BeritaUnggulan

Kesungguhan Guru Jadi Kunci, Mas Syamsul Bekali Guru MMU I’dadiyah

Suatu saat, banyaknya kitab yang dikaji Kiai Cholil Nawawie membuat takjub adik beliau, Kiai Hasani Nawawie. Atas dorongan rasa penasaran tersebut, Kiai Hasani menanyakannya kepada Kiai Cholil.

“Yo embuh, kurang tahu, iku santri ae seng rajin ngaji. Itu santri saja yang mengaji. Aku cuma ngancani, saya cuma menemani,” timbal Kiai Cholil menjawab pertanyaan.

Mas M. Syamsul Arifin Munawwir, M.Psi., M.H., Psikolog, membagikan kisah ini dalam acara ‘Pelatihan Psikologi Guru’ dengan tema ‘Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Murid’ pada Jumat sore (18/09).

Menurut beliau, kisah di atas tidak hanya mengajarkan ketawadhuan sang kiai, bahkan menerangkan bahwa kesungguhan murid saja tidak cukup dalam menciptakan kegiatan belajar-mengajar yang efektif. Justru, harus dibarengi keteladanan guru melalui kesungguhannya.

Pada acara yang digelar di aula Gedung Sidogiri Corp dan diikuti oleh segenap guru MMU I’dadiyah tersebut, Kepala Lembaga Psikologi dan Bimbingan Konseling (LPBK) itu juga menuturkan bahwa kemapanan akhlak adalah pondasi awal kesuksesan.

Kepala Madrasah I’dadiyah tampak memberikan sambutan

Akan tetapi, bila murid atau santri yang mondok belum memiliki pondasi ini, beliau menyarankan agar tidak menuntutnya terlalu berlebihan.

“Santri baru perlu adaptasi sosial. Ini memerlukan peran guru dan kepala kamar,” terang beliau.

Dosen STAI Sidogiri itu juga menekankan bahwa guru sekiranya mampu menumbuhkan kemauan belajar muridnya, karena murid yang belajar dengan kemauannya sendiri berbeda dengan yang belajar karena keterpaksaan.

Selain itu, guru juga disarankan selalu mengevaluasi diri terkait hal-hal yang berkaitan dengan metode ajarnya, alih-alih cuma mengoreksi murid.

Mas Syamsul menyampaikan bahwa gaya ajar guru yang hangat dan motivatif dapat menciptakan suasana kelas yang baik.

Baca juga: Grand Opening Lomba Milad ke-290 Sidogiri, Panahan Tandai Dimulainya Perlombaan

Beliau juga menegaskan bahwa ustaz atau guru memiliki peran yang signifikan daripada metode ajar dan materi. Seberapa bagus metode ajar yang diterapkan, tanpa kreativitas seorang guru, hasilnya kurang efektif.

“Metode ajar lebih penting daripada materi, tetapi ustaz lebih penting daripada metode tersebut,” tutur beliau.

Melalui pelatihan yang menjadi agenda LPBK Sidogiri ini, diharapkan ustaz atau guru tidak hanya mengajarkan materi, bahkan bisa menyikapi ragam karakter murid dan kemudian menanamkan karakter positif kepada mereka.

Penulis: Muhammad Fajar
Editor: Elmaghroby

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *