KH. Hasani Nawawie (Bagian III)

share to

Visi Keumatan: Memprioritaskan Ukhuwah 

Menjelang Pemilu tahun 1997, Sidogiri terlibat dalam sebuah polemik di majalah Editor. Adalah Ustadz H. Mahmud Ali Zain yang menjadi jubir Sidogiri ketika itu. Apa yang katanya tentang pemilu? “Berpartai hukumnya haram!”.  

Ada apa Sidogiri dengan pernyataan yang menyentak publik itu? Penegasan itu datang dari Kiai Hasani. Tak ada hal lain yang mendorong Kiai menegaskan hal itu kecuali ghirah dan keprihatinan yang sangat kuat melihat fenomena umat. Begitu mudah persatuan umat tercabik-cabik hanya karena fanatisme yang dihembuskan oleh kalangan partai. Urusan partai betul-betul telah membuat umat ini berada pada pertikaian yang tak tentu ujungnya. Bahkan, kerap kali tokoh umatnya sendiri yang menjadi motor pertikaian itu. Melihat kenyataan bahwa berpartai mengandung potensi sangat kuat dalam tafriq al-jama’ah (memecahbelah umat), Kiai Hasani mengharamkan berpartai ini. Masalah berpartai merupakan salah satu sarana untuk tanshib al-imamah (memilih pemimpin), maka berpartai bukan satu satunya cara untuk memilih pemimpin itu. 

Bagaimanapun, kata Kiai Hasani, orang berpartai akan memupuk sifat ta’ashhub (fanatisme) dalam hatinya. Ia akan membela partainya tanpa melihat apakah partai itu patuh pada Syariat atau tidak. 

Fanatisme partai sudah sedemikian lama menjadi penyakit yang menggilas semangat ukhuwah. Politik dan berpartai merupakan motif utama konflik umat secara massal. Kiai Hasani tak kuasa melihat fenomena ini. Pertikaian umat betul betul menyesakkan ruang dada beliau. “Bagaimana nanti aku akan bertanggung jawab di akhirat terhadap santri-santri Sidogiri yang ikut partai ini dan itu, kemudian saling bertengkar?” tanyanya bernada kecewa suatu ketika kepada H. Thoyyib (Ketua Yayasan STIE Malang kucecwara), sahabat dekat beliau. 

Kiai Hasani sangat konsisten dengan pandangan-pandangan tentang persatuan umat. Tak ada kamus fanatisme terhadap madzhab dan golongan tertentu bagi beliau. Yang terpenting adalah Islam dan berperilaku Islami, bukan golongan ini dan golongan itu atau madzhab ini dan madzhab itu. 

Solidaritas Islam begitu mengakar pada pandangan dan langkah-langkah beliau. Kiai paling tidak bisa menerima jika melihat umat Islam ditindas. LB. Moerdani (Panglima ABRI di masa Soeharto) adalah orang yang sangat dibencinya. Moerdani merupakan tokoh utama di balik pembantaian ratusan umat Islam di Tanjung Priok Jakarta Utara. Di kalangan aktivis pembela Islam, Moerdani dikenal sebagai Panglima Salibis. Hal itu disebabkan karena sikap kerasnya dalam memusuhi umat Islam dan membela umat Kristen. “Jika membawa bom, lalu salaman dengan Moerdani, kemudian dia mati bersama Moerdani, itu bukan mati bunuh diri, tapi mati syahid,” papar beliau suatu ketika. 

Santri dan Pesantren: Sebuah Predikat Moral 

SANTRI. Berdasarkan peninjauan tindak langkahnya, adalah orang yang berpegang teguh pada Al Qur’an dan mengikuti sunnah Rasul saw. dan teguh pendirian. Ini adalah arti dengan bersandar sejarah dan kenyataan yang tidak dapat diganti dan diubah selama-lamanya. Allah yang maha Mengetahui atas kebenaran sesuatu dan kenyataannya”.  

Mirip sebuah prasasti, kalimat tersebut terpampang besar di bagian depan asrama “J” Pondok Pesantren Sidogiri di atas koperasi selatan. Terukir di tembok seluas kira-kira 7×2 m², berwarna putih dengan latar belakang hijau. Di sebelah atas tercantum redaksi aslinya dalam bahasa Arab di bawah judul As-Santri.  

Ukiran itu dibuat sekitar 11 tahun yang lalu. Kalimatnya disusun oleh al-Maghfurlah Kiai Hasani pada tahun 1972. Sejak semula kalimat tersebut dijadikan sebagai asas dasar Pondok Pesantren Sidogiri. Santri yang mondok di situ pasti hafal luar kepala. Bagi mereka, menghafal kalimat itu sama artinya dengan membaca prinsip hidup dan jati dirinya sendiri. 

Pandangan Kiai Hasani tentang santri dan pesantren, setidaknya, telah dicurahkan dalam beberapa kalimat itu. Dalam kemasan ta’rif santri tersebut, Kiai Hasani mempertegas bahwa kata “santri” adalah murni sebagai predikat moral. Santri, bukanlah nama dari sebuah komunitas tertentu atau kelompok dengan budaya tertentu, tapi murni sebagai predikat dari sebuah ketaatan beragama. 

Ada dua hal pokok yang disebut Kiai Hasani dalam ta’rif santri itu: ketaatan pada garis agama serta prinsip tegas dan perilaku yang lurus. Dan, persis seperti apa yang dikemukakannya tentang santri, beliau juga memberi arti pesantren, murni dalam sebuah predikat moral keagamaan. Menurut Kiai Hasani, pesantren adalah lembaga yang berdiri atas dasar takwa kepada kepada Allah SWT. atau menjadikan ketaatan beragama sebagai pijakan dasarnya (ussisa ‘ala at taqwa).  

Dalam memandang segala sesuatu (terutama masalah agama), Kiai Hasani memang selalu bertumpu pada substansi dan prinsip keagamaan. Jika prinsip dan substansinya sudah benar, beliau tak pernah menghiraukan lagi siapa dan dari kelompok mana. Hal ini selalu beliau tampakkan dalam setiap langkah-Iangkahnya, baik dalam berdakwah, membangun ukhuwah, maupun dalam kehidupannya sehari-hari. 

Kiai Hasani dan Kritik Sosial 

Pandangannya yang lurus dan tak kenal kompromi membuat Kiai Hasani disegani ulama-ulama lain. Beliau memang putra ulama besar, tapi yang membuatnya disegani adalah sikap dan pandangannya yang lurus serta tegas. 

Kiai Hasani tak segan-segan menegur siapa saja yang dianggapnya tidak mengindahkan ajaran agama, tak terkecuali dia itu tokoh besar atau mempunyai pengaruh luas. Dalam menyikapi sesuatu, beliau selalu teliti dan kritis. Kritik-kritiknya lebih banyak ditunjukkan untuk para pengemban ilmu pengetahuan, baik santri, pelajar, maupun ulama, dibanding yang lain. 

Menyikapi kerusakan moral di masyarakat, Kiai Hasani tidak terlalu menyalahkan mereka. Beliau melihat hal ini sebagai kesalahan para pengemban dakwah Islam. “Mereka tidak salah, yang salah itu kamu dan saya,” dawuhnya. 

Rusaknya moral umat bersumber dari rusaknya moral para ulama”. Begitulah salah satu inti dari tulisan beliau dalam beberapa manuskripnya. Menurutnya, seperti ditegaskan Rasulullah SAW, komponen yang paling menentukan baik buruknya umat ada 2, yaitu ulama (kaum cendekiawan) dan umara (kaum birokrat). 

Kerusakan moral masyarakat merupakan akibat dari bobroknya moral para penguasa (birokrat). Kebobrokan  penguasa, disebabkan karena tidak becusnya para ulama. Begitulah Kiai Hasani mengurai sumber utama kebobrokan yang terjadi. Dalam pandangannya, ulama saat ini telah banyak yang tergila-gila pada harta dan kedudukan (hubb aljaah wa almaal).  

Kritik keras juga beliau alamatkan kepada para pelajar dan santri. Dalam hal ini, yang menjadi bidikan utama beliau adalah kebiasaan tidak serius dalam mencari ilmu. Tertawa dan kegaduhan yang tidak perlu telah menjadi kebiasaan yang telah melekat di tempat belajar dan majlis al-Ilm. Kebiasaan tidak serius ini amat disayangkan Hadratussyekh. Dalam sebuah manuskripnya beliau bercerita tentang suasana belajar di Majelis pengajian Imam al-A’masy. Suatu ketika, seorang murid a-lA’masy tertawa saat berlangsungnya pengajian. Syahdan, al-A’masy menindaknya dan menyuruhnya berdiri. “Engkau mencari ilmu yang telah di-taklif-kan Allah SWT kepadamu, sedang engkau tertawa,“ kata al-A’masy memarahinya. Setelah itu al-A’masy tidak menyapa murid itu selama 2 bulan

Dalam Semalam, Istikamah Bangun 5 Kali 

Keturunan berarti kelangsungan sejarah bagi seseorang. Tiada anak, hambarlah kehidupan rumah tangga. Tapi, tidak dengan Kiai Hasani. Kiai yang menghabiskan hidupnya dengan lakon zuhud ini malah tidak ingin punya anak. “Saya ini sudah anak, anaknya Kiai Nawawie Sidogiri. Jadinya seperti ini. Kalau saya punya anak, jadinya seperti apa. Sedang antara saya dan abah baynaal-sama’ wa al-sumur (antara tingginya langit dan dalamnya sumur),” tandasnya.

Filosofi yang dipegang Kiai Hasani tentang “anak” memang tidak seperti filosofi yang dipegang orang pada umumnya. Beliau memandang keturunan tidak dalam bentuk kuantitas, tapi murni pada kualitas kesalehannya di hadapan Sang Pencipta. Dan, Hadratussyekh, sampai akhir hayatnya, tidak mempunyai seorang putra pun. Beliau hanya mempunyai dua putra tiri, yaitu Mas H. Abdul Barri dan Mas Anshori (Putra Nyai Sholihah, istri Kiai Hasani yang ketiga). 

Kiai Hasani beristri tiga kali. Dari ketiga istrinya itu, beliau tidak menurunkan putra sama sekali. Istri pertama beliau adalah Ibu Nyai Zubaidah. Tidak begitu lama berkeluarga dengan Ibu Nyai Zubaidah, Kiai Hasani menfiraq-nya. Beliau kemudian berkeluarga dengan Ibu Nyai Lilik, putri KH. Zaini Rembang Pasuruan. Namun, tidak lama juga beliau men-firaqnya. Yang terakhir beliau berkeluarga dengan Ibu Nyai Sholihah yang berasal dari Malang. Beliau adalah janda dengan putra 7 orang. Putranya yang ikut ke Sidogiri hanya 2 orang, yaitu, Mas H. Abdul Barri dan Mas Anshori. 

Terhadap keluarganya, Kiai Hasani mempunyai perhatian penuh terutama pada sisi moral. Nuansa zuhud dan sufi tidak hanya kental pada diri beliau semata, tapi juga segenap keluarganya. “Kamu mau saya jadikan apa saja, ikutlah!” dawuh beliau kepada Mas H. Abdul Barri. 

Disiplin ajaran Islam betul-betul beliau terapkan pada keluarganya. Kiai melarang keras keluarganya keluar tanpa disertai mahram. Wanita yang bukan mahram tidak boleh masuk ke dalemnya. Beliau juga. melarang televisi bagi keluarganya. Dalam pandangan Kiai Hasani, televisi punya peran besar dalam pembentukan moral. “Meskipun ikut thariqat kalau masih ngingu punya) TV, itu thariqat gendeng,” tandas beliau mengometari media hiburan plus sarana informasi itu.

Sehari-hari beliau menekankan pentingnya salat berjamaah bagi keluarganya. Beliau sendiri, sejak masih belum baligh tidak pernah meninggalkan salat berjamaah. Dan, Kiai lebih suka melaksanakan salat jamaah di dalemnya daripada di masjid. Konon, beliau tidak betah salat di mesjid yang sehari-hari ramai dengan santri itu. Kiai Hasani tidak tahan melihat ibadah santri, yang menurut beliau, tidak karuan. “Kalau aku salat di masjid, marah-marah nanti,” dawuhnya.  

Kiai Hasani melalui hari-harinya dengan lakon yang amat berat. Anjuran Tasawuf tentang “perbanyak menangis daripada tertawa” betul-betul beliau laksanakan. Hari-hari beliau dilalui dengan perasaan susah, terutama ketika ada hujan, petir dan banjir. Hal ini beliau lakukan sebagai kiat untuk menjaga hati agar selalu mengingat Allah SWT. Bahkan, jika merasa gembira beliau memaksakan diri untuk susah. “Hati yang dibuat susah, meskipun karena urusan dunia, baik untuk hati tersebut. Sebaliknya, jika dibuat gembira, meskipun karena akhirat itu justru tidak baik untuk hati itu,” tutur beliau tentang prinsip hidup. 

Setiap malam, Kiai Hasani istikamah bangun hampir tiap jam. Dalam semalam Kiai bangun sebanyak 5 kali, mulai pukul 11.00 malam sampai pukul 03.00 dini hari. Setiap selesai salat Isya, beliau beristirahat sampai pukul 11.00 malam. Kemudian bangun dan berwudu, lalu membaca surah Al-Fatihah. Setelah itu, beliau istirahat lagi. Pukul 12.00 malam, beliau bangun dan melakukan hal yang sama. Begitu juga pada pukul 01.00 dini hari. Pukul 02.00 beliau bangun lagi, berwudlu, membaca surah Al-Fatihah lalu bertafakkur sebentar kemudian istirahat kembali. Pukul 03.00, beliau bangun dan terus melakukan ibadah sampai Subuh tiba. 

Dalam ibadah, Kiai Hasani lebih senang mengerjakan yang dianggapnya paling berat. Beliau suka ber-mujahadah. Ning Hikmah Sa’doellah (keponakannya) pernah bercerita mengenai CD (compact disc) al-Qur’an, Hadis dan kitab-kitab lain kepada beliau. Dengan CD, seseorang dapat dengan mudah mencari data-data yang diperlukan. Tapi, Kiai Hasani menyatakan tidak suka dengan kemudahan-kemudahan dari produksi teknologi tersebut. “Aku nggak seneng, kurang ganjarane (Aku tidak suka, karena kurang pahalanya)”, jawab beliau. 

Selain tegas serta kukuh dalam menegakkan dan melaksanakan ajaran Islam, Kiai Hasani juga sangat syafaqah, penyayang. Rasa syafaqah-nya yang mendalam tidak hanya beliau tunjukkan untuk sesama manusia, tapi juga kepada makhluk Allah SWT yang lain. Beliau menyayangi binatang binatang. Beliau tidak pernah memberi makan kucing di dalemnya dengan ikan yang masih ada tulangnya. Ikan yang mau diberikan kepada kucingnya mesti dibuang tulangnya dulu. Ayamnya pun diberi makan roti “Meskipun semut, ia juga makhluk Allah,” kata beliau. 

Kiai juga terkenal telaten dalam mengajar. Dulu, Kiai Hasani mengadakan pengajian khusus untuk keponakan keponakannya. Pengajian itu dilaksanakan di dalem Ibu Nyai Hanifah (saudari beliau). Beliau sangat telaten mengajar keponakan-keponakannya itu. Sampai-sampai ada seorang keponakannya yang tidak bisa menulis karena sering dituliskan oleh beliau. 

Komentar Tokoh 

Habib taufiq bin Abd. Qadir Assegaf, Tokoh Habib Pasuruan “Saya Kagum Dengan Visi dakwahnya”‘  

Saya cukup kenal dekat dengan Kiai Hasani sekalipun tidak lama. Beliau saya anggap sebagai guru dan orang tua. Banyak hal yang saya teladani dari figur beliau. Wara’, sederhana, dan tidak mau menonjolkan diri adalah di antara sebagian sifat utamanya. 

Satu hal dari Kiai Hasani yang selalu saya ingat adalah kelapangan hati untuk menerima kritik sekalipun dari orang yang masih muda. Pernah satu ketika, karena melihat beliau sering datang ke pendopo kabupaten Pasuruan, didorong rasa sayang saya menyampaikan, “Sebaiknya Kiai jangan sering-sering datang ke pendopo, biar saya saja yang menjadi corong kiai”. Dibilang begitu, Kiai Hasani sangat gembira sampa-sampai uang yang ada disakunya dikasihkan pada saya semua, kalau tidak salah sekitar 150 ribu Rupiah. “Orang berani dan jujur begini yang saya senangi,” katanya saat itu.

Dalam dakwah, Kiai Hasani tidak pernah mempermasalahkan dari golongan mana. Asal visinya jelas dan lurus pasti didukungnya. Entah itu NU atau bukan. Dan, saya termasuk orang yang selalu diberi semangat oleh beliau untuk berdakwah.  

Satu hal lagi, Kiai Hasani tidak pernah menyakiti bahkan selalu memberi manfaat pada orang lain. Dan orang yang seperti itu sangat mahal harganya. 

KH. Jusbakir aldjufri, Wakil Bupati Pasuruan 

Penyejuk Birokrat  

Pertama kali mendengar Kiai Hasani wafat saya terkejut sekali, sebab salah satu pelita yang menerangi umat telah dipanggil oleh Allah SWT. Kiai Hasani sangat punya. perhatian pada masalah-masalah kepemerintahan. Beliau sering datang dalam pertemuan atau rapat di pendopo. Walau tidak banyak berkomentar bahkan tak jarang.  tak sepatah kata pun beliau ucapkan, namun dengan kedatangannya saja kami sudah merasa tenang dan sejuk, sebab kami merasa apa yang kami lakukan telah mendapat restunya. 

Kiai Hasani memang lebih senang diam, Jika berkata sekalipun pendek, mengandung makna yang sangat luas dan dalam. Justru dengan sikap diamnya itulah kami semakin respek dan kagum. 

Kiai Hasani sangat peka dan tanggap terhadap persoalan keumatan. Beliau sering bertanya tentang bagaimana situasi keamanan Pasuruan dan memberikan nasehat-nasehat kepada para pejabat. Perhatian dan kesungguhannya setidaknya bisa dilihat dari masalah suksesi bupati yang sempat menjadi polemik beberapa saat lalu, “Yang saya inginkan bagaimana Pasuruan bisa tenang kembali”, kata Kiai Hasani saat itu. 

Sikap yang beliau tunjukkan selalu memberikan kesejukan pada siapapun yang melihat. Dan ternyata dalam kesederhanaannya beliau tetap punya kharisma yang begitu kuat. 

H. Thayyib, Pemilik dan Ketua Yayasan Sekolah Tinggi Daftar Pustaka: 

IImu Ekonomi (STIE) Malangkucecwara Malang

Kiai Hasani itu Ayah dan Guru Saya

Bagi saya dan keluarga, Kiai Hasani adalah guru sekaligus ayah. Sampai sekarang pun, saya masih punya semacam perasaan bahwa Kiai masih ada. Oleh karena itu, saya harap hubungan dengan Sidogiri terus berlanjut sampai kapan pun. 

Saya sangat kagum kepada Kiai Hasani. Sangat sulit mencari sosok ulama yang patut diteladani seperti beliau. Seorang ulama yang betul-betul ulama. Saya yakin Kiai Hasani adalah wali Allah. Bahkan, kata Kiai Mujahid, Malang, dan seorang Habib, Kiai Hasani itu mempunyai dua kewalian,  

Saya menerima banyak wejangan dari Kiai Hasani, terutama terkait dengan prinsip hidup serta jalinan ukhuwah dengan sesama Muslim. Salah satu pesan Kiai Hasani yang selalu saya ingat adalah prinsip menjaga kesatuan umat dengan tidak terjerumus ke dalam fanatisme partai dan golongan. Pesan Kiai Hasani ini sering saya kampanyekan kepada masyarakat dan para ulama. 

Dua pekan sebelum wafatnya, Kiai Hasani sempat menyatakan niatnya untuk naik haji pada tahun mendatang. Saya menyambut niat beliau ini dengan gembira. Tapi, saya juga sedih, sebab Kiai menyatakan setelah haji tidak akan kembali lagi. Saya berfirasat ini adalah isyarat bahwa beliau akan meninggalkan kita. 

Pernah, saat saya sowan pada beliau, saya diberi minum air Zamzam sampai tiga gelas. Padahal waktu itu sebenarnya saya puasa sunah, Dengan nada berat, Kiai Hasani mengutarakan bahwa hal utama yang membuatnya sesak berada di dunia ini, adalah konflik yang kerap terjadi sesama Muslim akhir-akhir ini yang dipicu konflik masalah partai. Kiai Hasani dawuh, ”Bagaimana aku akan bertanggung jawab terhadap santri-santri Sidogiri yang ikut partai ini dan itu, kemudian saling bertengkar?”

Disadur dari Buku Jejak Langkah Masyayikh Sidogiri Jilid 1

Pesan Buku

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *