KH. NOERHASAN BIN NOERKHOTIM KIAI KHUMUL BERDARAH MADURA (Bagian I)

share to

Keturunan Kiai Asror Bangkalan

Betapa penting mengetahui sejarah, terutama sejarah orang-orang yang banyak berjasa terhadap kita. Sebut saja KH Noerhasan bin Noerkhotim, sosok ulama besar akhir Abad 18 yang banyak menorehkan jasa terhadap Pondok Pesantren Sidogiri khususnya, dan terhadap perkembangan ilmu agama di Jawa Timur pada umumnya. Dengan mengetahui sejarah, kita dapat mengambil hikmah darinya. Ia merupakan cerminan masa lampau yang dapat diproyeksikan pada masa sekarang, untuk menentukan langkah, memilih sikap serta hal-hal penting lainnya.

Perseteruan dengan Penguasa Madura

Pada awal abad 18, kira-kira setelah Sayid Sulaiman menyelesaikan separuh pejuangannya di Sidogiri, di pulau seberang sedang terjadi perseteruan sengit antara Kiai Asror, cucu Sayid Sulaiman dengan Pangeran Cakraningrat IV (1718 – 1745 M), Penguasa Madura saat itu,—walau sebenarnya berada di bawah bayang-bayang kekuasaan Belanda. (Dalam sejarah Madura, sebutan Madura meliputi wilayah Sampang dan Bangkalan, sedangkan Pamekasan dan Sumenep disebut dengan nama tersendiri).

Kiai Asror yang akrab dipanggil Bujuk Langgundi kelak menurunkan Kiai Noerhasan Noerkhotim, pengasuh PPS Sidogiri Kraton Pasuruan, salah satu cucunya dari jalur Kiai Noerkhotim bin Asror. Kalau menurut urutan silsilah, Kiai Asor adalah putra Sayid Abdullah bin Sayid Sulaiman bin Sayid Abdurrahman bin Sayid Umar bin Sayid Muhammad bin Sayid Ahmad/Abd Wahab bin Sayid Abu Bakar Basyaiban. Menurut garis keturunan tersebut, Kiai Asror termasuk salah seorang keturunan sayid yang bergelar Basyaiban. Namun demikian, ia lebih memilih hidup khumûl (low profile), tanpa atribut khusus keturunan Rasulullah SAW.

Mula-mula Kiai Asror tinggal di tepian pantai laut Madura bagian selatan, tepatnya di sebuah daerah yang kemudian dikenal dengan daerah Keramat (sekarang kampung Keramat termasuk wilayah desa Ujung Piring, kecamatan Bangkalan, kabupaten Bangkalan).

Kiai Asror adalah seorang kiai yang tegas dan teguh pendirian. Apa yang dianggapnya bertentangan dengan Syariat, dengan tegas beliau menentangnya. Tidak pandang sekalipun yang dihadapinya adalah seorang raja. Kiai Asror adalah ulama yang paling lantang menolak kebijakan Pengeran Cakraningrat IV, yakni perintah untuk menghadap dan menyembahnya. Kiai Asror berkeyakinan bahwa tiada yang pantas disembah selain Allah SWT. Lâ ma‘bûda bi haqqin illallâh. Ia beranggapan bahwa penyembahan terhadap raja merupakan bentuk kesyirikan terhadap Sang Khaliq. Sementara pihak raja berkeyakinan bahwa bentuk penyembahan terhadap raja tidak bisa disamakan dengan penyembahan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Perbedaan prinsipil ini lambat laun menjadi perseteruan hebat. Kiai Asror yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah tetap bersikukuh dengan keyakinannya. Beliau tidak mau mengahadap raja dengan alasan apapun, bahkan tidak mau menyebut Pangeran Cakraningrat IV dengan sebutan “pangeran”.

Sudah jelas sikap keras Kiai Asror membuat raja murka. Keyakinan Kiai Asror yang mendapat banyak simpati dari rakyat Muslim membuat kemarahan raja semakin menyalanyala. Nampaknya Pangeran Cakraningrat IV khawatir dengan wibawa dan posisinya sebagai raja. Untuk memenuhi amarahnya, Cakraningrat segera memerintah tentaranya untuk mengenyahkan Kiai Asror dan semua keluarganya dari Pulau Madura. Namun rencana itu sudah diketahui oleh Kiai Asror. Ia dan seluruh keluarganya segera pergi meninggalkan Pulau Madura untuk menghindari pertumpahan darah.

Pasca pengusiran itu, Kiai Asror terpisah dengan sebagian keluarganya. Setelah menempuh pelayaran yang melelahkan Kiai Asror merapatkan perahunya di Pulau Jawa. Sedangkan keluarga yang lain di antaranya ada yang melarikan diri ke Pulau Kalimantan dan pulau-pulau lainnya.

Di tempat pelarian, Kiai Asror malang melintang hingga kemudian sampai di sebuah tempat bernama Tanjung Anom. Tanjung Anom adalah sebuah desa di wilayah Sepanjang Sidoarjo. Sekarang Tanjung Anom mengecil menjadi beberapa desa, yaitu desa Tanjung Anom sendiri, desa Tanjung Sari, dan desa Kedung Madura yang termasuk wilayah kecamatan Taman kabupaten Sidoarjo.

Menurunkan KH Noerkhotim Asror

Di tempat pelarian, Kiai Asror membina kembali kehidupan keluarganya yang sempat tercerai-berai pasca pengusiran Cakraningrat IV. Diperkirakan sebelum tragedi pengusiran itu, di Bangkalan Kiai Asror mempunyai keturunan, yaitu Kiai Muhyiddin, Kiai Asyiq, istri Kiai Abbas, istri Kiai Anshar, dan istri Kiai Hamim.

Setelah beberapa lama tinggal di Tanjung Anom, Kiai Asror mempunyai dua putra, yaitu Kiai Umar dan Kiai Noerkhotim. Kiai Noerkhotim adalah putra Kiai Asror yang lahir terakhir kali, sehingga ia diberi nama Noerkhotim yang berarti cahaya pamungkas. Kiai Noerkhotim inilah yang kelak mempunyai putra KH Noerhasan, pengasuh PP Sidogiri.

Pada perkembangannya, tidak ditemukan keterangan yang jelas mengenai di mana Kiai Noerkhotim bertempat tinggal. Ada yang meyakini beliau bertempat tinggal di Tanjung Anom Sidoarjo, karena putranya yang bernama Kiai Yusuf bertempat tinggal serta berketurunan di sana. Keyakinan bahwa Kiai Yusuf bertempat tinggal di Tanjung Anom ini diperkuat dengan ditemukannya sebuah manuskrip (kitab tulisan tangan) milik Kiai Yusuf yang beralamatkan Tanjung Anom dan bertuliskan tahun 1290 H. Ada pula yang mengatakan bahwa Kiai Noerkhotim bertempat tinggal di Sidogiri, hingga berketurunan di Sidogiri, bahkan beliau pernah ikut serta mengajar di sana. Dan sebagian yang lain meyakini beliau berasal dari Bangkalan, Madura.

Dari berbagai riwayat di atas— bila sama-sama benar— dapat ditarik kesimpulan yang saling membenarkan, yakni beliau dilahirkan di Tanjung Anom Sidoarjo; lalu kembali ke tanah leluhurnya, Bangkalan Madura, baru kemudian pindah ke Sidogiri.

Menurunkan Pengasuh Pesantren Besar di Jawa

Dari sekian banyak keturunan Kiai Asror, kini telah banyak yang mengasuh pesantren besar, seperti PPS Sidogiri Pasuruan, salah satu pesantren tua yang berdiri sejak abad ke-18, yakni tahun 1712, atau 1718 atau 1745. Pada tahun 1712 M, dengan memperkirakan perhitungan sejak awal perjuangan pembabatan Sidogiri oleh Sayid Sulaiman. Atau pada tahun 1718 M, dengan memperkirakan pendirian dan pembinaan pesantren oleh Sayid Sulaiman, atau pada tahun 1745 M dengan memperkirakan awal kepemimpinan Kiai Aminullah. Keturunan Kiai Asror yang pertama kali mengasuh pesantren ini adalah cucunya, Kiai Noerhasan bin Noerkhotim bin Asror.

Selain PP Sidogiri, pesantren besar di Pulau Jawa yang diasuh keturunan Kiai Asror adalah PP Salafiah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo (berdiri 1914 M). Keturunan Kiai Asror yang pertama kali mengasuh pesantren ini adalah KHR As’ad Syamsul Arifin, putra dari Nyai Maimunah binti Muhammad Yasin bin Ibrahim bin Asyiq bin Asror. Keturunan Kiai Asror juga mendirikan dan mengasuh banyak pondok pesantren di Bangkalan, yang di antaranya sudah berdiri sebelum abad ke-19, misalnya PP Syaikhona Cholil (berdiri 1877 M). Selain itu, masih banyak pondok pesantren keturunan Kiai Asror di Pulau Jawa dan Pulau Madura, yang tidak bisa disebut satu persatu.

Kilas Balik Sejarah KH Noerhasan Noerkhotim

Masa hidup Kiai Noerhasan berkisar antara akhir Abad 18 hingga pertengahan abad 19. Pendekatan ini dengan menggunakan perbandingan data dan perkiraan sebagai berikut: (1) Putra ketiga Kiai Noerhasan (Kiai Nawawie Noerhasan) masa hidupnya terbentang antara tahun 1862 hingga 1929 M. (2) Putra pertama Kiai Noerhasan (Kiai Bahar Noerhasan) melanjutkan kepengasuhan Kiai Noerhasan pada saat usia anak-anak (usia 9 atau 10 tahun). (3) Menggunakan pendekatan periode yang ditarik dari masa hidup Kiai Asror, dimana Kiai Asror bertepatan dengan masa Pangeran Cakraningrat IV—yang memerintah 1718 hingga 1745 M, sedangkan masa hidup Kiai Noerkhotim diperkirakan bertepatan dengan masa Panembahan Cakraningrat V—yang memerintah 1745 hingga 1770 M, maka masa hidup Kiai Noerhasan diperkirakan bertepatan dengan masa / pasca masa Panembahan Adipati Cakraningrat VI—yang memerintah dari 1770 hingga 1780 M.

Pada periode yang sama, wilayah Pasuruan sedang dipimpin Adipati Nitiadiningrat I yang memerintah dari tahun 1751 hingga tahun 1799 M.

Adipati Nitiadiningrat I dikenal sebagai bupati yang cakap, teguh pendirian, setia kepada rakyatnya, juga pandai mengambil hati pemerintah Belanda. Pada saat pemerintahannya, ia berhasil mengangkat potensi ulama dengan bekerjasama dengan Kiai Hasan Sanusi (Mbah Slaga). Bersama Kiai Hasan Sanusi ia berhasil mendirikan Masjid Agung al-Anwar Pasuruan. Pembangunan masjid itu merupakan lambang keberhasilan perjuangan lunak melawan Belanda, sehingga tidak terjadi persinggungan keras dengan Belanda.

Kondisi kondusif ini, merupakan salah satu faktor yang mendukung berkembang pesatnya penyebaran Islam di wilayah Pasuruan. Termasuk di antaranya berkembangnya Pondok Pesantren Sidogiri.

Saat itu, Sidogiri ikut memberikan sumbangsih dengan hadirnya KH Noerhasan bin Noerkhatim, sosok kiai moderat yang disegani Belanda, sehingga perjalanan pesantren tidak mengalami gangguan berarti dari Belanda. Situasi kondusif ini terus berlangsung hingga kepengasuhan KH Nawawie Noerhasan. Pada masa Kiai Nawawie, PPS sangat disegani Belanda, bahkan pimpinan tentara Belanda sering kali sowan dan berkonsultasi dengan Kiai Nawawie.

Kemudian ketika Belanda bertindak anarkis dan sewenangwenang di masa cucu Kiai Noerhasan, Sidogiri kembali memberikan peran penting, baik melalui lobi (seperti yang dilakukan KH Hasani Nawawie) maupun perlawanan fisik (seperti yang dilakukan KH Abd Djalil bin Fadlil dan KA Sa’doellah Nawawie yang saat itu menjadi pemimpin tentara Hizbullah).

Kelahiran Kiai Noerhasan

Pasca terusirnya Kiai Asror oleh Cakraningrat IV, masa kekalutan, kepiluan, dan ketidakmenentuan hidup melanda seluruh keluarga Kiai Asror. Sanak keluarga, istri, dan putra-putri telah tercerai-berai, terpisah oleh jarak yang jauh dalam waktu lama. Sungguh begitu kejam, apabila kebijakan penguasa dibangun di atas keculasan. Apabila kepentingan pribadi telah didewakan, gengsi kekuasaan telah mengalahkan kebenaran, kebenaran dianggap sebagai kesalahan yang harus dienyahkan. Itulah potret kehidupan Kiai Asror yang penuh dengan kesengsaraan. Potret perjalanan hidup Kiai Asror ini merupakan sepenggal rentetan kisah bersejarah yang kelak melahirkan Kiai Noerhasan.

Setelah meninggalkan Pulau Madura, Kiai Asror memilih Tanjung Anom Sidoarjo sebagai tempat persinggahannya. Di sana beliau menikah, dan kemudian dikaruniai dua orang putra, yaitu Kiai Umar dan Kiai Noerkhotim. Di sela-sela kesibukan menyebarkan syiar Islam, Kiai Asror tidak mengabaikan tugasnya untuk mendidik putra-putranya. Kedua putranya dididik dengan pengawasan ketat dari sang ayah, sehingga tumbuh sebagai orang yang ‘âlim dan ‘âmil (menguasai betul ilmu agama dan mengamalkannya). Hari berganti hari dan tahun menjelma menjadi masa-masa panjang perjuangan menegakkan syiar Islam. Umar dan Noerkhotim telah tumbuh dewasa. Rupanya mereka berdua telah siap untuk menanggung beban hidupnya sendiri. Mereka berdua juga mengikuti jalan hidup sang ayah sebagai penyebar dan pengajar Islam.

Setelah Kiai Noerkhotim beranjak dewasa, beliau menikah dan membina sebuah keluarga. Dari pernikahannya itu, ia dikaruniai empat putra laki-laki. Yaitu (1) KH Noerhasan, (2) KH Yusuf, (3) KH Mustahal, dan (4) KH Abdus Syakur. Kiai Noerhasan putra Kiai Noerkhotim, kelak menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, Sidogiri Kraton Pasuruan.

Mengenai tempat kelahiran dan tempat asal Kiai Noerhasan, muncul berbagai versi riwayat. Yakni antara Bangkalan Madura, Tanjung Anom Sidoarjo, dan Sidogiri Kraton Pasuruan. Dari sejumlah keturunan Kiai Noerkhatim, hanya Kiai Yusuf saja yang diketahui dengan pasti tempat kelahirannya.

Kiai Yusuf lahir di Tanjung Anom, Sidoarjo, tempat sang ayah dilahirkan. Kiai Yusuf menetap dan berketurunan di sana. Hal ini didasarkan pada data-data dan keterangan dari beberapa narasumber. Data yang dimaksud adalah penemuan manuskrip (tulisan tangan) milik Kiai Yusuf yang beralamatkan Tanjung Anom dan bertuliskan tahun 1290 H. Selain itu, sebagian dari keturunan Kiai Noerkhotim masih menetap di sana hingga saat ini. Dari kejelasan tempat lahir Kiai Yusuf itulah, dengan meninjau kedekatan masa dan hubungan antara Kiai Yusuf dengan saudara-saudaranya, dapat dianalisis dan diperkirakan bahwa Kiai Noerhasan beserta saudara-saudaranya yang lain juga lahir di Tanjung Anom, Sidoarjo.

Adapun sumber lain yang menduga bahwa Kiai Noerhasan berasal dari Bangkalan, adalah dengan menggunakan alasan kedekatan hubungan nasab antara Kiai Noerhasan dengan Kiai Asror, kakek beliau—di mana Kiai Asror berasal dari Bangkalan. Sedangkan sumber yang mengatakan bahwa Kiai Noerhasan lahir di Sidogiri, menggunakan alasan bahwa Kiai Noerkhotim di kemudian hari menetap bahkan ikut serta mengajar di Sidogiri, hingga kemudian wafat dan dimakamkan di daerah sekitar Sidogiri, yaitu daerah Winongan. Menurut salah satu sumber, makam Kiai Noerkhotim berada di sebelah makam Kiai Abu Dzarrin. (Menurut sumber lain, makam Kiai Noerkhatim bersebelahan dengan makam Kiai Asror di Bangkalan).

Dari perbedaan versi tersebut dapat diambil titik temu yang saling membenarkan, yakni dengan menganalisis dan menyimpulkan bahwa kemudian Kiai Noerhasan berkelana menuju Sidogiri.

Lanjut Bagian II: kh noerhasan bin noerkhotim kiai khumul berdarah madura bagian II

Pesan buku

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *