Panggung bundar di tengah Lapangan Pondok Pesantren Sidogiri menjadi mimbar pagi itu. Jumat, 18 September 2026, opening turnamen lomba olahraga resmi digelar. Sorak sorai para santri membahana, memenuhi setiap sudut arena lapangan. Opening pun dimulai, konsep demi konsep dilaksanakan begitu rapi dan menarik. Uniknya, seremoni pembukaan ini mengadaptasi konsep opening ceremony Euro 2024 di Allianz Arena, Jerman, sebuah konsep yang diusung panitia Sie Lomba untuk menonjolkan kebersamaan, menyatukan suporter, serta menumbuhkan persatuan sesuai motto Milad Sidogiri ke-290, “Satu Arah”.
Baca juga: Grand Opening Lomba Milad ke-290 PPS, Libatkan 6 Seksi Panitia
Di balik kemeriahan itu, para panitia sibuk menyeka peluh. Mereka berkonsentrasi penuh, takut ada detail acara yang luput dari pengawasan mereka. Namun, riuh acara ini bukan sekadar tentang kemeriahan opening lomba. Bukan juga tentang sekaan peluh panitia, atau gemuruh suporter di tepi lapangan.

Baca juga: Technical Meeting Lomba Milad: Usung Konsep Pembukaan ala Euro serta Kepatuhan dalam Aturan
Ini tentang seorang jurnalis di lapangan, reporter yang telah standby saat hari masih gelap. Reporter itu bernama Muzayyinul A’mal atau yang lebih akrab dipanggil Zayyin. Ia bertugas sebagai reporter Kabar Milad ke-290 Pondok Pesantren Sidogiri dan Ikhtibar ke-91 Madrasah Miftahul Ulum. Hari itu, ia harus tampil di depan kamera. Menghadapi terik matahari dengan raut wajah polosnya, jantung Zayyin tak henti berdegup kencang. Keringat dingin terus bercucuran meski cuaca kian menyengat. Jemarinya menggenggam erat mikrofon untuk menyembunyikan getaran di tangannya.
“Ini pertama kalinya saya yang ditunjuk oleh Pemimpin Redaksi untuk menjadi pembawa berita. Karena itu, rasa gugup benar-benar tidak bisa saya hindari,” ungkapnya.
Malam hari sebelum opening dimulai, Zayyin berkisah telah menyusun alur kata demi kata. Bolak-balik ia berlatih di depan cermin, berharap keesokan harinya tugasnya berjalan lancar dan berbuah apresiasi dari pemimpin redaksi. Saat liputan dimulai, di tengah arena yang diterpa cahaya matahari, kerja keras itu terbayar tuntas. Zayyin tampil lugas dan percaya diri, hingga disambut senyum puas dari pemimpin redaksi.
Baca juga: Grand Opening Lomba Milad ke-290 Sidogiri, Panahan Tandai Dimulainya Perlombaan
Satu demi satu Zayyin wawancarai, mulai dari pelatih salah satu klub kasti yang akan bertanding, hingga menanyakan konsep opening serta aturan laga kepada panitia Sie Lomba. Dari wawancara tersebut, Zayyin mengabarkan bahwa cabang lomba kasti menjadi laga pembuka yang langsung dipertandingkan seusai seremoni. Setiap regu menerjunkan 17 orang: 12 pemain inti, dua pemain cadangan, satu official, satu pelatih, dan satu koordinator.
Perlu diketahui, panitia telah menetapkan aturan ketat mengenai seragam yang akan dikenakan peserta saat pertandingan dimulai. Sebagaimana dilansir oleh website sidogiri.net, pada Sabtu malam 05 September 2026 lalu, di Ruang Auditorium Kantor Sekretariat, Sie Lomba telah menetapkan bahwa setiap peserta wajib mengenakan celana di bawah lutut guna memastikan batasan aurat santri tetap terjaga selama laga berlangsung.
Baca juga: Membangun Karakter Santri, MMU Aliyah Gelar Kuliah Umum Kepemimpinan Berbasis Mutu
Di sela-sela liputan, Zayyin melaporkan jalannya pertandingan kasti yang digelar serentak di dua lapangan. Berdasarkan informasi dari panitia Sie Lomba, laga perdana ini mempertemukan Daerah N melawan Daerah J, serta Daerah C berhadapan dengan Daerah T.
Senyuman Zayyin pancarkan seusai merampungkan reportase. Seteguk air mineral ia minum untuk mereda dahaga yang ia tahan sejak tadi. Sementara di sekelilingnya, gemuruh para suporter terus membakar semangat para delegasi daerah yang siap bertanding di arena.
Penulis: Nijaful Ali
Editor: Elmaghroby












