas, jadi larinya angin akan ke atas,” ungkap Gus Faqih, ketika di temui di Perpustakaan.

====
Penulis: M. Afifurrohman
Editor  : Isom Rusydi

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Chat WA dengan kami