Di laga Grand Final Liga Bola Sidogiri (LBS), PSSD K berhadapan dengan PSSD L yang lolos setelah mengalahkan PSSD N pada Jumat (25/09). Namun, PSSD K tidak bisa meneruskan hasil positifnya di babak ini setelah takluk dengan skor 2-1 sehingga mereka hanya bisa menikmati hadiah hiburan sebagai runner-up.

Kapten kesebelasan PSSD K, M. Fahruddin, mengakui atas kelengahan timnya untuk memanfaatkan peluang meski sudah bermain secara agresif dan rajin menekan pertahanan lawan.
“Secara permainan, kami mendominasi, cuma kurang maksimal dalam memanfaatkannya,” ungkapnya.
Secara historis, ini adalah pencapaian terjauh yang ditorehkan oleh PSSD K sehingga kegagalan mereka mengangkat piala tidak begitu menyakitkan.
“Perasaan saya tidak bisa dijelaskan, campur aduk,” ungkapnya.
Fahruddin menceritakan bahwa pada tahun pertama bergabung dengan PSSD K, tim selalu menelan pil pahit kekalahan sehingga gagal lolos dari fase grup. Pada tahun selanjutnya, tepatnya saat ia duduk di kelas 2 Aliyah, tim mengalami sedikit perkembangan, tetapi perkembangan signifikan baru ia rasakan setelah tiga tahun.
Santri asal Malang ini menyebutkan sejumlah faktor yang berperan di balik lika-liku timnya. Salah satunya adalah perihal komunikasi antarlini dalam tim, termasuk dengan pelatih.
“Tahun ini, pelatih selalu mengadakan sosialisasi sebelum pertandingan,” tambahnya.
Dia juga mengakui bahwa komunikasi yang baik dapat membentuk mental tim yang kuat sehingga mampu menghadapi tim mana pun. Akan tetapi, hal positif ini masih belum terbawa ke lapangan saat pertandingan. Akibatnya, kelengahan selalu menjadi dalang di balik peluang yang terbuang.
Baca juga: Grand Final Panas, PSSD L Kunci Gelar Juara Usai Tekuk PSSD K dengan Skor 2-1
Pemain bernomor punggung 8 ini juga mengungkap bahwa solidaritas dan sikap saling memahami kebutuhan tim tetap menjadi faktor kunci.
Oleh karena itu, beberapa pemain ditempatkan bukan pada posisi alaminya. Di antaranya dan yang paling unik adalah yang dialami oleh sang kiper. Siapa sangka bahwa posisi alaminya adalah penyerang.
“Awalnya Akmal (kiper PSSD K) bukan kiper, cuma setelah didesak dia mau,” terangnya.
Selain ikhtiar lahir, gerak batin juga tidak luput dari perhatian sebagai upaya batin. Fahruddin mengungkapkan bahwa pembacaan Qasidah Burdah ditingkatkan intensitasnya saat tim melaju ke babak 8 besar.
Pelajaran berharganya adalah bahwa hasil gemilang di lapangan tidak lepas dari detail-detail kecil di balik layar yang sering luput dari pandangan.
Penulis: Muhammad Fajar
Editor: Elmaghroby












