Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, Ahlan wasahlan semuanya. Yang saya hormati pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri dan Madrasah Miftahul Ulum. Nggih. Dan juga para asatidah yang hadir, para santri dan juga moderator tergacor kita pagi ini. Ustaz sinten? Ali Wafa. Nggih. Ali Wafa.
Alhamdulillah. Pertama, ini ketiga kalinya saya ini ke Sidogiri. Beberapa minggu yang lalu itu saya juga diundang, tapi berkaitan satunya tentang iliah di dalam akidah, kemudian iliah di dalam ushul fikih. Sekarang ini di dalam apa namanya akidah. Saya itu sering komplain kepada panitia yang mengundang saya itu selalu judulnya angel-angel, Ustaz. Saya ingin tuh kadang kala itu judulnya itu saadatul mari f taadudil azwaj lah. Itu saya bisa berbicara sampai subuh itu kalau itu walaupun cuma apa namanya walaupun cuma teori. Alhamdulillah. Insyaallah kita akan berbicara di sini tentang apa? Akidah sebagai landasan daripada tasawuf.
Saya tidak ingin menyanyiakan waktu dan alhamdulillah ya saya sudah menulis sedikit coret-coret semua ada nggih. Saya tulis dikit coret-coret ee ya kalau ada salah ketik atau salah damir ya dimaafkan. Saya ini aslinya meemang orang Tulung Agung. Jadi damir-domir itu biasanya masih bingung. Sampai sahihib Fathul Muin tuh ditanyai kenapa kok di Fathul Muin itu gak ada babul haid atau babul haidnya hanya sedikit katanya. dikatakan iya arrajul la tas’al wal marah arrajul la tahid wal marah la yasal kewalik ya karena memang beliau itu apa namanya daripada India bukan daripada apa namanya Arab, jadi memang saya lihat itu memang masalah di dalam kita itu masalah apa namanya damir jika ada salah tulis atau salah apa nggih saya mohon maaf
Dan memang benar Ustaz Ali Wafa tadi sudah dimukadimahi sedikit tentang masalah tasawuf ini. Tasawuf ini apa ya? Saya rasa masalah tasawuf ini sampai sekarang masih menjadi kata-kata yang kontroversi bagi saya. Bagi jenengan santri Sidogiri, orang NU atau para habaib. Tasawuf itu notabenanya baik. Oh, orang ini sufi bagus. Kenapa? Ya, orang sufi ini zahidun, mukhlisun. Akan tetapi kalau Anda itu melihat ke apa namanya? Wahabi atau orang-orang yang memang membenci orang-orang semacam ini, ya. Kata-kata tasawuf ini rodo sensitif sampai orang ini baik. Illa annahu sufi. Ini orang baik tapi dia itu orang sufi. Orang tasawuf. Jadi tasawuf itu di beberapa kelompok dia itu apa namanya? Dia itu kurang baik nama tasawuf. Akan tetapi kita sebagai penuntut ilmu tidak seyogyanya kita itu tertipu dengan nama. Gak nak boleh. Penuntut ilmu itu tidak boleh terikut dengan nama. Penuntut ilmu harus melihat maknanya apa, kemudian diungkapkan dengan apa. Silakan. Kita di dalam ushul fikih kita selalu mendengar la musyahatah fil istilah ba’da wuduhil makna. Tidak ada pertentangan, perdebatan di dalam istilah setelah maknanya itu je jelas jahid. Kemudian ee secara umum apakah ini penting ya, apakah setiap tasawuf itu baik? Apakah setiap tasawuf itu benar dengan arti kalau di dalam bahasa mantiknya itu hal yudohi attasawufu alhaq atau hal yalzamu minat tasawufi alhaq. Apakah kalimat tasawuf maknanya sama dengan kebenaran? Ketika oh orang ini belajar tasawuf artinya sama dengan belajar kebenaran atau ketika Anda itu bertasawuf Anda pasti benar karena yalzam minat tasawufi alhaq. Ini yang selalu kita itu ee isykal tadi disinggung oleh Mas Ali Wafa itu kenapa kok banyak tasawuf itu banyak tokoh-tokoh zuhud itu dituduh sebagai apa namanya sesat. Kita lihat ada ee Hallaj juga dituduh macam-macam. Kita di Indonesia kita punya sosok Syekh Siti Jenar dituduh yang macam-macam. Kan tidak hanya satu. Dulu ada namanya Azzahruwardardi Almaktul dibunuh, dieksekusi. Dikatakan ketika dieksekusi itu rambutnya panjang, kukunya panjang. Jadi kita melihat ada beberapa orang itu mengaku tasawuf tapi dianggap apa namanya? Sesat. Dia mengaku tasawuf loh ya. Dia mengaku belum tentu itu memang benar-benar tasawuf. oleh orang itu boleh mengaku, Ustaz. Tapi apakah yang diakui itu benar atau tidak? Itu cerita lain.
Tadi disebutkan juga oleh beliau ada sekelompok di desanya jenengan nggih. Yakni orang-orang yang mengaku sampai kepada hakikat. Dan itu pun juga pembahasan apa itu hakikat, bagaimana sampai ke dalam hakikat, prosesnya bagaimana. Nah, itu di dalam ilmu kalam disebutkan. Di dalam tasawuf juga disebutkan. Secara umum saya bisa mengatakan tidak semua tasawuf itu benar. Ada tasawuf yang benar, ada tasawuf yang salah. Ada sufi yang benar, ada sufi yang salah. Ini yang ini yang penting. Kita ini akhir-akhir ini di Indonesia ini banyak orang mengaku sufi tapi bermasalah. ngaku sufi tapi apa namanya bermasalah. Saya tidak ingin menyebutkan namanya ya. Tapi akhir-akhir ini kita sering mendengar mengaku sufi ya iso ngomong karo cacing lah bisa ngomong loh. Itu kalau Anda cek dia mengaku sebagai hakikat loh itu dia mengaku sebagai hakikat. Beberapa tahun yang lalu itu ada orang puas apa hari rayanya itu hari sebelum pemerintah. Aduh kok hari i piye iki? Satu atau dua yakni hari masuk akal, hari maksimal hari. Piye? Setelah dicek, “Iya saya telepon saya telepon Allah.” Waduh. Allah HP-ne opo iki? Loh, kalau Anda cek orang ini, dia pun akan mengaku bahwasanya dia itu adalah tasawuf. Mengaku daripada tasawuf sampai tasawuf itu dijadikan ejekan, dijadikan apa namanya? ee semacam bully-bulian. Wah, sufi. Kenapa? Karena banyaknya sudur, perkara-perkara yang notabene itu khurafat dari tokoh-tokoh atau dari orang-orang yang mengklaim dirinya itu apa? Sufi. Sampai seorang imam namanya Al Imam Al-Qusyairi mengarang kitab namanya Risalah Al-Qusyairiyah. Risalah Kusairiyah itu dikarang untuk para ahli tasawuf pada zamannya yang sudah mulai menyimpang. Yang sudah mulai apa namanya? Menyimpang. Nanti akan saya sebutkan beberapa contoh tokoh-tokoh tasawuf yang menurut ahli sunah itu dianggap menyimpang. Sebelum itu ee saya sudah anu ya, saya sudah sebutkan, saya sudah tulis di situ ee beberapa ada tujuh halaman kalau tidak salah. saya tulis ya, saya tidak akan baca semuanya akan tetapi saya akan baca inti-intinya saja, poin-poinnya saja. Insyaallah dalam sampai menit akan selesai materi ini. Nanti setelah itu kita teruskan dengan tanya tanya jawab. Nanti kalau saya baca per huruf nanti seperti yang dikatakan oleh moderator ini waktu tanpa batas. Waduh, kalau tanpa batas bisa sampai besok subuh ini. Jadi, gak usah lama-lama karena saya itu banyak membuat muhadarah ya. Biasanya kuliah umum biasanya setelah menit, maksimal menit otak itu sudah otak itu sudah nge-blank, sudah tidak bisa untuk dimasuki apa namanya dimasuki ilmu lagi. Sudah tidak bisa. Apalagi kita akan belajar ilmu yang agak baru. Mungkin ilmu-ilmu akidah, ilmu-ilmu kalam ini bagi banyak orang itu istilahatnya, lawazimnya, tadbiqatnya, masodiknya itu masih dianggap apa namanya? Baru. Karena akrabnya kita dengan fikih, tapi asingnya kita dengan ulum ulum-ulum aqliah seperti ulumul kalam.
Ini saya katakan di sini bahwasanya kata-kata tasawuf itu ada kontroversi. Ada yang mengatakan semua tasawuf baik itu kita biasanya itu yang selalu husnudan dengan ahli tasawuf yakni habaib, orang-orang NU, pondok-pondok Jawa itu biasanya dengan para sufiyun itu husnudon. Alah kabeh sufi insyaallah apik kabeh. Apik kabeh. Ada lagi yang suudon dengan para ahli sufi itu. Ini biasanya wahabi. Walah sufi kuropat. Wis langsung sebagian ulama-ulama yang muhaqikun itu ee mereka itu objektif ya. Gak semua baik juga gak semua buruk. Ada yang buruk dan ada yang baik. Kemudian tugas kita untuk membedakan mana yang buruk dan mana yang yang baik. Kemudian di pembahasan yang pertama saya tulis di sini ada lima mab, ada lima bab. Bab yang pertama tentang definisi tasawuf. Sebelum kita itu membahas tentang tasawuf, ya kita tahu definisinya dulu. T
Tasawuf daripada aspek bahasanya, daripada aspek bahasanya dia itu diambil daripada satu daripada empat kalimat. Ada yang mengatakan tasawuf diambil daripada kata-kata suf. Suf itu adalah benang daripada bulu domba. Wall biasanya wall ini benang yang kasar. Baju atau kain yang dipakai dari yang yang dibuat daripada bulu domba itu kasar. Orang-orang sufi itu dulu memakai kain apa namanya? Memakai kain wall. Kenapa? menunjukkan bagaimana kesufian mereka. Jadi yang namanya sufi itu zuhud. Zuhud itu tidak suka dunia. Barang-barangnya itu gak mahal-mahal. Walaupun sebenarnya kalau kita mau masuk lagi tidak ada hubungan ya antara barang mahal dan cinta dunia. Kadang kala barang Anda mahal tapi tidak cinta dunia. Saya berjumpa beberapa orang zuhud tapi barangnya mahal-mahal. Ada semacam itu. Tapi saya yakin dengan kezuhudannya. Tapi subhanallah Allah memberinya barang-barang yang yang mahal. Tapi pada zaman dahulu yang namanya sufi itu mereka itu zahidin anid dunya. Sampai pakaiannya pun pakaian yang tidak nyaman. Kenapa? Untuk mendidik jiwa mereka. Yang kedua, istiqaknya daripada kalimat sifatu masjidi Rasulillah sallallahu alaihi wasallam. Dulu Rasulullah itu punya santri namanya Ashabus Suffah. Karena itu sufi itu diambil daripada ashabus suffah menjadi apa? Sufi. Ada yang mengatakan daripada suf. Taswafa a taqomaso taqomaso a labisal qis tasawafa a labisas suf. Ini yang pertama. Yang kedua bahwasanya sufi daripada nisbah kepada santri-santrinya Rasulullah ashabus suffah. Yang ketiga, nisbah daripada saf saf saful awal. Karena orang-orang sufi biasanya berlomba-lomba untuk ke saf pertama. Yang keempat daripada khofa bersih. Karena orang-orang sufi itu biasanya hatinya bersih. Cuma al Imam Qusyairi di dalam kitab beliau Risalah Qusyairiyah mengatakan istilah-istilah ini secara bahasa gak ada yang kuat. Yakni tidak mungkin suf diambil daripada apa? Sufi diambil daripada suf. Karena tidak semua ahli tasawuf apa namanya memakai suf. Dan tidak mungkin daripada saf kok saf kok nisbahnya menjadi sufi. Saffi mungkin tapi sufi susah. Jadi secara bahasa itu mempunyai masalah. Sebab itu dikatakan satu orang sufi, kelompok sufiah, orang-orang yang ingin seperti sufiah namanya mutasawif tadi. Itu kan ee disinggung tadi oleh Ustaz Ali Wafa di dalam apa namanya? Di dalam Risalah ila ahli sunah wal jamaah. Mbah Hasyim Asy’ari menyebutkan jemah mutasawifah. Mutasawifah adalah orang yang ingin sampai menjadi sufi dengan cara yatasyabbah bihim. Meniru mereka daripada aspek bajunya. Kita akan melihat kan ada apa yang imamahnya apa besar-besar kemudian qosida jingkrakjingkrak ingin meniru sufi dengan atribut-atributnya. Itu namanya mutasawif bukan sufi. Kalau sufi yang sudah menjadi benar-benar sufi, orang yang ingin meniru mereka namanya apa? Mutasawif. Jamaahnya namanya jamaatun mutas mutasawifah.
Dikatakan saya katakan di sini h fil khulasah takrifulut tasawuf daripada bahasa. Adapun daripada istilah kita, saya menukil daripada kitab Ithaful Murid karangan Syekh Abus Salam Allaqani ee sebagai syarah daripada Jauharat Tauhid yang ada hasiahnya Al Imam ee Hasiyatul Amir. Alhamdulillah saya beberapa bulan yang lalu mengkhatamkan kitab ini dengan murid-murid saya dalam ilmu kalam level menengah sebanyak 83 kelas. Di akhir-akhir kitab ini, Al Imam Abdus Salam Alaqoni mendefinisikan ilmu tasawuf. Biannahu ilmun biusulin yu biha islahulq wasirul hawas. Dikatakan ilmu yang dengan ilmu itu kamu bisa untuk memperbaiki hati dan panca indra Anda. Ini menarik. Dengan Anda itu mempelajari ilmu tasawuf, panca indra Anda akan semakin baik. pendengaran Anda akan semakin baik, mata Anda akan semakin baik, semuanya akan semakin ba baik. Insyaallah masalah ini kapan-kapan akan saya jelaskan dan hubungannya dengan akidah dan hubungannya dengan dosa dan pahala. Akan tetapi, semua definisi tasawuf yang dikemukakan oleh para ulama sebenarnya semua itu kembali kepada hadis Jibril. Hadis yang kedua di dalam ee Arbain Nawawiyah ketika Rasul sallallahu alaihi wasallam ditanya tentang mal iman wamal Islam ihsan. Ditanya tiga perkara ini. Apa itu iman? Apa itu Islam? Yang ketiga ditanya apa itu ihsan? Ini loh ihsan. Ihsan ini adalah hakikat daripada tasawuf. Karena itu beberapa guru saya itu ketika menjelaskan tentang tasawuf, beliau itu mengungkapkan had hual ihsan fi’lan. Yakni tasawuf itu ibaratul ulama, ibaratun nubuwah itu ihsan.
Didefinisikan oleh Rasul ketika Rasul itu ditanya oleh malaikat Jibril, “Ma hual ihsan?” Rasul sallallahu alaihi wasallam menjawab, “An’budallah kannaka tarahu fain lam takun tarahu fainnahu yaraka.” Kita lihat ya, ini bagaimana cara kita memahami hadis ini. Anta’budallah. Sekiranya kamu itu menyembah Allah seperti kamu melihatnya. Kalau kamu tidak bisa melihatnya, maka kamu yakini bahwasanya Allah melihatmu. Loh, itu kan kalau orang normal memahami hadis ini kan. Saya beritahu, saya beritahu bagaimana tasawuf yang terbina atas akidah yang tidak benar memahami hadis ini. Ada sekelompok orang akan saya jelaskan namanya kelompok wihdatil wujud yang meyakini bahwasanya Allah itu wujudul mutlak. Kita semua ini hanya manifestasi daripada Allah. Kita ini tidak tidak ada. Yang ada hanya Allah.
Orang dengan akidah semacam ini memahami hadis ini berbeda. Bagaimana cara memahaminya? Fain lam takun tarah fain lam takun anta maujudan taroh. Yakni tarohu jawab daripada in. In lam takun takunnya syarat jawab syaratnya mana taruh. Kalau kamu tidak ada kamu melihat Allah. Ketika loh saya bukan saya membuat-buat ini. Saya melihat orang ketika muhadarah di Nusantara. Bukan orang Nusantara tapi orang Arab di Malaysia. Muhadarah mengatakan semacam ini. In lam takun taro loh kita kan fain lam takun tarohu fainnahu dia gak fain lam takun anta maujud dan taruh lihat bagaimana akidah yang salah menjadikan tasawuf yang salah pada saat itu cara memahami hadis pun juga salah fain lam takun tarah oke dia jawabusyarat lah terus kenapa kok tarohu Hfu harfilahnya mana? Oh gak jawab syarat tidak mesti hadfu harfil illah. Ini katanya muknillab bla bla bla bla bla. Wis macam-macam dijadikan pendapat-pendapat yang daif fi ulumul lughah sebagai pembenar bahwasanya makna hadis ini adalah apa? Yang sesuai dengan akidah yang dia yakini. Ini loh, Ustaz. Pentingnya Anda itu mengetahui akidah.
Kenapa dikatakan akidah itu penting? Akidah Anda yang mentakwilkan hadis. Anda jangan mengira Muktazilah, Syiah, Wahabi itu tidak menggunakan Al-Qur’an wasunah. Mereka menggunakan Al-Qur’an wasunah. Bahkan Wahabi pun Alkitab was sunah. Kan syiarnya mereka kan. Nahnu maal kitabi was sunah. Sampai kajian-kajian mereka itu kajian asunah. Selain daripada mereka itu bidah. K itu kan ini ustaz-ustaz sunah lah saya kok gak ada. Maknanya saya ini ustaz bidah. Ustaz Ali Wafa juga ustaz bidah karena tidak termasuk daripada ustaz-ustaz sunah. Mereka pun juga menggunakan hadis menggunakan Al-Qur’an. Tolak ukurnya bukan Quran dan hadisnya tapi bagaimana cara memahaminya. Jadi masalah ini kalau saya singgung dia itu akan menjadi lama. Kita langsung saja di dalam an ta’budallah kannaka tarahu fainam takun tarahu fallahu yaroka fakalimatu an yakni fakalimatu an ta’budallah masdaril muawal. Lihat an ta’budallah. An itu kan harf masdari, nasibah masdariah dengan arti dia merubah fi’il yang setelahnya menjadi masdar. Anta’budallah ay ibadatukallah. Dan masdar itu menunjukkan kepada perbuatan. Dia tidak menunjukkan kepada sifat. Almasdar yadulu alal fi’il la yadulu al sifah. Dan selama itu perbuatan, perbuatan itu, Ustaz, harus dilakukan atas dasar tertentu, cara tertentu, dan maksud tertentu. Ini penting. Ini hakikat daripada tasawuf. Hakikat daripada tasawuf adalah perbuatan yang dilakukan atas dasar tertentu, cara tertentu, maksud tertentu. Apa? Yakni ketika Anda mengatakan anta’budallah kaannaka tarahu. Caramu menyembah Allah sekiranya seperti kamu melihat Allah.
Ini an kata-kata an menunjukkan kepada perbuatan dan perbuatan harus ada dasarnya, caranya, maksudnya. Tiga perkara ini akan menjadi hakikat daripada ilmu tasawuf. Maka perbuatan di dalam ilmu tasawuf tidak dikatakan dia itu menyimpang jika dia memenuhi tiga unsur ini. Atas dasar yang benar, atas cara yang benar, dan atas maksud yang benar.
Asas yang benar adalah akidah yang benar. Kaifiah yang benar, mazhab yang benar. Maksud yang benar itu adalah apa yang Anda inginkan daripada perbuatan ini. Di dalam ilmu tasawuf kita kenal dengan nama al-ahwal wal maqomat. Ada ahwal, ada hal makam. Pernah dengar ya? Ada hal makam. Hal itu adalah sesuatu yang ada pada diri Anda, kondisi tertentu pada diri Anda dan dia itu mudah untuk hilang. Makam yang sudah merasuk dan mengakar pada diri Anda, dia susah untuk hilang. Ini perbedaan antara hal dan dan makam. Maka artinya ibadah Anda yang terbina atas akidah tertentu, cara tertentu akan menyampaikan Anda kepada makam tertentu. Ketika akidahnya benar, caranya benar, insyaallah ahwal dan maqamatnya benar. Ketika satu daripada dua perkara ini sah, maka dia akan dikatakan menyimpang.
Dan menyimpang itu sendiri berlevel-level. ada penyimpangan sedikit, ada penyimpangan yang tinggi. Semakin banyak kesalahannya, semakin banyak penyimpangannya. Dan biasanya penyimpangan yang paling nemen, penyimpangan yang paling parah ketika penyimpangan di dalam akidah. Ketika akidah Anda salah, kemudian Anda membina amal atas akidah yang salah, maka pada saat itu caranya pasti akan salah, maksudnya juga pasti akan salah. Oke. Saya katakan di sini bahwasanya wabiin aksufa amalul bilim lilusulallahi taala. bahwasanya yang namanya tasawuf adalah amal atau suluk. Anda menjadi seorang ahli ibadah menuju kepada Allah dengan cara tertentu.
Jadi. Pembahasan yang kedua, taksimut tasawuf ila sunniyin wa bidi. Ini penting. Kita ini adalah penuntut ilmu. Penuntut ilmu harus bersikap berdasarkan dalil. tidak bersikap berdasarkan emosi. Saya mungkin kalau berbicara depan orang-orang awam, saya tidak berani mengatakan semacam ini. Tapi ini saya di Sidogiri yang terkenal Sidogiri itu basul masailnya masyaallah, penuntut ilmunya masyaallah, sudah mempunyai sejarah ilmiah itu ratusan tahun. Saya akan sedikit terus terang ketika menyikapi masalah-masalah yang berkaitan tentang tasawuf. Walaupun nanti ada yang mungkin ee agak tersinggungkah atau mungkin agak gak enakkah, tidak ada masalah. bisa ditanyakan di sini, di forum ini, atau di forum-forum yang yang lain. Saya punya Facebook juga terbuka, saya punya channel juga terbuka, saya punya YouTube juga terbuka. Share and subscribe ya. Nyalakan lonceng kalau katanya orang. Nyalakan lonceng. Ayo, Pak.
Pembahasan yang kedua. Tasawuf terbagi menjadi dua, tasawufun sunni dan tasawufun bidi. Setelah kita mengetahui di dalam tasawuf di dalam istilah bahwasanya tasawuf terbagi menjadi tiga. Asasul amal, kaifiyatul amal. Asasul amal ini akidah. Dengan arti akidah ini banyak. Anda ketika berbuat akidah yang melatar belakangi perbuatan Anda itu harus benar. Kalau tidak benar akidah Anda, apa? Kalau tidak benar akidah Anda, maka perbuatan Anda pun juga tidak benar. Ada orang muslim bersedekah, benar, orang kafir bersedekah, apakah benar? Dengan arti mendapat pahala? Tidak. Orang non muslim bersedekah tidak mendapat pahala. Nanti apakah dia dengan sedekah itu masuk surga? No. Kemudian apakah di neraka ada faedahnya? Khilaf. Ada yang mengatakan tidak ada faedahnya. Ada yang mengatakan faedahnya meringankan sedikit siksa api neraka. Itu khilaf bainal ulama. Tapi jelas sedekahnya orang kafir di dunia tidak menjadikannya masuk surga.
Akidah yang benar, perbuatan yang benar harus terdiri daripada akidah yang benar. Apa akidah yang benar? Akidah Ahli Sunah, Asyairah dan Maturidiah. Asy’ai dan Maturidi itu yang benar. Jadi, Anda bisa beramal atas akidah selain ahli sunah. Anda bisa beramal atas akidah mujassimah, Wahabiyah, Muktazilah, Syiah, Wihdatul Wujud. Bisa. Akan tetapi akidah Anda, akan tetapi amal Anda tidak dikatakan amal yang sempurna karena terbina atas akidah yang tidak benar.
Yang kedua, akidahnya benar, tapi cara Anda beribadah juga harus benar. Apa cara beribadah yang benar? Kaifiyatul amal. Cara Anda untuk salat, cara Anda untuk puasa, cara Anda untuk zakat. Harus benar. Apa cara yang benar di dalam beribadah? Anda menggunakan salah satu cara daripada empat mazhab. Mazhab Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal. Anda menggunakan satu daripada empat cara ini, satu daripada empat mazhab ini. Oh, akidah saya oke kok, tapi fikih saya zohiri, fikih saya zaidi, fikih saya ibadi, bermasalah. Sekarang ini ada tren baru di kalangan Wahabi. Akidahnya Ibn Taimiyah, fikihnya Syafi’i. Dulu kan fikihnya kan kitab wasunah kan, yakni apa kamu? Mazhab kamu apa? Kita kitab wasunah. Akhir-akhir ini saya lihat ada anomali beberapa Wahabi mempelajari matan-matan fikih. Mempelajari Fathul Qarib, mempelajari umdah. Dikatakan, “Oh, saya Wahabi tapi fikih saya Syafi’i.” Oh, masyaallah. Ini varian baru. Saya bilang ini varian baru daripada wahabi. Akidahnya tajsim tapi fikihnya Syafi’i. Y saya saya bilang alhamdulillah dulu menyimpang akidah dan fikihnya. Sekarang menyimpang di akidahnya saja. Fikihnya sudah tidak menyimpang. Yo dikit-dikit ustaz enggak iso langsung itu diterapi fikih dulu nanti apa namanya akidahnya.
Yang ketiga, gayatul amal. Anda ketika beramal, maksud Anda apa? Maksudnya ini harus benar. Ada orang ketika beramal ben sakti. Anda kenapa beramal anu ben kebal? Itu bukan maksud yang benar. Maksud yang benar ketika Anda itu beramal namanya apa? Namanya alwusul. Wusul ilallah. Nanti akan saya jelaskan makna al wusul ilallah, makna yang benar, dan makna yang salah. atau Anda mendapatkan alat atau maqomat pada diri Anda. Maka saya definisikan di sini attasawuf sunni hu tasawuf al mabni alal aqaidunah alasyairah wal maturidiyah wakunul wakunul amal al kaifiyati ahadil maahibil arbaah almtabarah.
Jelas ya. Jadi ee tasawuf yang benar adalah tasawuf yang terbina atas akidah ahli sunah dan amalnya salah satu daripada empat mazhab yang muktabar. Kemudian setelah itu amal yang benar itu akan menjadikan Anda mempunyai kondisi ahwal dan maqamat yang benar.
Maka ahwal dan maqamat adalah kondisi yang Anda dapatkan ketika Anda beramal dengan benar. Karena itu tasawuf di dalam hadis diungkapkan dengan al–ihsan a ihsanul amal. Anda beramal dengan benar, Anda beramal dengan baik. Maka ketika amalnya itu benar, akidahnya benar, caranya benar, lazimnya, efeknya akan membuat Anda mempunyai apa? Ahwal dan maqamat yang benar. Adapun tasawuf yang bidi, tasawuf yang bidah itu terjadi dengan penyimpangan satu daripada dua minimal menyimpang daripada akidahnya, menyimpang daripada caranya untuk beramal. Saya pernah melihat akidahnya benar, salatnya, Pak, takbirnya di sebelah kiri, salamnya sebelah kanan. Loh, kui piye kuwi? Kuwi Anda itu salat semacam itu diajari oleh siapa? Saya pernah melihat semacam Allah. Anda cara beramal semacam itu gak ada masalah. Boleh. Cuma saya pengin minta itu caranya siapa? Apakah dulu salatnya Imam Malik seperti itu, Imam Syafi’i semacam itu, atau Imam Ahmad bin Hambal semacam itu? Atau Imam Abu Hanifah itu salatnya siapa? Akidahnya benar. cara salatnya yang salah. Pada saat itu apa ya? Akan terjadi sebuah kondisi terjadi ahwal dan maqamat. Tapi ahwal dan maqamat ini tidak teridentifikasi sebagai ahwal dan maqamat yang benar menurut ahli sunah wal wal jamaah. dikatakan eh bana amalahu aidajsimtil wujud. Yakni barang siapa yang membina amalnya atas akidah mujassimah. Anda jangan kira loh ya. Dalam mujassimah dalam Wahabi ada sufinya. Dalam Muktazilah ada sufinya. Dalam Syiah ada sufinya. Dalam wahdatil wujud banyak sufinya. Tapi tidak semua sufi itu be benar. Kenapa? Karena terbina atas akidah yang tidak benar. Nanti di bab selanjutnya saya jelaskan beberapa sampel sufi-sufi yang tidak benar. Sufi terkenal tokoh sufi tapi tidak tidak benar.
Ini penting. Di sini ini ada sedikit mantiknya. Maka ketika kita itu beribadah akan ada semacam dan makamat. Saya kondisikan di sini bahwa saya katakan di sini amal ibadah Anda seperti malzum. Kemudian kondisi yang Anda dapatkan seperti tumakninah, syukur, sabar itu seperti lazim. Di dalam ilmul mantik ada perkataan semacam ini. Idza shohh al malzum shohha al lazim. Kalau malzumnya itu benar, lazimnya itu benar. Kalau lazimnya itu salah, malzumnya itu salah. Itu yang benar. Dua ini. Jadi kalau amal ibadah Anda itu benar, ahwal dan maqamat Anda pasti benar. Kalau ahwal dan maqamat Anda salah, amal ibadah Anda pasti salah. Tapi belum tentu kalau ahwal dan maqamat Anda benar, amal ibadah Anda benar. Belum tentu. Amal ibadah Anda salah belum tentu ahwal dan maqamat Anda salah. Jadi kadang kala ketenangan ala bidikrillahi tatmainul qulub. Kalau Anda berzikir kepada Allah, hati Anda akan tenang. Tapi belum tentu kalau hati Anda tenang, itu sebabnya Anda berzikir karena Anda berzikir kepada Allah. Ini penting, ya. Jadi, ketenangan hati itu lazim daripada berzikir kepada Allah. Dengan arti kalau Anda berzikir kepada Allah, hati Anda tenang.
Tapi apakah setiap ketenangan hati itu sebabnya berzikir kepada Allah? Belum tentu. Saya itu punya teman dengan pacarnya. Alhamdulillah, Dik. Dik, aku lek ning sampingmu, hatiku tenang. Loh, di samping pacarnya hatinya tenang. Kalau jauh daripada pacarnya hatinya gak tenang. Jadi ketenangan hati itu bisa didapatkan daripada perkara yang halal dan bisa didapatkan daripada perkara yang haram. Belum tentu hati Anda tenang. Anda itu benar. Belum tentu itu. Oh, aku tenang. Maknanya aku ini benar. Itu salah loh. Anda kira orang-orang Nasrani gak tenang? Hati mereka tenang, Pak. Orang-orang non Islam, orang-orang non ahli sunah tenang. Orang-orang khawarid saking tenangnya sampai wani perang kok. Aku yakin ini benar, aku tenang, enggak terimo, ayo perang. Itu menunjukkan tingkat ketenangan hatinya khawarij sangat tinggi sekali. Tapi kita meyakini khawarij tidak benar. Wahabi-wahabi opo ndak tenang? Hatine tenang, Pak. Masyaallah. Salate ngala-ngalahi ahli sunah dalam beberapa kasus sampai ireng kabeh ngene nih. Ini Ustaz Ali Wafa enggak ada hitam-hitamnya ini. Ini enggak tahu ini salatnya kurang atau bagaimana. Coba jadi Wahabi sebentar insyaallah apa namanya? Guyonan itu. Itu guyonan saja.
Jadi, Anda akan melihat bahwasanya ketenangan hati ada pada yang benar dan ada pada yang salah. Anda tidak bisa untuk berdalil bahwasanya Anda tenang, maka benar. Saya beri contoh lagi, adanya perkara-perkara yang luar biasa. Ada seorang sufi bisa terbang. Apakah setiap terbang menunjukkan kebenaran? Woh, Ustaz Ali wafa seorang sufi iso mumbul. Wah, aku tak melok jenengan, Ustaz. Karena terbukti Anda bisa terbang. Berarti akidah Anda dan amal Anda benar. Apakah cara istidlal semacam ini benar? Tidak. Jadi perkara-perkara yang luar biasa yang ada pada seseorang tidak menunjukkan kebenaran akidahnya. Ketenangan hati pada seseorang tidak menunjukkan kebenaran tasawufnya. Tidak. Maka tasawuf yang benar pasti lazimnya kondisi yang benar, ahwal dan makam yang benar. Kemudian ahwal dan makam yang salah, Anda bingung terus, Anda mau maksiat terus, Anda sombong terus. Maknanya amal Anda bermasalah. Tapi kebenaran sebuah ahwal wal maqomat tidak menunjukkan tasawuf dan amal Anda itu benar. Ini yang paling penting. Karena setiap wirid, setiap amal benar ataupun salah akan membuat kondisi tertentu pada kejiwaan Anda. Di sini setan bermanuver, Ustaz. Ketika Anda itu mengamalkan amaliah-amaliah yang salah, saya ungkapkan di sini di dalam kitab UDul Almas karangan Habib Alawi bin Thahir Haddad, mufti Johor Sabiqon. Beliau menemukan sebuah jemaah mutasawifah yang menyimpang. Zikirnya bukan lailahaillallah tapi anallah. Aku Allah. Anallah. Anallah. Anallah. Anallah. Anallah. Zikirnya semacam itu. Antallah. Huallah. Anallah. Jadi zikirnya itu selalu mengatakan apa? Anallah. Anallah. Anallah. Dia merasa bahwasanya kalau kamu melakukan semacam ini, kamu akan mempunyai haibah. Orang-orang tunduk kepadamu. Kamu akan tenang. Lihat zikirnya salah. Ada gak? Ada jenengan pernah tahu kiai-kiai kita mewasiatkan zikir anallah? Ada gak? Ada zikirnya itu lailahaillallah, subhanallah, subhanallah, walhamdulillah, walailahaillallah, wallahu akbar. Gak ada la habaib wala kiai mewariskan zikir apa? Anallah. Tapi ketika Anda berzikir anallah akan ada kondisi tertentu pada kejiwaan Anda. Kondisi ini seperti kondisi kejiwaan. Ketika Anda berzikir dengan zikir yang benar, hati Anda tenang. Di sini setan bermanuver. Di sini apa namanya? Setan bermanuver. Setan akan bermanuver bahwasanya, “Oh, Anda berzikir ini kondisi hati Anda tenang.” Maknanya ini zikir yang benar.
Orang-orang yang tidak mempunyai akidah yang benar akan bermasalah di sini. Tidak, tidak, tidak mempunyai ilmu yang benar akan bermasalah. kita penuntut ilmu. Eh, enggak oleh rek berzikir semacam ini. Enggak diajarkan oleh para kiai. Maknanya juga sa salah. di sini loh. Saya dulu pernah berjumpa dengan apa namanya dengan salah seorang mursyid tariqoh. Dia pandai sekali yakni mursid tareqoh ini. Terus dia mengatakan bahwasanya dalam kondisi tertentu wirid-wirid yang diberikan oleh ahli tasawuf akan memberikan kesan tertentu di dalam kejiwaan seseorang. Di sini orang-orang yang tidak mempunyai ilmu yang kuat akan digoda oleh setan. Setan seakan-akan menampakkan kepada kita ahwal wal maqamat asahihah. Seakan-akan orang ini sudah wusul ilallah. Ternyata masih belum wusul ilallah. Menjadikan dia itu sombong. Maka setan akan bermanuver di tempat ini, di masalah ahwalnya. Seakan-akan ahwal yang terjadi daripada zikir dan akidah yang salah yang menyerupai ahwalnya ini menyerupai ahwal yang shahah membuat dia tenang dan tetap di akidah dan amal yang sa yang salah.
Maka saya ingin mengatakan bahwasanya nama tasawuf tidak khusus untuk ahli sunah. Hati-hati. Nama tasawuf bukan monopoli untuk ahli sunah. Semua juga punya tasawuf. Wahabi punya tasawuf. Muktazilah punya tasawuf. Wihdatil wujud punya tasawuf. Syiah punya tasawuf. Buddha punya tasawuf. Kurang kurang waro apa? Biksu-biksu Buddha itu loh. Iya loh. Kalau masalah rad dunya, wah kalah kita. Kalah kita. Masyaallah. Ada yang sampai ee gak mau menikah loh beberapa tokoh agama selain Islam itu setahu saya ee Pedri Pastur itu banyak yang tidak menikah. rohbaniah. Akan tetapi kita di dalam Islam meyakini cara itu salah dan ditegur oleh Allah. Apa rohbaniyatan ibtadauha. Yakni mereka itu mewajibkan pada diri mereka itu rohbaniah. Tidak mereka apa? Tidak. Tidak menikah. Ibtadauha. Mereka buat-buat sendiri. Ma anzalallahu biha.
Allah tidak menurunkan syariat untuk itu. Jadi tasawuf zuhud, ahwal bukan monopoli ahli sunah. Ini penting. Jadi tidak semua tasawuf itu benar, tidak semua tasawuf itu sunni. Ada beberapa tasawuf yang tidak sunni. Tolak ukurnya apa yang tadi saya sebutkan. Baik. Maka beberapa orang yang lemah akan datang kepadanya ahwal wal maqomat yang batilah mirip dengan shahihah. Di situ setan akan bermanuver untuk mewas-was ini tasawuf ini ahwal yang benar. Karena itu kamu harus tetap di dalam cara ini. Dulu pernah Syekh Said Foda guru saya itu kedatangan jemaah tasawuf meminta guru saya untuk baiat kepada mereka. Oke. Apa dalil tareqahmu itu benar? Dalil tareqah saya itu benar. Saya bisa memegang listrik tanpa kesetrum. Loh, betul dia memegang listrik tanpa kesetrum. ada lagi dia menusukkan pisau ke kepalanya sampai mancep dan tidak mati. Dan guru saya sendiri yang mencabut pisaunya. Karena saya bisa khoriqul adah, maka tareqah saya yang benar. Di sini kalau orang pintar langsung mengatakan bahwasanya khawariqul adat, perkara-perkara yang luar biasa tidak menjadikan Anda itu benar. Kurang hebat apa Dajjal? Betul apa tidak? Kurang hebat apa dajal itu. Tapi apakah perkara khawariq adat yang dilakukan oleh dajal menjadikan dajal itu adalah orang yang yang benar? Tidak semua khawariqul adat karamah. Tidak semua khawariqul adat mukjizat. Ada yang khawariqul adat itu istidraj untuk menipu orang. Karena itu beberapa ulama tasawuf mengatakan roitumula yatiru fil hawa. Yakni kalau kamu melihat orang itu terbang di di langit apa di di udara atau berjalan di atas air, jangan kamu ikuti sampai amal perbuatannya kamu sodorkan ke kitab was sunah. Sesuai ikuti, tidak sesuai tidak kamu ikuti. Karena itu seharusnya kita mengikuti yang benar-benar terjamin kualitas keilmuannya daripada kitab wasunah. Bukan yang nampak karamatnya. Karena tidak semua khawarikl adat itu karamah. Tapi dunia sudah terbalik-balik, Ustaz. coba kalau ada orang yang diklaim majedub lewat sama Ustaz Sidogiri lewat yang banyak disalami yang mana? Wis gak usah jauh-jauh. Anggap saja Mama Gufron lewat sama Ustaz Ali Wafa lewat. yang disalami Mama Gufronnya atau Ustaz Ali Wafa. Malah Ustaz Ali wafa disuruh bawakan heh sendale Mama Gufron bawaan dikira yang membawa apa namanya sendal. Saya rasa ini ini terbalik-balik terbalik-balik. Al-ibrah bukan dengan orang-orang semacam itu. Al-ibrah bil ulama apa namanya? Agama Islam tegak dengan ulama. Agama Islam tidak tegak dengan karamat. Agama Islam tegak dengan Ghazali, Juaini, Tiftazani. Mereka itu ulama. Kitab-kitabnya dipelajari sampai sekarang. Wallahuam.
Kemudian di mabhas yang ketiga saya sebutkan sebagian rijal-rijal tasawuf, tokoh-tokoh tasawuf yang yakin daripada ahli sunah dan yang bukan daripada ahli sunah. Sebenarnya banyak ya, cuma saya cuma sebutkan dua saja yang daripada ahli sunah. Yang non ahli sunah saya sebutkan tiga.
Yang pertama adalah Abul Qasim Aljunaid. Ya, ini Nahdatul Ulama menjadikan Aljunaid sebagai representasi daripada tasawuf Nahdiyah. Betul. Yakni Aljunaid sayyidut Thaifah. tasawufnya sudah dicek oleh para ulama. Tasawufnya clear, tidak ada masa masalah. Nama beliau Abul Qasim Aljunaid bin Muhammad bin Junaid Annahawandi Albaghdadi. Luukiba bisayid Thaifah. Laqabnya Sayyid Thaifah. Saya nukil beberapa perkataannya Imam Junaid di dalam akidah. yang dinukil oleh Al Imam Qusyairi di dalam kitabnya Risalah Qusyairiyah. Imam Qusyairi dalam kitab beliau Risalah Kusyairiyah menterjemahkan beberapa tokoh-tokoh tasawuf yang dikenal dengan nama Rijalul Qusyairiyah. Itu adalah tokoh-tokoh tasawuf yang sudah clear memang tokoh tasawuf daripada kalangan ahli sunah wal jamaah. Yang nomor satu Aljunaid. Aljunaid ini di antaranya apa perkataan beliau? Attauhid ifradul qidam anil hadas. Ini kalam kalau saya mau saya syarahkan bisa satu jam. Bahwasanya menurut Imam Junaid tauhid bedakan mana Allah mana makhluk. Itu dia ada Tuhan ada makhluk Allah. Ada makhluk, ada. Tapi ini dua entitas yang berbe berbeda. Jadi ada dua entitas yang berbeda, bukan satu entitas yang sama. hati-hati ya karena hal ini akan terbina banyak masalah setelah ini ya.
Kemudian di antara perkataannya Imam Junaid adalah ketika ditanya kurbillah apa makna dekat kepada Allah itu apa? Dikatakan Allah itu baidun bila iqtirob waqoribun bilaltizaq. Allah itu jauh. tanpa mendekat dan dekat tanpa menyentuh. Dengan arti dekatnya Allah itu bukan dekat fisik seperti apa yang dikatakan oleh mujassimah. Ada perbedaan antara kita dan Allah, perbedaan jarak. Perbedaan kita dan Allah menurut ahli sunah bukan perbedaan jarak, tapi perbedaan hakikat. dengan arti hakikat kita berbeda dengan hakikat Allah Subhanahu wa taala. Itu yang namanya mubayanah berbeda. Wahabi mengatakan tidak. Perbedaan antara kita dan Allah perbedaan jarak. Karena itu digojloki. Kalau memang semacam itu dekat kepada Allah itu semakin tinggi tempatmu, semakin dekat Anda dengan Allah. Jadi orang yang ada di puncak gunung itu lebih dekat kepada Allah daripada yang ada di kaki gunung. Kita ada di tingkat berapa ini? Tingkat tiga. Kita lebih dekat kepada Allah daripada yang ada di dalam tingkat satu. Ahli sunah tidak dekat kepada Allah itu dekat mengetahui sifatnya, sifat-sifat kesempurnaannya. Ini di antara beberapa maqalat daripada Al Imam Abul Qasim Aljunaid.
Yang kedua daripada tokoh ahli tokoh tasawuf yang clear daripada kalangan habaib adalah Al Imam Abdullah bin Alawi Al Haddad. Clear tidak ada masalah. Tokohnya habaib yang bisa dijadikan sandaran. Tidak semua habaib akidahnya atau tasawufnya benar. Ada beberapa bermasalah. Tapi yang benar dua ini. Siapa? Al Imam Abdullah bin Alawi Al Haddad. Satunya lagi Al Habib Abdullah Al-Idrus Qutbil Mala’. Makamnya ada di Zanbal. Dua-duanya makamnya ada di Zanbal. Berd berdekatan. Dua imam ini masyaallah clear dan ee arus utama habaib semuanya ke Al Imam Abdullah bin Alawi Al Al Haddad. Dan di dalam nas kitab-kitab beliau mengatakan bahwasanya ikutilah akidah Asy’ari dan Matu Maturidi. Dan Imam Abdullah bin Allawi Al-Haddad menyebutkan apa beliau mempunyai satu kitab namanya Akidatu Ahli Islam tentang akidah-akidah yang wajib diyakini sebagai seorang ahli sunah wal jamaah. Anda tengok hampir semua tokoh-tokoh sufi ahli sunah ketika mengarang kitab tasawuf pasti didahului dengan akidah. Risalah Kusyairiyah awalnya akidah. Ihya Ulumuddin awalnya akidah. Imam Haddad pun juga punya kitab namanya Akidatu Ahlil Ahlil Islam. Lihat bagaimana beberapa kalamnya Imam Haddad. La tuhitu bihil jihat wal-haditsat. Ini semuanya adalah qarah. Allah tidak diliputi arah. Allah tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan, tidak di kiri. Berbeda dengan mujasimah. Allah itu di atas, makhluk di bawah. Dan Allah terbatas. Walal haditat. Allah tidak bersama dengan perkara-perkara yang hawadis khilaf lil wahabiyah yang mengatakan bahwasanya sifat Allah hampir semuanya hawadis. Dengan arti ketika Anda mengatakan Allah itu mempunyai iradah artinya adalah irodatun haditah qoimatun fidatillah itu bukan akidah ahli sunah wal wal jamaah. maudatun wahu min. Semua ini adalah contoh-contoh perkataan seorang sufi terkenal, Al Imam Abdullah bin Alawi Al Haddad dalam akidah-akidahnya yang selaras dengan akidah ahli sunah wal jamaah. Karena itu tasawufnya benar, apa namanya nasai diniah bagus, risalah muawanah juga oke, Fusulul Hikmiyah juga oke. Dan dibaca oleh kiai-kiai, oleh pondok-pondok Jawa, nasaih, Risalah Muawanah, itu semua dibaca. Kenapa? Karena akidahnya clear, tidak ada masa masalah.
Oke, sekarang qsim yang kedua lah. Ini mulai kontroversi. Qism yang kedua adalah tokoh-tokoh tasawuf yang tidak sesuai dengan akidah ahli sunah wal jamaah. Saya sebutkan tiga, sebenarnya banyak, cuma karena waktunya mungkin tidak banyak, saya sebutkan tiga.
Yang pertama adalah Muhammad bin Ali bin Muhammad Ibnu Arabi alhatimi atto’i al-Andalusi yang masyhur dengan Muhyiddin ibn Arabi, Syaikhul Akbar. Syekhul Akbar ini walaupun banyak diagung-agungkan keyakinan saya dan guru-guru saya Syekh Said Foda dan Madrasuh mengatakan bahwasanya Ibn Arabi bukan bagian daripada ahli sunah wal jamaah. Beliau mempunyai akidah yang lain. Akidah yang berbeda dengan akidah ahli sunah. Namanya akidah wahdatil wujud. Akidah wahdatil wujud di Indonesia mirip-mirip dengan manungaling kawulo Gusti.
Ini saya sebutkan beberapa pendapatnya beliau ya. Saya akhir-akhir ini saya banyak membaca kitabnya Ibn Arabi daripada Fusul Hikam, Futuhat Makkiah saya baca yakni saya pun masih heran bagaimana kok banyak orang mengatakan orang semacam ini adalah daripada bagian ahli sunah wal wal jamaah.
Di antara pendapat-pendapat Ibn Arabi adalah yang pertama Allah itu adalah alwujudul mutlak. Kita ahli sunah mengatakan bahwasanya wujud itu sifatun nafsih. Betul apa tidak? Kita kalau mempelajari akidah sifat , wujud adalah sifatun nafsiah. Wujud ini bukan sifatun hakikiyah. Dia sifatun nafsiah iktibariah laisa hakikiah dia. Karena itu anda mengatakan zaidun maridun. Marid menambahkan sesuatu yang asing pada Zaid. Tapi ketika Anda mengatakan Zaidun maujud, maujud ini la yazidu ala zaid illa anna zaid illa anna zaidan mutahakun fil-kharij. Dengan arti Zaid hanya ada di dalam dunia luar. Kata-kata wujud tidak menambahkan sesuatu yang asing pada Zaid. Maka wujud bukan sesuatu yang real. Tapi ketika Anda mengatakan, ketika Ibn Arabi mengatakan tidak, yang real wujud. Wujud itu ya Allah. Allah sama dengan alwujudul mutlak tanpa dibatasi apapun. Kita semua tidak maujud. Kita ini bukan wujud. Yang wujud itu hanya Allah. Anda tidak bisa mengatakan ana maujud seperti Allah maujud. Pada saat itu dikatakan Anda itu musyrik. Kenapa? Karena Anda mengklaim Anda mempunyai wujud seperti Allah mempunyai wujud. Karena Allah itulah hakikat daripada wujud lah. Kita ini apa? Kita ini hanya manifestasi daripada Allah. Manifestasi itu menunjukkan kita tidak ada. Kita hanya penampakan, manifestasi. Ini adalah ajaran inti daripada Ibn Arabi.
Yang kedua, di antara ajaran Ibn Arabi, inkilabul adzab ‘udzubah. Ahli neraka dibagi menjadi dua. Kita ahli sunah membagi ahli penghuni neraka menjadi dua. Yang pertama orang mukmin yang masuk neraka karena bermaksiat. Kan kita di Indonesia itu kan selalu dengar yang namanya Islam KTP ya. Neng KTP-ne Islam tapi yo ngombe ciu. KTP-ne Islam tapi yo setiap malam Elsinan Ustaz. Setiap malam perempuan minum-minuman keras gak pernah salat. Saya pernah itu di beberapa tempat Ramadan tukang parkirnya itu jam Pagi minum es teh. Di dekat rumah saya itu ada warung nasi pecel. Jam 07.00 kok ramai pas Ramadan jam 10.00 ada tulisan maaf nasi habis. Iya to nasi kok habis. Ramadan itu Ramadan. Warung-warung kopi itu enggak tutup. Terus saya itu kenal salah satu pemilik warung kopi. Kan warung kopi kan ada kopi, camilan, gorengan, nasi bungkus. Saya bilang, “Bu, jenengan kok ndak tutup Ramadan?” Loh, piye toh, Bib? Saya mau tutup ini piye? Wong pas Ramadan lebih ramai. Puasa itu semakin ramai, Bib. Gak kayak hari-hari biasa. Yao, wis, saya husnudon mungkin sahur itu. Sahurnya jam 07.00. Mereka ini nanti kalau mereka tidak bertobat, mereka akan masuk neraka untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tapi nanti akan ada akhirnya. Betul apa tidak? Orang-orang mukmin yang fasik, yang ahli maksiat, mereka akan masuk neraka, tapi nanti mereka akan kelu keluar. Ada lagi penghuni neraka dikatakan ahlunar alladzina hum ahluha. Penghuni neraka yang memang sudah mempunyai KTP permanen di neraka itu kuffar. Orang kafir. Kita meyakini orang kafir nonmuslim akan kekal di neraka dan tidak bisa untuk keluar. Ibn Arabi mengatakan iya memang tidak bisa untuk keluar tapi idak terazab. Mereka akan di neraka, diazab sampai waktu tertentu. Setelah waktu tertentu itu tabiat mereka akan berubah menjadi tabiat api. Kita tabiatnya daripada daging, tulang. Nanti akan berubah menjadi tabiat api. Nanti api neraka ketika menjilat mereka, mereka merasakan kenikmatan. Semakin dibakar semakin enak. Ketemu sama ular ulo dipatuk sakit lama-lama kok enak yo ketemu sama kalajengking ya dipatuk enak. Jadi mereka akan merasakan kenikmatan di akhir hayat mereka sampai tanpa batas. Seperti ahli surga merasakan kenikmatan di surga. Ahli neraka juga akan merasakan kenikmatan di ne di neraka.
Sampai ketika neraka itu belum ditutup, mereka bingung, “Ya Allah, kok neraka belum ditutup?” Ketika kalau sudah ditutup kan tidak bisa keluar lagi. Mereka takut keluar daripada neraka karena nikmatnya neraka. Setelah neraka ditutup, mereka tenang. Alhamdulillah kok neroko ditutup. Maka ketika malaikat mengatakan, “Ya ahlanar khuludun bilamaut,” senang. Kenapa? Karena azabnya berubah menjadi kenikmatan. Maka kata-kata azab bukan siksaan. Tidak. Azab diambil daripada kata-kata uzubah yang artinya halawah, kemanisan. Kalau orang-orang saya jelaskan langsung Allah itu bukan Allah itu itu selain mazhab ahli sunah wal jamaah.
Kita ahli sunah mengatakan bahwasanya orang nonmuslim akan kekal di neraka. Kekal di neraka dan terazab tanpa ada batas. Ibn Arabi mengatakan kekal di neraka. Tapi di akhir hayatnya mereka nanti akan ada waktu. Mulai saat itu sampai tidak ada batas mereka akan merasa kenikmatan. Kenapa? Karena rahmat Allah akan sampai kepada orang-orang kafir. Suf lihat akidah ini tidak sesuai dengan akidah ahli sunah wal wal jamaah. Kemudian masalah akidah juga.
Ibn Arabi di dalam kitab beliau Futuhat Makiyah mengarang empat akidah. Akidatul Awam, Akidatun Nasyiah, Akidatul Khawas, Akidatu Khawasil Khawas. Empat akidah ini berbeda-beda. Kita ahli sunah tidak ada perbedaan antara akidatul ammah dan akidatul hawas. Akidah Anda dan para kiai tidak berbeda. Yang membedakan hanya ijmal wafsil. Akidah Anda mujmal, akidahnya para kiai mufassal. Itu saja daripada aspek apa yang diyakini sama.
Kemudian yang kelima ee yang yang keempat adalah kasyaf. Menurut Ibn Arabi, kasyaf lebih tinggi daripada akal. Ahli sunah akal lebih tinggi daripada kasyaf. Maka perkara yang mustahil akli bisa menjadi jaiz akli. Perkara yang wajib akli bisa menjadi jaiz aqli. Jika kasyaf mengatakan semacam semacam itu. Daripada epistemologi ee makrifah saja sudah ada perbedaan antara ahli sunah dan Ibn Arabi.
Kemudian yang kedua di antara tokoh-tokoh yang tidak sesuai dengan ahli sunah namanya Syekh Abdul Ghani Annabulsi. hadza khatir ini bahaya orang ini. Beliau mempunyai kitab namanya Alwujuduln haqiq. Beliau juga jemaah, beliau juga pengikut daripada madrasah Hatimiyah. Yakni pengikut Ibn Arabi dikenal dengan nama madrasah Hatimiyah, Madrasah Arabiyah, madrasah Wihdatul Wujud. Sufi yang mengikuti mazhab Ibn Arabi dikatakan sufiyatu ahlil wahdah. Di sini Abdul Ghani Annabulsi sama juga di antara jemaahnya mazhab Wihdatul Wujud. Di antara pendapat beliau adalah kita semua ada pada zat Allah Subhanahu wa taala. Qoimatun fidatillah. Karena itu nanti ini akan berefek ya tentang masalah alwul ilallah. Alwusul ilallah bagi kita ketika Anda meyakini di dunia ini yang ada itu hanya Allah. Anda itu hanya manifestasi. Ketika Anda mengatakan apa makna alwusul ilallah? Makna alwusul ilallah adalah Anda sadar bahwasanya Anda itu Allah. Anda sadar oh ternyata aku iku Allah. Jadi kalau ada orang gak salat yo secara akal-akalan ya oke-oke aja. Kenapa? Salat hanya untuk makhluk kok. Kalau Anda Allah buat apa? Salat. Anda salat menyembah siapa? Lah kalau Anda Allah yang Anda sembah siapa? Salat untuk mengingat Allah lah. Kalau Anda Allah siapa yang Anda ingat? Masa Anda tidak ingat diri Anda sendiri. Kalau Anda memahami semacam ini, apa yang dikatakan oleh Gus Ali Wafa tadi ini masuk akal. Masuk akal ya. Ni lihat alwul ilallah.
Ketika Anda meyakini bahwasanya diri Anda adalah manifestasi daripada Allah, Anda sadar bahwasanya Anda adalah manifestasi daripada Allah. Kita tidak ada. Yang ada adalah Allah. Kita ada pada zat Allah. Masyaallah. Ternyata aku iki Allah. Yo, ketika Anda menyadari diri Anda Allah pada saat itu. Menurut Ibn Arabi Anda itu wusul ilallah pada saat itu akhlak Anda seperti akhlaknya Allah, sifatnya Allah sombong. Allah boleh sombong daripada nama Allah mutakabbir. Karena Allah itu Tuhan kita bukan Tuhan kita. Itu hamba Allah. Tapi menurut ahli sunah wal jamaah Asyairah dan Maturidiyah bahwasanya alwusul ilallah artinya Anda sampai kepada kesempurnaan Allah. Anda tahu betapa hinanya Anda, betapa Anda perlunya kepada Allah dan betapa sempurnanya Allah. Itu yang namanya wusul ilallah. Alwusul fil maarif. Al wusul fil kamalat. Anda mengetahui tentang kesempurnaan Allah. Maka perbedaan akidah menjadikan perbedaan di dalam istilah tasawuf ini hanya satu saya jelaskan. Kalau saya mau jelaskan banyak bisa lebih banyak lagi. Karena memang biasanya akidah-akidah selain ahli sunah akan menggunakan istilah-istilah yang sama dengan istilah ahli sunah untuk apa ya menunggangi ahli sunah. Karena mereka tahu kalau mereka sendiri gak bisa survive. Anda bisa surve kalau Anda menunggangi ahli sunah.
Lihat Muktazilah gak surve karena berhadap-hadapan dengan ahli sunah. Wahabi surve. Kenapa? Karena dia menunggangi ahli sunah. Menggunakan nama ahli sunah, ahlul hadis asunah. Syiah. Gerakan Syiah paling moncer ya abad ini. Dalam sejarah Islam, gerakan Syiah paling moncer ya sekarang. Dulu-dulu sedikit sekali Syiah itu. Selama Anda beradap-hadapan dengan ahli sunah asawad a’zam yang ulamanya itu ribuan, Anda gak akan bisa survive. Anda bisa survive kalau Anda menunggangi ahli sunah. Bagi yang mazhabnya selain ahli sunah, wihdatil wujud menunggangi ahli sunah. Karena itu istilah-istilahnya mirip-mirip dengan istilah ahli sunah. Mengatakan kami ini Asy’ari tapi hakikat. Tapi apa namanya hakikat kamu itu masih kulit syariat. Aku ini sudah hakikat makrifat. Kamu masih apa namanya? syariat.
Jadi di sini tempat bagaimana kecohan ee daripada mazhab-mazhab selain ahli sunah. Dikatakan oleh Syekh Abdul Ghani Annabulsi bahwasanya badihatul aql qod yukhti’. Perkara-perkara yang badihah bisa salah. Tapi kasyaf tidak bisa salah. Pada saat itu. Jika bertentangan antara akal dan kasyaf, yang menang adalah apa? Kasyaf. Bukan akal. Di sini loh letak penyimpangan daripada apa namanya? daripada tasawuf. Tasawuf tidak bisa bertentangan dengan akal. Menurut ahli sunah. Akal dan akidah membatasi tasawuf. Kalau Anda ingin tasawuf, Anda tasawuf ahli sunah wal jamaah. Kalau Anda ingin tasawuf selain itu, monggo. Tapi tidak boleh menisbatkan diri Anda ahli sunah wal jamaah. Hati-hati ya, kata-kata sufi.
Saya pernah berjumpa dengan salah seorang mahasiswa yang belajar di Amerika. Mereka mengatakan Allah bisa diketahui melewati jalan akal dan jalan sufi. Jalan sufi itu Anda mensucikan diri Anda, jiwa Anda suci, Allah memberikan Anda pengetahuan. Itu yang namanya kasyaf. Kita di sini gak semacam itu. Anda kalau mau nahwu, belajar apao tirakat di Sidogiri untuk pintar nahwu, pintar basul masail diajari fikih atau diajari tirakat. Wis kowe tirakat engko insyaallah pintar fikih. Ada semacam itu gak ada. Anda belajar suf ini loh bedanya ahli sunah. Ahli sunah belajar melewati guru. Wahdatil wujud ndak usah pakai guru. Kowe tirakato. Bersihkan hatimu. Hatimu bersih langsung Allah akan memberikan apa? Maklumat. Sebenarnya dalam dirimu sudah banyak maklumat. Anda lahir dengan semua pengetahuan. Anda bisa mengaksesnya kalau Anda mensucikan tubuh Anda, mensucikan jiwa Anda, tirakato, suluko, maka Anda akan bisa untuk unlock skill-skill Anda, armor-armor Anda bisa Anda unlock semua. Mana yang lebih hebat, belajar melewati guru atau belajar melewati Allah langsung? Piye? melewati guru atau langsung langsung Allah kalian kan untuk mengetahui Allah guru Allah mereka nak kita skip guru langsung Allah ya kui nanti akhire telepon Allah innamaqoli itu semua daripada aspek-aspek semacam semacam itu. Wallahuam yakni ini di antara perkara-perkara yang menyimpang daripada ajaran tasawuf fihdat wujud.
Yakni saya sengaja untuk menyinggung tentang wihdatil wujud. Walaupun nanti mungkin akan saya diberondong pertanyaan, tapi tidak ada masalah karena ini adalah majelis apa namanya? Ilmu. Semua boleh bertanya. Saya bisa jawab saya jawab. Saya tidak bisa jawab saya skip. Saya akan tanya guru-guru saya yang lebih paham tentang masalah ini daripada saya. J.
Dan di antara tokoh yang bukan ahli sunah adalah Muhammad ibn Karam Assijistani. Ini salafnya Ibn Taimiyah. Sufi tapi mazhabnya mujassimah. Wahabi yang meyakini Allah di atas ketika berjalan di belakangnya diikuti orang. Ustaz muridnya berapa? orang. Tapi ternyata setelah saya cek karena dia itu Wahabi, dia itu bukan ahli sunah wal jamaah, banyak kelompok-kelompok ahli bidah itu menolong akidah mereka dengan cara-cara yang dengan cara-cara yang yang buruk. Di antaranya adalah memalsukan hadis. Beliau berjumpa dengan Juwaibari Ibnu Tamim. Keduanya ini sudah memalsukan hadis. Jadi dulu itu memasukkan hadis itu banyak ya sampai itu satu sing guyoni orang YouTube bakulan terong. Untuk marketing terongnya dia buat hadis man akala terong dakhalal jannah. Kemudian para ahli hadis ngecek iki hadis opo? Ternyata hadis maudu ditaklik laalla wadiaha bai’ul jengkol. Jangan-jangan yang memalsukannya itu penjual terong.
Jadi pada zaman dahulu mau marketing barang itu memalsukan hadis. Ada semacam itu ada. Dan karena itu Imam Bukhari tidak mengambil hadis dari orang ahli bidah yang yedu ila bidatih. Kenapa? Ada potensi dia itu memasukkan hadis untuk menolong akidahnya. Di antara yang tertuduh itu Muhammad ibn Karam As Sijistani karena dia berteman dengan dua orang yang sudah memalsukan hadis. Bayangkan di antara akidahnya Muhammad ibn Qorasi jistani, al-Bari jismun lakal ajsam. Dan Nabi bisa melakukan dosa besar kecuali berbohong. Ini pendapatnya siapa? Muhammad ibn Karam As Sijistani.
Ini yang bab keempat sudah saya bahas tentang masalah wusul ilallah. Perbedaan antara ee ahli sunah dan antara wihdatil wujud dalam memaknai alwul ilallah. Yang terakhir, perbedaan antara wihdati syuhud, wihdatil wujud dan hulul wal ittihad. Karena empat perkara ini akan terbina di atasnya banyak sekali perkara tasawuf. Weh we wahdatul apa namanya? Pertama hulul dulu. Apa itu hulul? Hulul itu adalah sebuah keyakinan bahwasanya Allah Subhanahu wa taala itu sifat. Kita akan meyakini Allah itu zat. Zatun mutasifatun bisifat. Hulul. Meyakini Allah itu sifat dan bisa merasuk ke dalam manusia. Karena itu beberapa aimmah itnaah asyariyah syiah meyakini apa? Beberapa kelompok Syiah yakni di antaranya adalah Syiah Ismailiyah meyakini aimmah mereka itu maksum karena kerasukan Allah.
Saya itu pernah pernah ketemu orang itu teman saya ini ee rukiah. Rukiah itu kan biasanya jin. Saya pernah ketemu orang itu kemasukan Sayidina Abu Bakar. Itu benar itu ya. Dia ngaku ya dia ngaku itu. Tapi jelas itu jelas bohongnya. Tapi ngakunya kamu siapa? Aku Abu Bakar Assiddiq. Waduh takut saya. Kamu siapa? Aku Umar bin Khattab. Langsung iso silat. Waduh iki si pitung paling bukan Abu Bakar Assiddiq. Ada lagi kamu siapa? Aku Umar bin Abdurrahman Alatthas Shahibur Ratib. Waduh. Habis itu minta makan tiga piring. Wah, iki luwih iki habibe. Habibe opo luwe. Yaitu mungkin jinjin ngaku yang macam-macam. Saya pernah sekali ketemu orang kerasukan dirukiah. Kamu siapa? Aku Allah. Saya takut saya. Ya Allah. Anu toh wis gak zaman kerasukan jin. Kerasukan opo jenenge Allah. Loh menurut khululiah boleh. Enggak ada masalah itu. Karena dia merasa Allah itu adalah sifat bisa merasuk ke orang. Seperti beberapa Syiah batiniah meyakini Allah merasuk kepada imamnya.
Imam Ghazali mempunyai pengalaman sangat banyak. Masalah ini diabadikan dalam dua kitabnya namanya Kistasul Mustaqim dan Fadhaih Batiniah. Karena ketika Allah merasuk kepada orang, dia bisa mentafsirkan Al-Qur’an dengan batinnya. kan ‘aqimussalata lidzikri. Tunaikanlah salat untuk mengingatku. Itu zahirnya Al-Qur’an. Kalau orang kerasukan Allah, dia bisa mengetahui batinnya. Siapa yang lebih mengetahui Al-Qur’an? Al itu kalamnya siapa? Kalamullah. Siapa yang lebih mengetahui Al-Qur’an? Anda apa Allah? Allah. Sedangkan beberapa aimmah itu kemasukan kerasukan Allah. Dia bisa untuk mengetahui batinnya Al-Qur’an. Apa itu batinnya Al-Qur’an? Makna yang bertentangan dengan zahir Al-Qur’an itu namanya batin. Maka kelompok yang mengatakan tahu batin Al-Qur’an dikenal dengan nama kelompok batiniah. Kelompok yang mengatakan Al-Qur’an mempunyai zahir dan batin. Batinnya Al-Qur’an bertentangan dengan zahirnya Al-Qur’an.
Ada lagi yang diambil oleh banyak kiai dan para habaib namanya isyari. Beda isyari yang tidak disebutkan di dalam zahir Al-Qur’an tapi tidak bertentangan dengan zahir Al-Qur’an itu oke, tidak ada masalah. Banyak habaib, banyak kiai itu mempunyai kitab tentang tafsir isyari, bukan tafsir batini. Alhabib Zain bin Smith punya tafsir isyari namanya fuyudat rabbaniah ada di dalam ee internet boleh anda cek.
Yang kedua, ittihad. Itihad itu bergabung. Allah zat dan Anda zat. Kemudian Anda bergabung. Ketika Anda bergabung dengan Allah akan ada entitas yang baru. Anda Power Rangers. Ada lima ranges kecil-kecil bergabung menjadi satu ranges yang besar lah. Sama ada Anda, ada Allah, sama-sama zatnya bergabung menjadi satu entitas yang baru. Itu yang namanya ittihad. Bergabung. Hulul wal ittihad kafir. Sudah tidak ada anu, tidak ada apa namanya, tidak ada tedeng aling-aling. Semua ulama mengatakan yang meyakini dua ini bermasalah. Ada lagi yang mirip dengan itu namanya wihdatul wujud. Hulul dan ittihad terbina. Ada entitas namanya Allah, ada entitas namanya makhluk. Allah merasuk namanya hulul, Allah bergabung namanya ittihad.
Bergabung dan merasuk hanya terjadi kalau ada dua entitas yang berbeda. Tapi kalau entitasnya hanya satu, apakah bisa bergabung? Wong satu bergabung dengan siapa? Ketika Anda meyakini di dunia ini yang ada hanya Allah, itu namanya wihdatul wujud. Ini tidak kafir, tidak sesuai dengan akidah ahli sunah muslim, tapi tidak sesuai dengan akidah ahli sunah wal jamaah. Adapun kondisi yang disebutkan oleh Mbah Hasyim dalam Risalah Ahli Sunah Wal Jamaah yang biasanya didapati oleh para kiai kita, oleh para habaib kita namanya wihdatus syuhud. Wihdati syuhud adalah ketika Anda melihat, Anda hanya fokus kepada Allah. Anda tidak melihat sekeliling Anda. Yang Anda lihat hanya Allah. Sekeliling Anda itu ada tapi tidak nampak. Itu namanya wehdatus syuhud. Maka wehdatus syuhud kondisi kejiwaan, bukan kondisi realita. Hakikatnya manusia ini ada tapi kamu tidak melihatnya. Itu namanya wihdatus syuhud.
Wihdatul wujud terbalik. Manusia tidak ada tapi kamu nampak manusia itu ada. Maka hakikatnya manusia tidak ada. Majasnya manusia ada. Wahdati syuhud manusia ada, tapi kamu nampak dia tidak ada. Maka antara wihdatul wujud dan wihd wdatil wujud dua kutub yang berbeda. Satunya meyakini bahwasanya alam semesta ini ada. Satunya meyakini alam semesta itu tidak ada. Maka kondisi yang ada pada diri manusia yang namanya wihdati syuhud tidak lama. Mungkin 2 hari, 3 hari. Kemudian Anda kembali ke setelan awal. Anda melihat manusia. Ketika Anda hanya fokus kepada Allah, Anda hanya melihat Allah, dikatakan itu adalah halatul jamak.
Ketika Anda kembali ke dalam kesadaran Anda, itu namanya halatul farq. Halatul jamak majazi. Halatul farq hakiki. Menurut ahli sunah wal jamaah, menurut wahdatil wujud sebaliknya. Halatul jamak hakiki. Karena yang ada hanya Allah. Fain lam takun Tarahu. Kalau kamu tidak ada kamu melihat Allah. Lihat. Fain lam takun tarahu. Ketika kamu kembali normal kamu melihat manusia itu semua ada, keberadaan manusia ini majazi. Lihat bagaimana dua kutub yang berbeda antara dua mazhab ini, antara wihdati syuhud dan wihdatil wujud. Halah yang ada di dalam tasawuf terbina pentafsirannya atas perbedaan di dalam akidah. Apakah kita ada? Apakah Allah ini mencipta atau tidak? Ibn Arabi mengatakan Allah tidak mencipta. Kita ini hanya mazahir daripada keberadaan Allah. Tajaliat, manifestasi daripada keberadaan Allah. Tapi pendapat ahli sunah mengatakan bahwasanya kita ada dan diciptakan oleh Allah karena iradahnya. Biirodatihi wa qudratih untuk menyembahnya. Wama khalaqtul jinna wal insa illa liya liya’budun. Alhamdulillah sudah jam seteng. Tenggorokan saya sudah capek.
Saya terima kasih atas husnil istima wa husnil isgha’ dan saya berterima kasih juga saya sudah diundang di sini dan semoga apa yang bisa yang saya sampaikan ini berfaedah dan saya mohon maaf jika ada kesalahan menyinggung perasaan ee atau apapun itu saya mohon maaf.
Semoga Allah subhanahu wa taala ee memberi kita barokah dan memberi kita manfaat di dalam ini dan kita dimatikan dalam keadaan terus dalam keadaan ahli sunah wal jamaah dalam keadaan husnul khatimah. Wa ala hadzihi an-niyah wa kulli niyatin shalihah alfatihah. Wallahul muwafiq ila aqwam thariq assalamualaikum warahmatullahi taala wabarakatuh. Saya kembalikan kepada moderator.












