“Sebuah institusi atau lembaga yang stabil, tertata, dan maju bukanlah suatu kebetulan. Pasti hasil dari kerja keras para pengelolanya dengan super tim dan strategi yang benar,” terang Drs. Muhammad Jailani Abdillah, Wakil II Batartama, di hadapan 20 pengurus Pondok Pesantren Athfal Sunniyah Salafiyah pada kegiatan studi banding, Rabu (14/10/2026).
Di ruang Auditorium kantor Sekretariat, Drs. Jailani Abdillah turut membocorkan enam aspek yang tidak boleh tiada dalam misi memajukan lembaga pendidikan yang tidak berkembang. Beliau menyebut dua di antaranya adalah sistem dan human.
“Lembaga tidak akan stabil tanpa perencanaan yang matang, sistem yang mapan, dan pengelola yang kompeten,” jelas penulis buku Super Manajemen tersebut.

Jika kedua aspek tersebut mengalami masalah, beliau menyarankan untuk segera dilakukan penyesuaian sebagaimana mestinya. “Jika sistem mengalami eror, maka perlu diperbaiki. Jika pengelolanya konslet, tinggal dicopot dan diganti dengan yang lebih kompeten, karena kualitas pendidikan suatu lembaga berbanding lurus dengan manajemen pengelolaannya” sambungnya.
Staf pengajar MMU Aliyah tersebut juga menyatakan bahwa inovasi juga perlu digalakkan dalam upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas institusi atau lembaga. Pendidikan tidak akan menunjukkan trend positif tanpa inovasi.
“Hanya orang sinting yang ingin hasil beda dari cara yang sama,” ujarnya.
Pada studi banding yang dikemas dalam tema, “Belajar dari Tradisi, Menguatkan Tata Kelola, Meningkatkan Mutu Pendidikan Pesantren” tersebut, juga dihadiri Ustadz Moh. Toyyib, Kepala Daerah N untuk memperkenalkan tata kelola kepengurusan asrama.
Dalam sambutannya, ia memaparkan sistem kepengurusan asrama ala Pondok Pesantren Sidogiri, mulai dari struktural, metode penyelesaian masalah santri, hingga pembentukan karakter setiap santri dengan menanamkan nilai-nilai moral yang baik seperti saling menghormati, beretika, dan bersopan santun melalui kebiasaan sehari-hari.
“Seluruh lapisan pengurus tentunya harus menjalankan tugas sesuai bidangnya masing-masing, mulai dari kepala kamar, ubudiyah, taklim, hingga kepala daerah,” tuturnya

Dalam lingkaran kepengurusan, ia turut menawarkan solusi untuk menyelesaikan masalah sekecil apa pun yang terjadi di kalangan santri. Ia menyarankan agar pengurus mengadakan rapat koordinasi bersama seluruh lapisan pengurus secara terjadwal. Hal tersebut menurutnya paling tidak dapat mengurangi masalah-masalah yang terjadi di kalangan santri sedikit demi sedikit.
“Masalah santri harus didiskusikan. Minimal mengadakan rapat koordinasi sekalipun satu kali dalam sepekan. Isi rapatnya adalah melaporkan masalah-masalah yang terjadi di kalangan santri sekaligus mencari solusi terbaik untuk menyelesaikan” ujarnya.

Pertemuan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kedua lembaga, mempererat tali ukhuwah Islamiyah, dan meningkatkan mutu pendidikan pesantren. Acara pun diakhiri dengan dialog interaktif dan saling serah cindera mata.
Penulis: Syahrul Maulana
Editor: Elmaghroby












