KH. Sadoellah Nawawie (Bagian II)

share to

KA. Sa’doellah Nawawie sebagai Pejuang: Ingin Mati Ditembak Belanda Demi Indonesia 

Semasa revolusi memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, KA Sa’doellah Nawawie mempunyai peran penting dalam memobilisasi rakyat guna membendung invasi asing yang menjajah bumi Nusantara. Bahkan dengan sigap penuh keberanian beliau mengangkat senjata dan memimpin pasukan untuk mengusir kolonial Belanda.  

Mulai 10 Oktober 1945 sampai 1 Januari 1946, beliau bergabung dengan front perlawanan Hizbullah selaku komandan Kompi II untuk Divisi Timur. Tentara yang dipimpin sekitar 250-an yang bermarkas di Sidogiri. Beliau bersenjatakan keris dan Pegras, sejenis pistol. 

Menurut pandangannya, agresi Belanda harus dihadapi dengan berperang. Memerangi Belanda adalah peperangan suci untuk membela tanah air dari invasi kaum kafir.  

Dengan ketegasan dan kedisiplinan seorang militer, Kiai Sa’doellah memimpin pasukannya dengan strategi yang matang dalam bergerilya. Kepiawaiannya dalam memimpin pasukan sangat dikagumi oleh pasukannya, sehingga mereka sangat patuh terhadap semua perintahnya. Bahkan pada tahun 1946, ketika berumur 24 tahun, beliau dan pasukannya ada di Tulangan Sidoarjo untuk mempertahankannya dari serangan Belanda. Dalam pertempuran itu, mereka kadang harus maju dan kadang terpaksa mundur untuk menyusun strategi.  

Ketegasan beliau melawan Belanda, berbeda jauh dengan KH. Hasani, adiknya, yang berjuang melalui pendekatan terhadap Belanda. Pernah beliau mendapat keluhan dari bawahannya tentang sikap Kiai Hasani yang dekat dengan Belanda, sampai memakai baju doreng tentara Belanda dan pernah naik tank Belanda. ”Kalau betul Hasani itu ikut Belanda, tidak usah kalian yang membunuhnya. Aku sendiri yang akan menembaknya. Tapi aku akan menanyakan pada Hasani dulu apa maksudnya dia seperti itu,” ungkap beliau.  

Lalu beliau mengajak Kiai Hasani bertemu di suatu tempat, dan menanyakan apa maksud dari semua perbuatannya. Lantas Kiai Hasani mengungkapkan alasannya, yakni ingin menyelamatkan santri. Karena pada masa itu pesantren kosong ditinggalkan berjuang dan mengungsi oleh semua kiai. “Kalau aku tidak berbuat begini, pasti pondok dibakar,” ungkapnya. Mendengar alasan itu, Kiai Sa’doellah tidak bertindak apapun.   

Keberanian dan Strateginya  

Semangat dan keberanian Kiai Sa’doellah dalam berjuang sangat tinggi, sehingga tidak mementingkan diri sendiri. Kesehariannya rela ada di mana-mana, bergerilya dan bertempur di medan perang. Pernah beliau pergi ke Semarang, Jogjakarta dan tanah Betawi untuk menghadapi agresi Belanda, dengan menunggang seekor kuda dan memegang cemeti. Sedangkan pasukannya diangkut dengan truk. 

Untuk menyemangati pasukannya, sebelum berangkat berperang, Kiai Sa’doellah membakar semangat mereka dengan orasinya yang menggebu. Beliau mengintruksikan pada semua pasukannya agar jangan takut dan susah. Walau digertak bagaimanapun juga oleh Belanda, jangan sampai ada yang menyerah. 

Ayat al-Qur’an yang sering disampaikan pada pasukannya adalah, ”Kullu nafsin dza’iqatu al-maut” (QS. Ali Imron:185). Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Menurut beliau, ”Walau bagaimanapun juga, setiap manusia pasti akan merasakan kematian. Jadi jangan sampai takut mati dan susah. Pantang mundur, dan terus maju!”.  

Perjuangan beliau sangat sistematis dan taktis. Diceritakan bahwa suatu ketika, untuk mengacaukan daerah kekuasaan Kiai Sa’doellah, musuh menyebarkan isu bahwa gagak hitam akan menyerang daerahnya. Mendengar isu itu, Kiai Sa’doellah juga menyebarkan isu bahwa gagak putih akan melawan gagak hitam itu.  

Untuk membakar semangat pasukannya di medan tempur, dengan penuh keberanian beliau ada di garis depan dan memekikkan kalimat, ”Allahu Akbar!!”. Konon keanehan terjadi setiap kali beliau membaca takbir. Yaitu langit menjadi mendung gelap, sehingga Belanda tidak bisa melihat dan merasa gentar. Takut untuk menghadapi tentara Islam.  

Di kalangan pasukannya, beliau dikenal sebagai sosok yang pemberani. Sehingga beliau pernah masuk ke markas gudang penyimpanan senjata Belanda yang bertempat di Pasuruan, bersama KHR. As’ad Syamsul Arifin Situbondo, santri  sekaligus anak buahnya dalam pasukan.  

Saat peperangan melawan tentara Sekutu meletus di Surabaya tanggal 23 November 1945, Kiai Sa’doellah dengan membawa pasukannya membantu pejuang arek-arek Suroboyo itu untuk mempertahankan tanah air dari ambisi penjajah yang ingin menguasainya. Tepatnya di daerah Wonokasian. Selama 20 hari peperangan berlangsung seru. Ribuan manusia bergelimpangan terkena mortir-mortir yang dimuntahkan dari kapal-kapal Sekutu. Peristiwa itu dikenang sebagai Hari Pahlawan. 

Di saat agresi kesatu, 21 Juli 1947 sampai 3 Desember 1948, Belanda melancarkan serangan besar-besaran secara umum, meliputi Malang, Pasuruan, Probolinggo, dan Bondowoso. Saat itu, pertahanan yang ada di Pandaan Pasuruan jebol, sehingga Belanda merembet ke daerah Pasuruan. Mereka menyisir keberadaan tentara pejuang terus menuju Sidogiri, yang merupakan tempat markas para pejuang. Setelah sampai di Pelinggisan, mereka dihadang oleh pejuang dari Kompi IV, yang dipimpin Kapten Abd. Latif dan Mahfud Jupri, dengan senjata seadanya. Hingga pertahanan di Pelinggisan pun jebol. 

Merembetnya Belanda menuju Sidogiri sudah diketahui para pejuang yang ada di Sidogiri lewat tiliksandi (mata-mata). Untuk menghindari kebengisan Belanda yang sudah mengamuk, akhirnya para pejuang, termasuk Kiai Sa’doellah, keluar dari Sidogiri menuju Kepanjen Malang. Mereka berkumpul dengan Komandan Batalyon TNI Syamsul Hisyam, dari tahun 1947 s.d. 1949.  

Rupanya serangan Belanda ke Sidogiri sangat merugikan. Karena saat itulah salah satu tokoh pejuang, KH. Abd. Djalil bin Fadlil (ayahanda KH. Abd. Alim Abd. Djalil Pengasuh PPS), gugur ditembak oleh Belanda. Kiai Sa’doellah ketika mendengar kakak iparnya itu meninggal, langsung mengambil senjatanya dan hendak melawan Belanda. Namun beliau dihalangi oleh KH. Abd. Adzim, kakak iparnya yang lain, demi menghindari jatuhnya korban yang berkelanjutan. 

Membekali Tentara dengan Ilmu Batin 

Selain persiapan dzahir, beliau juga membekali pasukannya dengan berbagai ilmu batin sebelum berangkat ke medan laga. Caranya, beliau mengambil al-Qur’an lalu diletakkan dalam sebuah wadah yang berisikan air, kemudian diminumkan pada semua tentara.  

Konon ijazah itu akan membuat orang yang meminumnya kebal dari peluru. Tapi pasukan yang meminumnya harus menjauhi dua pantangan. Yaitu tidak boleh menggoda perempuan dan mengambil harta jarahan perang (ghanimah). Kalau melanggar pantangan pertama, maka akan terkena penyakit belang. Dan kalau melanggar pantangan kedua, maka akan meletus badannya. 

Selain itu, Kiai Sa’doellah memberi wirid yang dibaca ketika berperang. Yakni  Bismillâh bi ‘aunillâh 3 x, Allâhu yaghfir 3 x , Ilâhanâ Anta Maulânâ wanshurna ‘alal qaumilkafirîn. Konon ketika wirid ini dibaca tentara beliau, Belanda tidak bisa melihat mereka. Wirid itu oleh Kiai Sa’doellah diberi nama Lembu Sekelan. Artinya, dalam perasaan Belanda pelurunya akan mengenai sasaran, namun pada kenyataannya luput. Sedangkan hizib beliau yang kedua adalah Lâ haula wa lâ quwwata illâ billâhil‘aliyyil-‘azhîm 200 x. Hizib ini diberi nama Hizib Tembok Suarga, yang akan membentengi pasukan dengan kekuatan yang kokoh. 

Berjuang Tanpa Pamrih  

Kemerdekaan Bangsa Indonesia dari belenggu kaum penjajah adalah tujuan utama perjuangan Kiai Sa’doellah. Hal ini tercermin dari perkataan beliau pada seorang temannya tentang gugurnya KH. Abd. Djalil, ”Seandainya Indonesia belum merdeka, saya juga ingin mati ditembak Belanda, tapi asalkan Indonesia merdeka”. Artinya, beliau tidak rela mati kalau Indonesia tidak merdeka.  

Semangat beliau untuk menjadikan Indonesia lepas dari kaum imperialis Barat sangat tinggi. Sehingga, saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan oleh Presiden Soekarno di Jakarta, beliau hadir mendengarkannya dan berkumpul dengan para tokoh Proklamasi yang lain. Beliau juga menyanyikan lagu, ”Sorak-sorak bergembira, bergembira semua. Sudah bebas negeri kita, Indonesia merdeka. Indonesia merdeka… merdeka! Republik Indonesia. Itulah hak milik kita, untuk selama-lamanya. Merdeka… merdeka… merdeka…!!”.

Ikhlas dan tanpa pamrih, itulah perjuangan beliau. Ini terbukti pada saat ada rasionalisasi pasukan dari Pemerintah pada tahun 1950 dan Belanda sudah angkat tangan sekaligus angkat kaki dari Indonesia. Pemerintah menginstruksikan agar semua pasukan pejuang memfusikan diri menjadi satu badan pasukan yang disebut Tentara Nasional Indonesia (TNI). Saat itu Kiai Sa’doellah tak berkenan untuk masuk dalam jajaran ketentaraan, walaupun kawan-kawannya ada yang sampai menjadi jenderal setelah masuk TNI. 

Dan setelah perjuangan, beliau tak pernah mengambil gaji pensiunan yang diberikan Pemerintah pada veteran perang, dan hal itu juga diperintahkan pada semua pasukannya. Alasan beliau, takut perjuangannya tidak ikhlas demi membela tanah air. Karena itulah sampai sekarang sebagian pasukan beliau tidak mau menerima gaji pensiunan. 

KA Sa’doellah setelah Perjuangan: Dari Pesantren Kembali ke Pesantren 

Setelah Indonesia betul-betul merdeka, pada tahun 50-an Kiai Sa’doellah kembali ke Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) untuk mengurusi santri, yang pada masa itu kira-kira berjumlah 1.500-an. Beliau menjabat Penanggung Jawab sekaligus Ketua Umum PPS. Walau banyak yang menganjurkan agar masuk ke jajaran TNI, kiai yang dalam surat-surat resmi suka memakai nama A.S. Nawawie ini tetap tidak berkenan. Ini menunjukkan betapa ikhlasnya beliau dalam perjuangannya dan begitu semangatnya beliau untuk mendidik santri.  

Keberadaan Kiai Sa’doellah di tengah-tengah pesantren rupanya memberi banyak arti dalam memajukan PPS pada masa selanjutnya. Banyak kebijakan dan gagasannya yang memperpesat perkembangan PPS, utamanya dalam hal administrasi dan pengorganisasian. Peninggalan dan jasanya sangat banyak, sehingga ketika beliau wafat ada taushiyah dari KH. Cholil Nawawie, ”Apa-apa yang direncanakan Sa’doellah supaya dilanjutkan, agar menjadi (amal) jariyah-nya”.  

Kebijakan beliau, antara lain pada tahun 1961 memprakarsai terbentuknya koperasi PPS. Pada awalnya, koperasi tersebut hanya berupa toko-toko kecil yang terletak di Daerah-daerah (kompleks pemukiman santri PPS) dan di Perpustakaan Sidogiri sekarang. Kini, rintisan beliau yang berupa koperasi ini berkembang menjadi 10 unit yang tersebar di beberapa desa, dan omzetnya mencapai milyaran rupiah.  

Selain itu, pada tahun 1961 M, beliau juga memprakarsai pengiriman guru tugas PPS ke berbagai daerah di Jawa Timur, bagi yang lulus Tsanawiyah. Dengan itu, diharapkan agar santri bisa menyalurkan ilmunya dan belajar untuk beradaptasi dengan masyarakat. 

Beliau juga sangat syafaqah (sayang) pada santri. Rasa syafaqah beliau pada santri terbukti ketika para santri akan pulang sendiri sendiri saat pulangan santri. Beliau memberi intruksi agar santri disediakan bis rombongan, tujuannya agar tidak ditipu orang. Sebab pada masa itu sedang marak maraknya penipuan. Dawuh beliau, ”Kalau santri ditipu orang, maka berarti saya yang dikena tipu”.  

Kaderisasi untuk Masa Depan Santri 

Menurut pandangan Kiai Sa’doellah, pesantren bukan hanya merupakan suatu lembaga tempat pengembangan ajaran Ahlussunnah waljamaah dan tempat mempertahankannya dari serangan akidah-akidah yang lain, tapi juga sebagai tempat Latihan bermasyarakat Islami. Oleh karenanya sangat perlu kaderisasi sebagai pembekalan untuk terjun ke tengah-tengah masyarakat. 

Beliau sangat antusias dalam mengkader santri agar menjadi pemimpin yang profesional. Kalau melantik Pengurus, beliau bersedia untuk hadir dan memberi arahan yang kadang sampai jam dua malam. Beliau sering memanggil para Pengurus pesantren, lalu membimbing dan membina mereka. Kadang dengan cara diceritai bermacam-macam cerita. Tujuannya untuk membina watak mereka. 

 Beliau juga transparan dalam forum rapat, sehingga kalau dikritik bagaimanapun juga beliau terima dengan baik. Beliau berharap, santri keluaran Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) sampai tingkat apa saja, supaya berkiprah sesuai dengan tingkatannya. 

Dalam pelatihannya, yang diutamakan oleh beliau adalah para putra pemimpin atau tokoh masyarakat. Karena beliau beranggapan, bagaimanapun juga dia kelak akan menjadi pemimpin, oleh karenanya harus dilatih. Untuk membimbing mereka dalam hal kepemimpinan, beliau menjadikan mereka Pengurus. Agar mereka bisa berlatih menjadi pemimpin.  

Pembekalan jiwa kepemimpinan terhadap santri beliau wujudkan melalui sistem kepengurusan PPS. Pada masa itu format kepengurusan disesuaikan dengan tatanan pemerintahan negara. Seperti di PPS dulu ada Dewan Perancang dan Dewan Pelaksana. Sedangkan kedaerahan dibagi menjadi tiga seperti yang ada di Pulau Jawa. Daerah Tingkat I Timur meliputi Daerah A, B, dan I; Daerah Tingkat I Tengah meliputi C, D, dan E; dan Daerah Tingkat I Barat meliputi H, G, dan F. Masing-masing dipimpin oleh satu orang, laksana sistem Gubenuran. Sehingga mirip Gubenur Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Penanganan di lapangan secara penuh diamanatkan pada Pengurus Daerah. Sehingga pada masa itu kepatuhan santri pada Pengurus seakan-akan sama dengan kepatuhannya ketika berhadapan dengan kiai. 

Kiai Sa’doellah punya cara unik untuk membiasakan Pengurus bersikap kritis dalam rapat, meskipun kepada beliau. Caranya, sebelum rapat beliau memanggil dan menyuruh Ust. Zainal Abidin untuk menanggapi pendapat beliau dalam rapat. Oleh ‘Gubernur Jawa Tengah’ ini, perintah Kiai dilaksanakan. Tentu saja Pengurus-pengurus lain kaget dan mencelanya seusai rapat, “Masak Kiai ditentang!”. Namun setelah itu mereka tidak sungkan lagi bersikap kritis dalam rapat-rapat, sesuai keinginan Kiai Sa’doellah.    

Untuk mewujudkan sosok pemimpin yang ulung dan menguasai kemampuan berorasi, Kiai Sa’doellah mencetuskan berdirinya organisasi Jam’iyatul Muballighin (Jamub) sebagai wadah kreasi santri dalam bidang dakwah. Sehingga mampu melahirkan beberapa orator handal. Semua itu tak lain agar ketika santri harus terjun ke tengah-tengah masyarakat, mereka sudah menguasai betul teori dakwah yang sebenarnya. 

Kiai Sa’doellah menginginkan santri tetap berdisiplin tinggi dan mempunyai rasa tanggungjawab. Misalnya ketika Ketua Koperasi pada masa itu akan berhenti menangani koperasi, karena merangkap Ketua II PPS dan wali kelas, Kiai Sa’doellah memperbolehkannya dengan berkata, ”Boleh, asalkan (pada) penggantinya, kamu yang bertanggung jawab”. Ucapannya itu sebagai cerminan begitu sistematisnya cara beliau mendidik dan mengkader santri. 

Pernah ditanyakan pada beliau, kenapa di Sidogiri tidak didirikan perguruan tinggi seperti di pesantren lainnya. Beliau menjawab, ” Sidogiri itu sumber. Kalau sumber itu murni sumber, maka bisa dibuat apa saja. Bisa jadi es, jindul dan lainnya. Kalau sudah dibuat sesuatu, maka tidak bisa dibuat apa saja”.  

Telaten Mendidik Santri 

Keistimewaan Kiai Sa’doellah dalam cara mendidik santri adalah sangat telaten dan penuh perhatian. Sehingga santri lebih merasa berhadapan dengan seorang ayah dari pada seorang guru. Cara beliau mendidik jiwa santri ialah sangat berhati-hati dalam menjaga perasaan. Ketika ada santri yang kurang tepat dalam melaksanakan sesuatu, beliau tidak langsung memarahinya. Namun mengarahkannya dengan ucapan, ”Kalau begini, bagaimana? Kalau begini, bagaimana?”.  

Beliau sering turun tangan sendiri, baik ketika berhubungan dengan santri atau orang lain. Dan ketika memberi wejangan pada orang lain, kadang beliau sampai menangis. Sering Kiai Sa’doellah mewanti-wanti santri agar jangan sampai melanggar sedikitpun. Beliau tidak ingin sedikitpun ilmu yang didapatkan di pesantren ada yang tidak bermanfaat.   

Maka dari itu, beliau menganjurkan agar semua santri mentaati semua peraturan PPS, dan selalu bersungguhsungguh (IJTIHAD) dalam mencari ilmu. Sering beliau menyentil ucapan KH. Abd. Djalil bin Fadlil, kakak iparnya, ”Uthlub ‘uluman wajtahid katsiran”. Carilah ilmu sebanyak mungkin dan bersungguh-sungguhlah. 

Kalau diamati, semua pesan-pesan beliau pada santri mengarah pada perjuangan dan keberhasilan nanti di masyarakat setelah boyong. Ambil contoh, beliau pernah berpesan pada seorang santri yang akan boyong agar kalau ada di masyarakat jangan lekas marah terhadap omongan orang lain. Pesan beliau, ”Jek peggelen dek ocean oreng, lamon tero deddieh oreng”. Pesan itu memberi arti bahwa ketika berhadapan dengan masyarakat, maka kesabaran harus ditanamkan dalam hati. 

Selain itu, beliau sering berpesan terhadap santri yang akan boyong, agar jangan sampai lupa pada Pondok Pesantren Sidogiri. Kalau sempat, sambang ke Sidogiri. Dan kalau sangat tidak sempat, maka bacaan al-Fatihah-nya saja sambungkan. Dan beliau mengharapkan kalau sudah menjadi tokoh masyarakat dan akan membangun madrasah, maka diberi nama “Madrasah Miftahul Ulum”, disamakan nama madrasah di PPS. Agar ketika melihat papan nama bertuliskan “Madrasah Miftahul Ulum”, sesama alumni PPS merasa dekat dan bisa berhubungan.  

Sebagai tempat bercermin bagi santri, ketika berpidato di hadapan mereka—biasanya pada malam Jumat—beliau sering menceritakan perjalanan para ulama dalam berjuang dan menuntut ilmu. Yang sering diceritakan adalah perjalanan Syaikhona Cholil Bangkalan dari tempat mondoknya di Wonosari ke Sidogiri, untuk mengaji pada KH. Nawawie bin Noerhasan. Sedangkan jarak antara Wonosari dan Sidogiri kira-kira 13 KM. Setiap kali berangkat ke Sidogiri, Kiai Cholil Bangkalan membaca surat Yasin 20 kali. Sedangkan pulangnya ke Wonosari membaca 20 kali, dan diimbuhi membaca satu kali di Warungdowo, hingga genap 41 kali. ”Bagaimana tidak akan menjadi wali, kalau tirakatnya seperti itu,” sambung beliau.

Selain itu, beliau juga sering menceritakan dakwah para Walisongo. Kadang apa yang beliau sampaikan sifatnya seperti menceritakan orang lain, namun ternyata dialaminya sendiri. Hal itu terungkap setelah beliau wafat, ketika ada salah satu anak buahnya di masa perjuangan mengatakan bahwa yang diceritakan Kiai Sa’doellah itu terjadi pada dirinya sendiri.  

Intinya, semua kehidupan beliau adalah ajaran bagi santri. Semua langkah beliau, haliah atau kauniah, dan semua yang tampak, menjadi panutan bagi santri. 

Sangat Disiplin dan Tepat Waktu 

Sebagaimana seorang tentara yang harus selalu disiplin, Kiai Sa’doellah dalam kesehariannya memegang teguh kedisiplinan. Bila ada rapat jam 8, maka jam 8 beliau sudah ada di tempat acara. Beliau juga sering memberi wejangan pada Pengurus Pleno ketika rapat, agar selalu disiplin, jangan sampai ada sesuatu yang lain masuk, lalu meninggalkan kedisiplinannya. 

Semua itu tercermin dari kebijakan beliau dalam menangani sistem keamanan PPS yang membentuk Keamanan Daerah dan Keamanan Umum. Semuanya diatur langsung oleh beliau. Dan anehnya, beliau sangat senang bila santri jebolan pesantrennya jadi tentara, sesuai dengan karakter jiwanya yang pernah menjadi komandan tentara Hizbullah. Sampai-sampai beliau berkata, ”Kenapa santri tidak ada yang mau jadi tentara?”. Dimasa beliau juga dibentuk Pertahanan Sipil (Hansip), yang juga mengamankan pesantren. 

Untuk kepulangan santri, beliau sangat ketat, sehingga menginginkan santri pulang hanya satu kali dalam satu tahun. Yaitu pada bulan Ramadlan saja. Bagi santri yang terlambat kembali setelah pulangan, maka harus membawa keterangan wali santri kenapa terlambat. Kalau tidak membawa surat keterangan, maka disuruh pulang lagi. Keinginan beliau itu hampir menjadi ketetapan dalam peraturan, dan sudah diumumkan sebelum pulangan Ramadan ketika itu. Namun setelah diajukan pada Kiai Cholil Nawawie, kakaknya yang menjadi Pengasuh PPS, ternyata beliau tidak menyetujui. Akhirnya rencana ketetapan itu dicabut. 

Selain disiplin, Kiai Sa’doellah sangat tegas dalam menindak santri yang melanggar, sampai memberikan ultimatum pada seluruh Pengurus, ”Santri yang salah tetap disalahkan, jangan dibela-bela. Dan santri yang melanggar, maka ditindak sebelum ditindak di rumah”.   

Beliau senang sekali melihat santri berambut pendek, dan sebaliknya sangat tidak senang melihat santri berambut panjang. Beliau langsung memanggilnya untuk dipotong rambutnya. Kiai Sa’doellah juga sangat tidak suka kalau santri bermain api, bersiul dan bernyanyi di sungai atau tempat lain, dan selain pengurus memperbaiki kerusakan listrik sendiri.  

Kalau ada santri mau pulang boyong lalu minta maaf, maka takkan diterima kecuali menyebutkan satu persatu kesalahannya. Semua itu agar tidak diambil mudah oleh santri. Suatu ketika ada seorang santri yang akan berangkat tugas minta doa wirid, dengan alasan takut mengecewakan Sidogiri sebagai utusan Sidogiri. Kiai Sa’doellah menjawab, ”Kalau Sidogiri kecewa, itu karena kamu tidak becus!”.  

Keinginan beliau agar santri menaati peraturan pesantren sangat ketat. Beliau sering mewanti-wanti santri agar jangan sampai melanggar peraturan di pesantren, baik kecil atau besar. Ucapnya, ”Sukur gak melanggar santri-santri iku, tak dungakno sak boyonge teko pondok pesantren, lek dadi kiai dadi kiai sing gede, sing manfaat nang masyarakat. Lek dadi wong sugeh, mandar dadi wong sugeh sing temenan, sing manfaat nang masyarakat”. (Asalkan santri-santri itu tidak melanggar peraturan, saya doakan setelah boyong dari pesantren: kalau menjadi kiai, jadi kiai yang besar, yang bermanfaat bagi masyarakat; kalau menjadi orang kaya, semoga jadi orang yang betulbetul kaya, yang bermanfaat bagi masyarakat). Hal itu sering beliau ungkapkan dalam rapat-rapat Pengurus. 

Bersambung ke KH. Sadoellah Nawawie (Bagian III)

Disadur dari Buku Jejak Langkah Masyayikh Sidogiri Jilid 1

Pesan Buku

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.