Lembaga Pengembangan Bahasa Arab dan Asing (LPBAA) merupakan satu-satunya instansi yang berkonsentrasi pada kaderisasi santri untuk mahir berbahasa Arab dan asing secara pengucapan dan penulisan di Pondok Pesantren Sidogiri. Berbagai program kegiatan dan agenda diadakan demi menunjang dan menopang visi besar tersebut. Baru-baru ini, Qismul Manhaj yang dinaungi oleh Wakil Ketua (Waka) I LPBAA menginisiasi program baru yang diberi nama Optimalisasi Muhawarah dan Insya (OMI).

M. Azkal Amin Firdaus selaku Ketua Pelaksana OMI menuturkan bahwa latar belakang dicetuskannya OMI adalah keperihatinan pengurus mengenai kualitas bahasa santri yang bermukim di asrama Arab, terlebih bahasa Arab. Menurutnya, ujian kenaikan mustawa tidak bisa dijadikan standar kemampuan berbahasa sepenuhnya. “Masih banyak santri yang sebenarnya belum memenuhi standar kemampuan berbahasa, tetapi tetap lulus karena menghafal maudhu’ yang telah diketahui sebelumnya,” terangnya.
Rais Qismul Manhaj ini juga membeberkan bahwa program OMI tidak lahir secara spontan, melainkan terinspirasi dari program pengoptimalan baca kitab di Madrasah Miftahul Ulum Tsanawiyah yang dilaksanakan rutin setiap bulan dengan sistem pemeringkatan berkala. Nilai Mustawa pada akhirnya juga diambilkan dari kalkulasi nilai tes OMI ini.
Baca juga: Pameran Laboratorium Pembelajaran Sejarah Kota Madinah Hadirkan Inovasi dan Pembelajaran Bermakna
Lebih rinci, santri asal Pangkalan Bun Kalimantan Tengah ini menjelaskan mekanisme perjalanan program tersebut. Sebelum mengahadapi ujian akhir Mustawa, santri terlebih dahulu mengikuti tes OMI sebanyak tiga tahap evaluasi. “Tiga tahap ini bertujuan melihat perkembangan, perbaikan, dan pematangan kemampuan santri,” tambahnya.
Pengurus menetapkan dua aspek yang menjadi penilaian pada tahap-tahap tersebut, yakni kemampuan berbicara, pemahaman, dan keaktifan merespons pertanyaan.
Setelah melalui evaluasi OMI tahap pertama, santri akan dibagi dalam beberapa kategori. Kategori A diperuntukkan bagi mereka yang sudah cakap dalam berbahasa, sedangkan bagi santri yang masih memerlukan perbaikan masuk kategori B dan kategori C bagi santri yang perlu pembinaan lebih lanjut.
“Peserta yang berada di Kategori C pada evaluasi I wajib menunjukkan peningkatan pada evaluasi II dan III. Untuk membantu hal tersebut, peserta membutuhkan pembinaan dan latihan tambahan,” ujarnya.
Namun, jika sampai evaluasi III masih tidak menunjukkan peningkatan, maka nilai ujian akhir muhawarahnya adalah 40. “Tujuan aturan ini bukan untuk menghukum, tetapi untuk menjaga standar kemampuan minimal peserta,” tegasnya.
Santri yang konsisten berada di kategori A dalam beberapa tahap evaluasi akan dipertemukan pada ajang final. Azkal menambahkan, hal ini demi menjaga konsistensi peserta dalam merawat kemampuan bahasanya, sekaligus sebagai bentuk apresiasi.
Pada aspek bakat menulis atau insya, panitia melakukan sejumlah inovasi, di antaranya adalah evaluasi insya’ bersifat spontan, objektif, dan beberapa regulasi aturan. Peserta tidak lagi diberi konfirmasi tema sebelum ujian, melainkan tema diberikan langsung di ruang evaluasi.
Baca juga: LPBAA Sidogiri Buktikan Kualitas Santri Sidogiri Tingkat Tsanawiyah di Mathla’ UIN KHAS Jember
Santri yang juga mengemban amanah sebagai Qismul Lughah Daerah B ini memaparkan beberapa alasan perubahan sistem evaluasi insya’ tersebut, salah satunya bertujuan untuk melatih kemampuan berpikir dan menulis secara spontan.
Secara pribadi, melalui ikhtiar ini, Azkal berharap supaya warga asrama Arab mampu mengimbagi espektasi tinggi masyarakat. Pasalnya, praktik itu adalah inti belajar bahasa, sedangkan materi hanya sebatas teori. Jadi, adanya OMI adalah sebagai penunjang dari teori tersebut.
Hingga Rabu dan Kamis (28-29/10), program evaluasi OMI sudah memasuki tahap II pada semester genap yang dilaksanakan bergelombang di Mushalla al-Ghazali pada jam 06.00 Wis pagi.
Penulis: Muhammad Fajar
Editor: Elmaghroby












