Ikatan Santri Sidogiri (ISS) kembali menggelar seminar, yang kali ini bertajuk, “Ngaji, Ngabdi, Ngolah Diri” pada Kamis malam (10/09) di Aula Gedung Sidogiri Corp. Seminar yang dikemas dalam format talk show ini menghadirkan Ustadz H. Abdul Qodir Mahrus S.Sos, M.Pd sebagai narasumber dan Ustadz Muhammad Firdaus Sholeh sebagai moderator.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Ali Abdillah selaku koordinator media ISS, menjelaskan tema secara singkat. Ia menjelaskan bahwa santri tidak pernah terlepas dari tiga aspek ini, yaitu ngaji, ngabdi, dan ngolah diri. Menurutnya, tema ini dinilai penting dibahas pada seminar buletin Nasyith kali ini.
Baca juga: Rapat Pleno ke-III PPS, Jadi Momentum Evaluasi Kinerja Pengurus
“Tujuan utama santri mondok adalah ngaji, yang kelak menjadi bekal untuk ngabdi di tengah masyarakat. Dalam proses tersebut, mengolah diri berarti menggali dan menumbuhkan potensi serta bakat terpendam dalam diri,” tutur Sekretaris Redaksi Sidogiri Media tersebut.
Untuk mengupas tema lebih dalam, Ustadz Abdul Qodir Mahrus mendorong teman-teman santri untuk berambisi menggapai prestasi selama menjadi santri. Tentu saja, prestasi hanya dapat dicapai dengan ketekunan, semangat, dan konsentrasi dalam belajar.
Baca juga: Haul Solo: Tradisi yang Menjadi Simbol Cinta Umat kepada Ulama
“Jadikan prestasi sebuah kebutuhan. Saya harus sukses! Saya harus berprestasi! Jika keinginan untuk berprestasi telah mengakar dalam diri, pasti secara perlahan kita akan terdorong untuk terus belajar tanpa kenal waktu,” ungkapnya
Eks Kepala LPBAA tersebut mengingatkan agar konsentrasi belajar tidak terganggu dengan mindset, “Kalau sudah lulus, kita mau jadi apa”. Mindset negatif tersebut tidak akan memberikan dampak berarti kecuali menggangu proses belajar serta menghambat perjalanan menuju kesuksesan.
“Kita tidak perlu berpikir kelak mau menjadi apa. Sekarang yang harus kita tanamkan hanya satu, yaitu belajar dengan sungguh-sungguh.”
Selain itu, untuk menumbuhkan motivasi belajar, staf pengajar MMU Aliyah ini menegaskan agar mencintai buku atau kitab sebagaimana seorang kekasih mencintai pasangannya. Beliau berkelakar bahwa jika seseorang sudah mencintai kekasihnya, maka fokusnya hanya mengarahkan kepada pasangan yang dicintainya, tanpa melirik yang lain.
Baca juga: Dorong Semangat Menghafal Mutun, Pengurus Beri Motivasi Anggota Tahfidz Mutun
“Pernah tidak kalian suka terhadap seseorang? Pastinya pernah. Tentu saja, seorang kekasih akan melakukan apa pun untuk kekasih yang dicintainya. Ia akan selalu berada di sisinya, tanpa mengenal tempat dan waktu,” tuturnya.
Namun menurutnya, belajar saja tidaklah cukup untuk mencapai kesuksesan hakiki, pria asal Surabaya tersebut lalu mengatakan bahwa selain belajar, santri juga harus menambah aktivitas spiritual dalam rangka mengolah diri dengan cara istighasah di pesarean masyayikh. Beliau berkisah, sewaktu menjadi santri, setelah shalat zuhur, beliau tidak pernah alpa untuk membaca al-Qur’an di pesarean, sehingga dalam seminggu, beliau mampu mengkhatamkan al-Qur’an.
Tidak hanya itu, beliau juga mendorong santri untuk melengkapi perjalanan spiritualnya dengan berkhidmah. Menurutnya, ilmu yang didapat dari belajar tanpa berkhidmah, hanya sebatas ilmu pengetahuan tanpa ada menfaat yang berarti.
“Bagaikan ular tanpa bisa, ilmu yang dipelajari tanpa khidmah tidak akan membawa pengaruh besar. Sebaliknya, apabila disertai dengan khidmah, ilmu itu akan memancarkan keharuman dan kemanfaatan di tengah masyarakat,” pungkasnya yang kemudian dilanjut dengan pembacaan doa.
Melalui seminar ini, panitia berharap agar kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang mengisi waktu kosong atau hiburan semata, tetapi nasihat-nasihat dan saran dari narasumber mampu diimplementasikan pada kehidupan sehari-hari. Acara pun ditutup dengan pembagian doorprize bagi peserta seminar yang beruntung.
Penulis : Syahrul Maulana
Editor : Elmaghroby












