Membaca Sidogiri Dulu, Mengenang Indonesia Masa Lalu

share to

Petasan: Malam penuh kebahagiaan di acara milad sidogiri ke 281 dan Ikhtibar Madrasah Miftahul Ulum ke 82.

Usai tirai terbuka, terdengarlah lagu Indonesia Raya. Saat itulah, penonton kaget lantaran melihat tampilan panggung yang sangat kontras dengan panggung yang pernah mereka lihat kemarin malam. Tepatnya, ketika acara Ust. Abdul Somad. Hal ini sengaja dilakukan oleh Tim Kreatif Milad agar memberi surprise.

“Setelah acara UAS (Ust. Abdul Somad, red) kami dari Tim Kreatif langsung meluncur ke lapangan untuk mengobrak-abrik pentas. Kami mempersiapkan panggung dan hal yang terkait dengan acara pembukaan Milad 281 ini tidak sampai satu hari. Dan, alhamdulillah, hal itu bisa efisien.” Ujar Ust. Rozeq Mutrofin, ketua seksi kreatif.

Beberapa atraksi live bawaan Fikri Hamdani pun bermunculan membuka Opening Action Milad PPS ke-280. Kemudian, layar mulai bermain. Dimulai dengan pengenalan simbol bendera pada logo Milad. Audien pun terhibur dengan adanya penampilan bayangan di balik layar. Ditambah lagi dengan video yang berkaitan dengan tema. Sontak, gemuruh tepuk-tangan mewarnai langit Sidogiri.

“Santri itu harus lâ yamîlu yumnatan walâ yusratan, tidak boleh terlalu beragama sehingga melupakan bernegara layaknya HTI (Hizbut Tahrir Indonesia, red). Begitu pula, tidak boleh terlalu bernegara sehingga tidak beragama, seperti kaum liberalis.” Begitulah cuplikan salah satu video dokumenter Milad.

Suasana lantas senyap kembali, saat Yamin membacakan puisi adikarya Ust. Ali Wafa Yasin di tengah-tengah panggung. Acara bergemuruh kembali saat puluhan aktor memainkan drama di atas panggung.

Sebelum peresmian, sunyi termakan suara mars Sidogiri. Dan, yang terakhir, santri diajak bernostalgia dengan lantunan Sidogiri Mahjari. Tentunya, dengan cara yang baru. Hal ini langsung ditangani oleh Ust. Zakariya selaku ketua seksi acara.

“Saya usahakan, gimana sekiranya santri bisa mengenag Sidogiri masa lalu. Sebab, dengan mengetahui waktu lampau, otomatis kita bisa tahu ciri khas sebanarnya dari Sidogiri.” Ujar Ust. Zakaria selaku seksi acara.

Penonton kembali tenang, setelah beberapa saat telinga mereka dipekakan oleh “bom-bardir” kembang-api, dengan hmyne khas Milad 281. Hal ini lagi-lagi dibawahi oleh Fikri Hamdani.

Baru setelah satu jam lebih acara berjalan, MC menampakkan wajahnya untuk menggiring acara berikutnya. Tentunya, dibuka dengan al-Fatihah. Lalu, sambutan dari pengurus dan panitia inti. Kemudian, acara inti, mau’îdzatul-hasanah dari Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf.

Sebelum berdoa, beliau berpesan kepada semua penonton agar menjadi santri yang beragama, berbangsa dan bernegara. “Selain menjadi santri yang beragama, kita pun harus berbangsa dan bernegara. Karena yang melahirkan negara kita adalah ulama. Bisa dikata, kita kalau beragama, harus berbangsa dan bernegara.” Pesan beliau yang bisa kami tangkap. [Kabar Ikhtibar]

=====

Reporter: Muhammad ibnu Romli
Editor: Ali Imron

 

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net