Masyayikh Sidogiri

Kiai Abd. Jalil bin Fadil (Bagian III)

Kiai Abd. Jalil bin Fadil
Kiai Abd. Jalil bin Fadil

Syahid Melawan Belanda

Setelah melewati perjuangan panjang dengan pengorbanan yang tak terkira, pada hari Jumat pukul 10.00 wib tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Sejak saat itu rakyat Indonesia bertekad untuk menjadi bangsa yang berdaulat dan bebas menentukan nasibnya sendiri sejajar dengan bangsa lain di dunia. Tekad itu tercermin dalam isi proklamasi dan pembukaan (preambule) UUD 1945.

Untuk mewujudkan cita-cita luhur itu ternyata tidak mudah. Belanda yang pernah mereguk manisnya kesuburan tanah Indonesia selama 350 tahun lebih, tidak rela melihat Indonesia menghirup udara kebebasan. Tiga tahun setelah hari kemerdekaan diproklamirkan, mereka kembali menapakkan kakinya di Indonesia. Kejadian ini dikenal dengan istilah Agresi Belanda II. Mereka ingin mengulang memori indah saat mendapatkan segalanya dengan mudah. Menjajah. Ya, itulah yang mereka inginkan. Kembali ke Indonesia, merampas segala hasil bumi rakyat di Nusantara.

Agresi Belanda itu ternyata mendapat reaksi keras dari seluruh rakyat Indonesia. Sebab, cita-cita menjadi Negara berdaulat telah bulat. Maka tidak ada pilihan lain kecuali melawan agresor sampai titik darah penghabisan. Tentara, rakyat, ulama bersatu-padu mengadakan perlawanan demi membela kehormatan agama dan Negara. Tercatat, tidak kurang dari 100 ribu pahlawan gugur dalam usaha mempertahankan kemerdekaan tersebut.

Membela agama? Ya. Tidak diragukan lagi bahwa agresor yang musyrik itu di samping ingin menjajah, mereka mempunyai misi terselubung yaitu mengkafirkan rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim. Hal itu terlihat jelas dari tindakan mereka yang dengan sengaja melecehkan dan menghina simbol-simbol Islam. Inilah faktor mengapa ulama secara total melakukan perlawanan terhadap agresor Belanda. Sampai-sampai Jam’iyah Nahdlatul Ulama’ (NU) mengeluarkan “Resolusi Jihad” yang dengan tegas menyatakan. “Melawan Belanda hukumnya wajib dan termasuk jihad fi sabilillah”.

Aksi perlawanan yang dilakukan oleh para pejuang terhadap serdadu Belanda terus berlangsung di seluruh penjuru negeri. Cuma, karena minimnya persenjataan, perlawanan dilakukan dengan cara bergerilya. Mencari kesempatan untuk menyerang di saat Belanda lengah. Itu pun dengan senjata seadanya; bambu yang diruncingkan ujungnya, arit, parang, pedang atau apa saja yang bisa dibuat perlawanan dan menumpas Belanda. Lalu lari bersembunyi ke hutan-hutan atau dusun-dusun yang jauh dari jangkauan Belanda. Taktik gerilya ini membuat kompeni mati kutu. Sebab mereka tidak punya kesempatan untuk membalas dan kehilangan jejak. Di samping medan yang sulit untuk mereka kenal. Pada saat itu Pondok Pesantren Sidogiri menjadi tempat bersembunyi para tentara Hizbullah.

Puncaknya di desa Plinggisan Pasuruan, para pejuang terlibat baku tembak dengan Belanda. Tapi untuk kali ini anggota Hizbullah terdesak. Para pejuang mundur kembali ke markas. Belanda penasaran dan mengikuti jejak mereka sampai akhirnya diketahui bahwa mereka adalah anggota pasukan Hizbullah di bawah pimpinan KA. Sa’doellah yang bermukim di Sidogiri.

Akhirnya, keberadaan Pondok Pesantren Sidogiri yang dijadikan sarang pejuang tercium oleh kolonial Belanda. Beberapa mata-mata dikirim untuk melihat langsung aktivitas gerakan pejuang. Dan ternyata benar adanya, Pondok Pesantren Sidogiri dijadikan markas menggembleng pasukan Hizbullah dengan berbagai ulah kanuragan. Malah santri-santri digembleng dengan ilmu kebal dan berbagai ilmu kesaktian yang lain.

Mengetahui hal itu, Belanda menjadi marah dan mengirimkan tentara dengan jumlah besar untuk mengepung Sidogiri dengan target utama menangkap Kiai Sa’doellah dan Kiai Djalil. Saat itu keadaan benar-benar menegangkan. Kapten Abd. Lathif (TNI) melaporkan kepada Kiai Djalil bahwa tentara Belanda dengan jumlah besar semakin dekat. KA. Sa’doellah meminta agar Kiai Djalil mengungsi, namun Kiai Djalil menolak, “Saya sudah tua, tidak bisa menggalang kekuatan lagi, tidak ada alasan bagi saya untuk hijrah, sampean saja cepat hijrah. Sampean bisa menggalang kekuatan,” kata Kiai Djalil. Akhirnya KA. Sa’doellah mengungsi ke desa Areng-areng. Kata-kata Hijrah ini memang diucapkan oleh Kiai Djalil sebagai bukti bahwa hal ini bertujuan suci sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW. bersama para Sahabatnya Ra. yang hijrah ke Madinah di awal-awal penyebaran Islam di Tanah Mekah.

Hari Kamis tanggal 10 bulan Dzul Qodah 1366 H./26 September 1947 M. pukul 03.30 dini hari, serdadu Belanda sampai di Sidogiri dan langsung mengepung rapat pondok tua ini. Pasukan Hizbullah sempat melakukan perlawanan dan terlibat baku tembak. Saat hampir Subuh Belanda berhasil menerobos masuk ke Pondok Pesantren Sidogiri dan mendatangi Kiai Djalil yang saat itu bersama para pengawalnya. Belanda menanyakan di mana Kiai Sa’doellah. “Saya tidak tahu! Di sini saya hanya diserahi untuk mengajar santri,” jawab Kiai Djalil mantap.

Penasaran, pasukan Belanda memaksa Kiai Djalil ikut dijadikan tawanan. Kiai menolak, tidak mau mengikuti ajakan mereka. Terjadi perdebatan sengit kemudian. Karena sudah masuk waktu Subuh Kiai ingin mengatakan masih ingin salat Subuh terlebih dahulu. Selesai salat, Kiai langsung menuju halaman di sana tentara Belanda telah menunggu. Kiai Djalil keluar dari Masjid dengan membawa buntalan yang berisi al-Qur’an dan Kitab. Melihat Kiai Djalil membawa buntalan, Belanda memaksa agar menyerahkan buntalan itu, sebab Belanda curiga yang dibawa Kiai Djalil adalah Dokumen penting milik Kiai Sa’doellah. “Jangan sentuh buntalan itu! Kamu najis memegangnya.” bentak Kiai Djalil garang.

Kiai Djalil memang mempunyai firasat tidak enak pada Belanda. Bahkan Kiai pernah bilang. “Le’ londo mlebbu, Islam payah (Kalau Belanda sampai masuk ke sini, Islam payah)”. Sehingga beliau sudah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Diam-diam beliau menyelinapkan keris di balik bajunya. Ketika Belanda dengan paksa merampas buntalan yang berisi Al-Quran dan Kitab itu, Kiai Djalil marah dan melakukan perlawanan.

Maka terjadilah pertempuran tidak seimbang antara Kiai Djalil yang ditemani beberapa santri yang menjadi pengawalnya melawan Belanda yang jumlahnya banyak dan bersenjata lengkap. Beberapa serdadu Belanda tewas tersungkur. Tapi tidak lama berselang, semua pengawal Kiai Djalil gugur tertembak. Belanda sendiri kewalahan menghadapi Kiai Djalil yang ternyata tidak mempan ditembak, meskipun diberondong. Sampai akhirnya, dengan kemarahan yang sangat memuncak, mereka berhasil menangkap Kiai Djalil dan dengan beringas menembakkan peluru ke mulut beliau. Dor…! Dor…! Dor…! Suara tembakan terdengar sampai puluhan kali. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Beliau akhirnya gugur sebagai syahid.

Kekejaman Belanda tidak cukup di situ. Jenazah Kiai Djalil diseret dan dibuang di sungai Sidogiri sebelah barat. Konon, tetesan darah Kiai membuat air sungai saat itu menjadi harum semerbak. Jenazah Kiai Djalil ini baru ditemukan sekitar jam 09.00 oleh khadam beliau bernama Dlofir (Sukorejo Situbondo).

Kiai Djalil wafat tepat pada hari Kamis tanggal 10 Dzul Qodah 1366 H atau 26 September 1947 M sekitar pukul 06.00 pagi hari. Beliau dimakamkan di areal pemakaman keluarga Sidogiri. Sedangkan beberapa orang pengawal beliau dimakamkan di samping Masjid bagian utara (dekat jeding Masjid).

Kiai Djalil adalah satu dari sekian ribu ulama yang menjadi korban kebiadaban Belanda. Di sini, kiranya penting kita kutip pernyataan jujur seorang jenderal Belanda yang memimpin agresi tersebut. “Andaikan tidak ada ulama-ulama atau kiai-kiai kolot dan ortodoks (baca: Pesantren), Negara Indonesia tidak mungkin meraih kemerdekaan.” Allahu Akbar!

Selesai…

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *