Ust. Abd. Somad; Manajemen Waktu Santri Seperti TNI

share to

Cengkrama: Ust. Abd. Somad bersama KH. Ahmad Nawawi Abdul Jalil (Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri), di kediaman pengasuh PPS.

Orang dulu sangat suka memasukkan anak-anaknya ke pesantren. Mereka berpikir bahwa santri (orang pesantren) akan menjadi orang mulia dan naik derajatnya dengan ilmu agama. Tapi, saat ini orang-orang sudah terjebak dalam materalistis: mereka menganggap bahwa orang yang masuk pesantren akan menamatkan karirnya sendiri. Langsung innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Ini terbukti, jika seseorang punya anak tiga, maka yang paling cerdas dimasukkan ke sekolah formal: belajar fisika, kimia, matematika, sedangkan anak yang paling bandel, bodoh, dan paling goblok dimasukkan ke pesantren. Ini terbalik! Rusak cara berpikirnya, padahal di pesantren pelajaran yang mesti dikaji dan dipelajari jauh lebih banyak. Kalau anak yang bodoh di masukkan pesantren, bisa eror nanti otaknya. Seharusnya, anak yang paling cerdas itu yang dimondokkan. Jika bisa begitu, akhirnya otak anak itu bisa penuh kitab. Alim tuh anak. Seperti ketika saya ke Malaysia kemarin. Orang-orang di sana bilang, “Kami Aswaja, dulu pernah mengundang orang Indonesia untuk berdebat. Namanya, Kiai Idrus Ramli.”

Terus terang, lama saya belajar kepada dia. Dari buku-bukunya, saya download saya baca saya pelajari. Hanya satu yang tidak bisa saya ikuti, emosinya. Orang yang berdebat itu, kalau sudah marah bahannya ilang. Adanya marah-marah. Tapi, lihat Kiai Idrus Ramli bisa santai, tersenyum, dan tenang. Hal itu sudah saya coba berkali-kali.

Saya tahu matahari tak bisa ditarik lagi, tapi andai masa bisa diundur lagi, andai saya berumur 10 tahun lagi–kalau saya disuruh milih akan melanjutkan kemana, maka akan saya jawab, masukkan aku ke Sidogiri. Agar saya bisa pintar baca kitab, pintar debat, jadi panulis handal, lancar (teratur) berbicara, dan bisa bisnis, supaya tidak butuh pada pantua pemerintah (BOS). Banyak pondok yang berlomba-lomba mencari BOS, di sini malah menolak. Kenapa bisa begitu, karena di sini mandiri, dan dari kemandirian itulah datan barakah-barakah.

Gara-gara BOS, banyak sekolah-sekolah yang menyediakan makanan, pakaian disetrikakan, akhirnya anak ini cerdas, pintar tapi sayang tidak bisa hidup mandiri. Banyak yang ketika pulang, ngangkat tangan untuk makan (ngambil piring) saja tidak bisa, password tiga huruf: mak (minta bantuan ibu). Apa artinya punya ilmu banyak, otak cerdas tapi tak ada sopan santun di sana. Padahal, orang yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya. Di sinilah kita bisa hidup mandiri, bisa mengatur waktu dengan mapan. Di sini waktu benar-benar luar biasa. Ketika di sini, saya seperti menjadi tentara: ustadz datang, duduk di sini, jam sekian kita akan mudzakarah. Setelah ini, kita makan, dan seterusnya.

=====

Penulis: Ali Imron
Editor: Ahmad Rizqon
Sumber Data: Ceramah Ust. Abd. Somad, Kabar Ihktibar.

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net