KH. NOERHASAN BIN NOERKHOTIM KIAI KHUMUL BERDARAH MADURA (Bagian III/Selesai)

share to

Kepribadian KH Noerhasan bin Noerkhotim

Sampai saat ini, KH Noerhasan bin Noerkhatim kurang begitu dikenal dan diketahui oleh kebanyakan santri dan masyarakat Sidogiri. Putra-putri dan cucu-cucu beliaulah, serta salah satu muridnya (KH Cholil Bangkalan) yang banyak dikenal orang akan kealiman dan kekeramatannya. Padahal apa yang tampak dari mereka tak dapat dipisahkan dari didikan dan teladan dari Kiai Noerhasan.

Pribadi yang Istikamah dalam Ibadah

Kepribadian KH Noerhasan bin Noerkhotim merupakan cerminan sosok ‘âbid (ahli ibadah). Semua aktivitas sehari-hari beliau senantiasa berhiaskan nilai-nilai dan akhlak mulia, seperti warak, tawadu, khusuk, serta ramah kepada setiap yang ditemuinya, baik santrinya sendiri, tetangga maupun masyarakat umum. Setiap berpapasan dengan orang lain, tanpa sungkan pastilah beliau menyapanya terlebih dahulu.

Adapun ibadah yang paling tampak dari beliau adalah syahirullayâlî, tidak tidur malam. Ibadah yang dalam konteks tasawuf merupakan syarat thariqah ini beliau lakukan secara istikamah untuk mendekatkan diri pada Sang Khaliq, Tuhan pencipta alam semesta. Sebab derajat manusia akan terangkat tinggi di hadapan Tuhannya tergantung dari ibadah malam yang ia lakukan. Bahkan beliau sangat menganjurkan pada putra-putrinya untuk melakukan rutinitas sahirullayâlî ini.

Meski demikian, beliau tidak semata sibuk dengan urusan ibadahnya tanpa memperhatikan aspek sosial. Karena manusia di samping sebagai makhluk individu, juga makhluk sosial yang butuh untuk berinteraksi dengan manusia di sekelilingnya. Menyambung hubungan famili dengan bersilaturahim merupakan salah satu bentuk interaksi sosial yang Kiai Noerhasan jalani. Sebagai salah satu bukti upaya menyambung hubungan famili dengan keluarga Bangkalan adalah dengan memondokkan semua putranya kepada Kiai Cholil Bangkalan yang notabene masih famili. Konon beliau sering berkunjung kepada famili-familinya di Bangkalan. Hubungan Silatur-Rahim semacam itu berlanjut hingga saat ini.

Ungkapan “alIstiqâmah ainulkarâmah” merupakan sebuah gambaran akan tingginya nilai istikamah dalam segala aktivitas sehari-hari Kiai Noerhasan. Sewaktu mondok, Kiai Noerhasan dikenal istikamah berjamaah dan muthâla‘ah. Jelaslah motto beliau adalah “Tidak ada waktu tanpa belajar,” sebagai implementasi dari makalah Arab, “al-Waqtu kas-saif, in lam taqtha‘hu qatha‘aka” (Waktu ibarat pedang, kalau kau tak memotongnya, ia akan memenggalmu).

Nilai keistikamahan ini yang selalu di pegang teguh Kiai Noerhasan, yang kemudian menjiwai putra-putra beliau. Kiai Nawawie mencetuskan sebuah kata bijak, “Lâzimil-muthâla‘ah wal-jamâ‘ah, tanâl al-‘ulûm an-nâfi‘ah” (Tekunlah belajar dan salat berjamaah, niscaya kau peroleh ilmu manfaat). Hingga saat ini makalah ini tertancap kuat di hati sanubari setiap santri.

Menurut riwayat, kekeramatan Kiai Noerhasan nampak setelah beliau wafat. Bahkan ada yang mengatakan beliau nampak kepada santri dengan rupa “macan putih”. Dan ada juga yang mengatakan bahwa yang nampak macan putih itu adalah Kiai Bahar, putra pertama beliau. Akan tetapi yang terkenal sebagai macan putih adalah Kiai Noerhasan bin Noerkhotim. Menurut penjelasan salah satu narasumber, “Macan berarti berani, putih berarti suci. Jadi Macan Putih berarti berani karena suci”.

Di samping istikamah, beliau juga suka berkhidmah, mengabdi pada pondok, agama dan masyarakat. Semangat pengabdian ini begitu tertanam kuat sesuai tuntunan Hadis, “Sayyidul-qaumi khâdimuhum” (Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka).

Kiai Alim yang Disegani Gurunya

Banyak keterangan bahwa Kiai Noerhasan alim sejak kecil. Beliau menguasai pelbagai disiplin keilmuan, terutama ilmu Fikih. Akan tetapi kealiman beliau tidak tampak sebagaimana kelebihan-kelebihan beliau yang lainnya. Baru setelah mempunyai putra-putra yang alim, tampaklah kealiman dan kelebihannya. Dan meskipun beliau alim, tidak tampak sedikitpun kesombongan pada dirinya. Pribadi Kiai Noerhasan merupakan sosok pribadi yang wara’. Sifat wara’ yang dimilikinya membuat Kiai Noerhasan senantiasa menjaga diri dari perkara yang tidak jelas hukumnya, syubhat. Apalagi terhadap perkara haram. Beliau menjaga hawa nafsu syaithaniah agar tidak terumbar bebas mencari mangsa kemaksiatan.

Beliau lebih mengedepankan sifat zuhud sebagai aplikasi ilmu yang dimiliki. Sudah barang tentu orang yang tenggelam di dalamnya, hasrat dan keinginan akan dunia menghilang, berpaling sama sekali dari hidupnya. Oleh karena itu, penampilan Kiai Noerhasan selalu sederhana, sehingga sedikit sekali orang yang mengenal kealiman dan kelebihannya. Kealiman yang dipadu dengan rona-rona sufistik itu membuat Sayid Abu Bakar Syatha, gurunya, menaruh rasa sungkan kepada murid kesayangannya itu.

Suatu ketika, di Makkah al-Mukarramah terdapat suatu masalah yang tidak kunjung selesai dibahas, walau sudah beberapa kali dimusyawarahkan oleh ulama setempat. Waktu itu Kiai Nawawie, putra beliau sedang menuntut ilmu di sana. Kemudian masalah tersebut oleh Kiai Nawawie di bawa ke Sidogiri. Sesampainya di Sidogiri, masalah tersebut diajukan kepada abahnya, Kiai Noerhasan. Langsung saja Kiai Noerhasan memberikan jawaban sekaligus ‘ibârah-nya. Dengan jawaban dari Kiai Noerhasan, para ulama yang tadinya tidak taslîm (masih janggal) menjadi taslîm, menerima jawaban Kiai Noerhasan. Bahkan mereka berkeinginan untuk mengaji pada Kiai Noerhasan.

Khumûl, Tak Suka Menampakkan Diri

Sikap sehari-hari Kiai Noerhasan terkesan menyimpan segala atribut ke-kiai-an dan ketokohannya, khumûl. Dalam kamus sufi disebutkan bahwasanya khumûl berarti sikap “menyembunyikan” setiap aktivitas kebaikan dan tidak ingin populer. Beliau tidak keluar rumah tanpa ada keperluan yang penting, seperti untuk mulang kitab dan keperluan penting lainnya. Kalupun keluar rumah, beliau berpakaian sederhana layaknya orang-orang pada umumnya, bahkan seringkali ada santri baru yang tidak mengenal bahwa ia adalah kiainya.

Kendatipun Kiai Noerhasan seorang yang khumûl, kealiman dan kekeramatan beliau lambat laun tercium juga, dan menarik para penuntut ilmu untuk mengaji ke Sidogiri. Karena itulah Kiai Noerhasan dianggap seorang wali khafi mastûr. Sebab seorang wali itu, ibarat minyak wangi, sekalipun sudah disimpan, semerbak harumnya akan tercium juga.

Mengapa Kiai Noerhasan khumûl? Dikatakan, “Sanjungan dan pujian adalah racun yang mematikan”. Adagium Arab ini menggambarkan bahwa pujian seseorang bisa menimbulkan kesombongan pada orang yang dipuji. Karena itulah Kiai Noerhasan bin Noerkhotim menutupi jati dirinya sebagai seorang sayid keturunan Rasulullah SAW., di samping juga agar keturunanannya tidak tafâkhur (sombong) dan membanggakan nasab atau nenek moyang.

Sebagaimana pesan Ibnu Atha’illah as-Sakandari, “Idfin wujûdaka fî ardhil-khumûl,” (Pendamlah dirimu di bumi khumûl). Sifat khumûl merupakan ajaran tasawuf yang penting, sebagai langkah penyelamatan bagi orang yang menjalani hidup sufi, agar tidak terjerumus oleh popularitas dan ketenaran. Tindak-tanduk inilah yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari Kiai Noerhasan.

Lestarikan Salawat Nabi SAW.

Ciri khas santri Sidogiri ketika selesai salat magrib adalah membaca salawat Nabi “Shallallâhu ‘alâ Muhammad” di masjid atau di kompleks-kompleks pemukiman santri. Kiai Noerhasan-lah yang pertama kali mengijazahkan bacaan tersebut kepada Keluarga Sidogiri, sebagai upaya untuk melestarikan salawat Nabi SAW. Shalawat tersebut dikenal dengan nama Salawat Khidir, karena Nabi Khidir-lah yang mengijazahkan salawat tersebut langsung kepada Kiai Noerhasan. Sekarang bacaan salawat tersebut menjadi bacaan wajib bagi santri, yang dibaca sebanyak 313 kali dengan ditambah bacaan istighfar sebanyak 70 kali.

Pusat Pengajaran: Surau dan Masjid

Kiprah dan peranan para ulama dalam mendidik santri-santrinya tak lepas dari sarana dan prasarana pendukung. Salah satunya berupa tempat pengajaran yang mampu menampung semua santri untuk menimba ilmu dari Sang Guru.

Pada masa kepengasuhan KH Noerhasan bin Noerkhatim, gedung yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat pengajaran para santri adalah surau beliau. Pemusatan pengajaran pada tempat ini terus berlangsung hingga periode-periode selanjutnya. Dengan sistem pengajaran yang sederhana, di tempat mulia itulah banyak terlahir kiai-kiai besar seperti Syaikhona Cholil Bangkalan, KHR Syamsul Arifin Sukorejo, KHR As’ad Syamsul Arifin, KH Abdullah Schal, KH Khotib Umar Jember, KH Mudatsir Pamekasan, KH Zuhri Zaini Paiton, dan sederetan kiai-kiai besar lainnya.

Ada pula yang mengatakan, Kiai Noerhasan melaksanakan pengajian di dua tempat, yaitu di masjid dan surau. Masjid Sidogiri yang konon sudah dibangun sejak masa Kiai Aminullah ini (awal-awal tahun 1700-an), pada masa Kiai Noerhasan betul-betul dimanfaatkan untuk kegiatan thalabul ilmi. Bahkan semua kegiatan yang bersifat ubudiyah (ibadah) dan ta‘lîmiyyah (pengajaran) dipusatkan di dua tempat itu.

Pada waktu itu struktur dan lokasi masjid tidak banyak mengalami perubahan sebagaimana ketika dibangun Kiai Aminullah. Masjid yang masih dihuni sisa-sisa jin, musuh bebuyutan Kiai Aminullah itu membuat suasana tampak seram dan menakutkan. Konon, makhluk-makhluk jahat itu pernah bersumpah untuk selalu mengganggu tujuh keturunan Kiai Aminullah. Namun demikian, Kiai Noerhasan dan para santri tidak gentar untuk menggunakan masjid sebagai tempat pelbagai kegiatan ibadah dan dakwah, sebagaimana tujuan awal pembangunan masjid, “Lamasjidun ussisa ‘alat-taqwâ”. Hanya dengan pasrah dan tawakal pada Allah-lah gangguan apapun tidak akan berpengaruh.

Peletak Pertama Surau H

Peletak pertama pembangunan Surau Daerah H adalah Kiai Noerhasan bin Noerkhotim, kendatipun saat itu masih belum dikenal dengan sebutan Surau H. Karena pembuatan sistem kedaerahan dengan mengikuti abjad A,B,C dan seterusnya itu baru dimulai pada masa kepengasuhan KH Cholil Nawawie atas prakarsa KA Sa’doellah Nawawie.

Pembangunan surau itu bersamaan dengan pembangunan dalem (rumah) Kiai Noerhasan di sebelah utara surau tersebut. Di bagian utara surau, terdapat sebuah kamar tempat Kiai Noerhasan membacakan kitab-kitab kuning yang diikuti sejumlah santri yang mondok ataupun yang mengaji dari kampung sekitar.

Kemudian pada perkembangan selanjutnya dibangunlah surau-surau yang lain. Seperti Surau Daerah G, Surau Daerah I, dan surau-surau lainnya. Pembangunan surau-surau di kompleks PPS selain sebagai tempat dilaksanakannya ibadah salat, juga dimaksudkan sebagai tempat mengajarnya para kiai Sidogiri. Seperti Surau Daerah G, tempat mengajarnya KH Abd Adzim bin Oerip, dan Surau Daerah I tempat mengajarnya KH Noerhasan Nawawie.

Struktur bangunan Surau H sebenarnya sudah mengalami perbaikan dan pemugaran. Pemugaran terakhir dilakukan sekitar tahun 1990-an. Sebelum dipugar, di sebelah selata surau terdapat jeding yang di atasnya ada dua bilik pemukiman santri dan tempat bedug. Sedangkan di sebelah timur ada halaman suci yang cukup luas untuk tambahan tempat salat dan mengaji santri. Awalnya, sebelum dipugar lokasi surau tersebut tidak seluas sekarang. Luasnya hanya seukuran bagian dalam di sekitar lokasi mihrab.

Tempat Tinggal Kiai Noerhasan

Deretan dalem-dalem kuno Sidogiri berjejer di sebelah selatan dan utara jalan kompleks pondok pesantren. Di situlah para Masyayikh bertempat tinggal. Adapun dalem kuno yang didiami KH Noerhasan bin Noerkhotim adalah dalem sebelah utara jalan, tepatnya di sebelah utara Surau H, yang kini didiami keluarga KH Abdul Alim Abd Djalil. Di dalem itu pula KH Nawawie bin Noerhasan dan KH Cholil Nawawie berkediaman (kemudian Kiai Cholil membangun rumah baru di utara masjid). Struktur bangunannya terbuat dari kayu dan bambu. Dalem tersebut diyakini lebih kuno daripada dalem-dalem lainnya. Karena dalem-dalem yang sebelah selatan jalan baru dibangun pada periode Kiai Nawawie. Sedangkan dalem kediaman Sayid Sulaiman, dalem Kiai Aminullah dan dalem kiai-kiai sepuh lainnya sudah tiada berbekas tanpa sisa.

Dalem Kiai Noerhasan yang sangat bersejarah bukanlah tempat tinggal yang tanpa usikan. Tak sembarang orang mampu bertahan lama di rumah itu. Pelbagai gangguan dan teror makhluk-makhluk jahat (jin) kerap kali mengusik penghuni rumah. Gangguan makhluk-makhluk halus itu sebenarnya sudah terikrar lama sejak masa Kiai Aminullah. Kekalahan mereka oleh Kiai Aminullah saat membabat Sidogiri, membuahkan dendam yang tak berkesudahan, tak terkecuali dalem Sang Pengasuh juga menjadi sasaran kedengkian mereka.

Tinggalkan Benda Pusaka dan Kitab Kuno

Kiai Noerhasan bin Noerkhatim cukup banyak meninggalkan benda-benda pusaka dan benda-benda kuno lainnya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu yang cukup lama berlalu, benda-benda artefak tersebut satu persatu hilang ditelan zaman. Kiai Kholili Hasbullah, ayahanda Mas Hasbullah Mun’im, pernah mempunyai sebuah gentong, lumpang batu dan lesung yang diyakini sebagai peninggalan Kiai Noerhasan. Selain gentong tersebut bikinan beliau sendiri, bersama gentong itulah Kiai Noerhasan mengalami kejadian cukup unik.

Suatu ketika dalam perjalanan haji menuju Makkah Mukarramah, di tengah luasnya samudera, Ibu Nyai yang menyertai beliau meriang kesakitan hendak melahirkan putra yang sedang dikandungnya.Tak lama kemudian di tengah laut itu lahir putra pertama mereka, seorang bayi mungil yang telah lama ditunggu kehadirannya. Karena lahir di tengah-tengah lautan, buah hati tersebut diberi nama Bahrul Ulum, yang berarti Lautan Ilmu. Kemudian setelah kelahiran, azan dan iqamah pun dibacakan Kiai Noerhasan di telinga putranya. Si bayi mungil kemudian dimandikan dengan gentong yang sengaja dibawanya itu. Selain mempunyai kisah bersejarah, gentong tersebut juga mempunyai khasiat dan berkah, yakni apabila dibuat tempat beras, maka beras yang terisi di dalamnya tak pernah habis dalam satu tahun, walau sering diambil. Sekarang gentong dan lumpang tersebut diletakkan di lokasi Madrasah PP Is’adul Ummah, Susukanrejo, Pohjentrek Pasuruan.

Selain peralatan kuno, Kiai Noerhasan juga banyak meninggalkan benda-benda pusaka dan kitab-kitab kuno. Di antara benda pusaka yang masih ada adalah sebuah tombak pusaka. Konon tombak tersebut mempunyai nilai mistis sebagai penjaga tanah karomah di Sidogiri. Keberadaan dan letak tanah karomah tersebut tidak ada yang tahu dengan pasti. Kini tombak tersebut disimpan di dalem al-Maghfûr lah KH Abd. Alim Abd. Djalil. Sesuai dengan wasiat Kiai Lim, satusatunya benda pusaka tersebut tidak boleh diapa-apakan, dipindah tempat ataupun dibawa keluar. Sedangkan kitab-kitab peninggalan Kiai Noerhasan bin Noerkhatim adalah kitab-kitab kuno berukuran besar kira-kira 25 cm x 35 cm. Salah satunya adalah kitab Tafsir al-Qadhy Baidhawy. Kitab-kitab kuno tersebut kini disimpan bersama kitab-kitab kuno peninggalan Masyayikh lainnya di kamar bagian utara surau H, tempat di mana beliau mengajar.

Makam yang Tak Terpelihara

Kiai Noerhasan bin Noerkhatim dimakamkan di selatan mihrab masjid Sidogiri. Sebagaimana makam-makam kuno lainnya, makam Kiai Noerhasan pernah pula tidak diperhatikan. Rerimbunan pohon dan tetumbuhan kecil yang menutupi makam Kiai Noerhasan membuat makam itu semakin tidak tampak. Banyak santri dan masyarakat yang tidak mengenal makam yang tersembunyi di balik semak-semak belukar itu. Sehingga acap kali dibuat tempat duduk, mengobrol, bahkan lalu lalang di makam leluhur agung Masyayikh Sidogiri itu. Diperparah lagi dengan tumpukan benda dan barang-barang bangunan seusai pembangunan masjid sekitar tahun 1972 M, yang membuat beberapa makam kala itu nampak rata tanpa terlihat batu nisannya.

Baru kemudian pada suatu ketika KH Hasani Nawawie menaruh perhatian terhadap kondisi makam sang kakek, Kiai Noerhasan. Beliau berkata pada santri, “Iki pesareane embahku (Ini makam kakek saya)”. Begitu miris hati beliau melihat keadaan makam kakeknya. Hal sama pernah juga diucapkan KA Sa’doellah Nawawie, kakak Kiai Hasani, tatkala beliau memperhatikan makam sang kakek, “Iki kuburane embahku. Engkuk le’ aku mati, kuburen dek kene (Ini makam kakek saya. Nanti kalau saya mati, kuburkanlah saya di sini).” Beberapa lama setelah itu beliau wafat dan dimakamkan sesuai dengan apa yang diwasiatkan, di sebelah timur makam Kiai Noerhasan. Setelah pemakaman Kiai Sa’doellah di tempat itu, barulah makam Kiai Noerhasan diperhatikan, dipagari dan tidak lagi dibuat jalan setapak di dekatnya.

Anehnya, makam Masyayikh di area barat masjid tidak bisa dibangun layaknya makam-makam orang mulia lainnya. Setiap ada pembangunan makam selalu saja gagal atau rusak. Pernah suatu ketika, dibangun sebuah atap pada makam Kiai Aminullah, tetapi tak lama kemudian atap itu ambruk dan tidak bisa dibangun lagi. Ini adalah bukti nyata betapa kuat kekhumûl-an kiai-kiai Sidogiri, dari saat mereka hidup di dunia sampai saat mereka telah berada di alam barzakh. Selesai.

Pesan buku

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *