Organisasi Murid Intra Madrasah (OMIM) menggelar seminar bertema “Revitalisasi Metode Dakwah Nabawiyah di Tengah Tantangan Zaman”, di Aula Gedung Sidogiri Corp. Acara ini diikuti oleh murid MMU Aliyah Jurusan Tarbiyah dan Dakwah, dengan menghadirkan Habib Ja’far bin Abu Bakar Al-Muhdhor sebagai narasumber utama.
Dalam sambutan pembuka, Wakil II MMU Aliyah, Ust. Abdul Qodir Husni, menyampaikan pesan Pengurus Harian Pondok Pesantren Sidogiri, bahwa murid MMU Aliyah harus terus mengembangkan keilmuan dan keahlian di bidang masing-masing agar mampu menjawab tantangan zaman.
Memulai materi, Habib Ja’far mengajak peserta menengok proses panjang persiapan kenabian melalui penjelasan dari Syekh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri dalam ar-Rahiq al-Makhtum. Beliau mengingatkan bahwa dakwah Nabi Muhammad tidak lahir secara instan sebagaimana tren dakwah digital saat ini yang cukup bermodal gawai. Nabi dipersiapkan Allah melalui fase menyendiri dan merenung di Gua Hira’, sebuah proses pendewasaan rohani dan intelektual yang berlangsung bertahun-tahun sebelum turunnya taklif risalah.
Habib Ja’far kemudian mengutip pendapat para ulama, termasuk Ibnu Katsir, bahwa usia empat puluh tahun adalah masa ruhul kamal, puncak kematangan seseorang ketika karakter dan perilaku telah terbentuk dengan kuat. Pada usia itulah Nabi diangkat menjadi Rasul. Dai asal Probolinggo ini menegaskan perlunya bekal keilmuan yang matang sebelum terjun berdakwah di tengah masyarakat, karena dakwah yang keliru bukan hanya salah, tetapi bisa menyesatkan orang lain.
Beliau juga menyinggung makna Surah Al-Muddatstsir, menekankan bahwa setiap gerakan nahi mungkar pasti diiringi tantangan. Sikap terbaik untuk menghadapinya adalah kesabaran. Alumnus Pondok Pesantren Sidogiri ini mengisahkan bahwa sebagian kaum Yahudi justru memeluk Islam karena melihat keteladanan dan kesabaran Nabi Muhammad.
Dalam pemaparannya, Habib Ja’far menjelaskan perjalanan dakwah Nabi di Makkah yang berlangsung dalam dua fase: fase sembunyi-sembunyi selama sekitar tiga tahun, kemudian fase dakwah terang-terangan hingga Nabi hijrah ke Madinah. Menurutnya, fase pertama yang berfokus pada pematangan diri inilah yang perlu direvitalisasi oleh para santri di era sekarang.
Di akhir acara, Habib Ja’far mengutip ayat dari Surah An-Nahl:
اُدْعُ إِلَىٰ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Ayat tersebut mengingatkan bahwa dakwah harus dimulai dengan hikmah, dilanjutkan dengan mauidzah hasanah, dan ditutup dengan dialog yang baik.
Penulis: Nijaful Ali
Editor: Fahmi Aqwa











