Untuk kali kesekiannya, MMU Aliyah melalui Unit Kegiatan Pengembangan Intelektual (UKPI) di bawah Organisasi Murid Intra Madrasah (OMIM) menggelar seminar ilmiah.
Seminar yang diselenggarakan pada Selasa (29/09) ini diperuntukkan bagi murid MMU Aliyah jurusan Dakwah (kelas 2-3) dengan mengusung tema, “Menjadi Santri Produktif: Integrasi Ibadah dalam Kasab”.
Berlokasi di aula gedung Sidogiri Corp, seminar tersebut dinarasumberi oleh Habib Umar bin Muhammad Assegaf.

Seminar diawali dengan sambutan pimpinan MMU Aliyah, Ustadz Abdul Qodir mewakili pimpinan MMU Aliyah. “Akhlak tertinggi adalah taat,” terang beliau.
Menyampaikan materi seminar, Habib Umar menyampaikan bahwa ibadah dan kasab (pekerjaan) itu nyambung. Oleh karena itu, anggapan bahwa orang yang fokus bekerja saja itu bukan santri, juga sebaliknya, itu tidaklah benar.
Dai asal Pasuruan ini lantas memberikan bukti kongkret gagasannya tersebut dengan menjelaskan bahwa pekerjaan para nabi adalah menggembala, termasuk baginda Nabi Muhammad ﷺ.
Dengan demikian, santri sukses adalah dia yang mampu menggabungkan antara ibadah, mencari ilmu dan mengamalkannya, amal yang manfaat, dan bisa mengais rezeki yang halal.
“Santri tidak hanya menghafal maklumat, tetapi juga mampu mengiringinya dengan amal nafi’,” tegas beliau.
Pimpinan majelis al-Anwar ini juga menekankan bahwa keberhasilan santri juga diukur dengan pemahamannya akan kasab (pekerjaan) yang halal. Beliau melanjutkan bahwa kasab yang statusnya mubah bisa menjadi ladang pahala bila diawali dengan niat yang baik.
Baca juga: ACS Gelar Seminar Akidah, Menyingkap Rahasia Karamah Wali
Selanjutnya, alumni Sunniyah Salafiyah ini mengupas kunci keberhasilan mencari kasab.
“Kalau bekerja jangan terbersit mau kaya. Tidak akan pernah kaya kalau seperti itu. Akan tetapi, selalu mengakui bahwa dia adalah hamba yang lemah,” terangnya.
Selain terkait ikhtiar, tawakal juga tidak lepas dari perhatian beliau. Menurutnya, tawakal tidak berarti meninggalkan asbab karena perbedaan dimensi keduanya.

“Asbab itu dengan fisik, sedangkan tawakal dengan hati,” ungkapnya.
Menutup penyampaiannya, beliau menyinggung bahwa santri dalam menjemput kasab juga harus memiliki sifat zuhud. Dengan demikian harta duniawi cuma berada di genggamannya tidak sampai menguasai hatinya. Karakter inilah yang tecermin pada pribadi baginda Nabi Muhammad ﷺ sehingga beliau tidak pernah menolak siapa pun yang datang kepada beliau.
“Rasulullah ﷺ tidak pernah mengatakan tidak kecuali hanya dalam tasyahhud,” tutup beliau.
Seminar pada malam itu berjalan dengan kondusif, meski sempat molor beberapa menit. Melalui seminar tersebut, para santri diharapkan mampu menggali keahliannya masing-masing sehingga menjadi pribadi yang produktif.
Penulis: Muhammad Fajar
Editor: Elmaghroby












