Kiai Abd. Jalil bin Fadil (Bagian II)

share to

Wara’ dan Sederhana

Suatu ketika Kiai Abd. Djalil menyuruh salah seorang khadamnya bernama Bukhori asal Bondowoso untuk menukar uang 10 ribu rupiah pada mas Mu’in, seorang pedagang yang terkenal wara’ di pasar Sidogiri.

Sesampainya di depan toko, ternyata toko mas Mu’in sedang tutup. Namun di depan toko itu si Bukhori bertemu dengan adik mas Mu’in, mas Imad yang menjabat Kepala Desa Sidogiri, “Hendak ke mana?” sapa Pak Kades Sidogiri pada Bukhori. “Disuruh menukar uang oleh kiai, Pak,” jawab Bukhori. Lalu Pak Kades menawarkan uang kecil pada Bukhori, dan dia pun setuju dengan penawaran Pak Kades. Pikir Bukhori, toh apa bedanya uang mas Mu’in dengan uang Pak Kades.

Ketika uang itu diberikan kepada Kiai, Kiai menanyakan apa betul uang itu ditukarkan kepada Mas Mu’in. Dengan jujur Bukhori menjawab uang itu ditukarkan ke Pak Kades. Kiai tidak berkenan. Sifat wara’ kiai rupanya tidak menerima uang Pak Kades yang berasal dari sumber yang tidak jelas halal haramnya, alias syubhat.

Lalu, tanpa menyentuh uang itu beliau menyuruh Bukhori untuk mengembalikannya. Dengan segera ia berangkat mencari Pak Kades. Namun, Pak Kades sudah lupa terhadap uang Kiai sebab sudah bercampur dengan uang yang lain. Bukhori pun kembali melapor. “Wis gak usah dipek, gak opoopo (Sudah biarkan tidak usah diambil, tidak apa-apa).” Kata Kiai enteng. Padahal uang 10 ribu saat itu, akan bernilai jutaan rupiah saat sekarang.

Menjemur padi pun Kiai berusaha agar padinya tidak berkumpul dengan milik orang lain, takut-takut ada milik orang yang terikut, walaupun hanya satu biji. Jika merasa ada yang tercampur, sekalipun tanpa sengaja, Kiai Djalil akan mengembalikan padi yang tercampur itu semua. Demikian juga bila di pondok kebetulan ada acara semacam ikhtibar atau lainnya, setelah selesainya acara, semua peralatan semacam kuali dan perlengkapan lain dibersihkan sebersih-bersihnya. Khawatir kalau-kalau ada barang milik pondok yang terikut sisanya.

Uang yang dibuat belanja sehari-hari untuk kiai dan keluarganya adalah murni hasil jerih payah sendiri. Beliau memperolehnya dari hasil pertaniannya. Uang dari tamu yang sowan ke Kiai sangat jarang dibuat untuk belanja rumah tangga. Biasanya uang dari tamu itu dibuat untuk membayar ongkos para pekerja atau diberikan kepada orang lain.

Yang menarik dari sikap wara’ beliau ini, Kiai menyuruh istrinya, Nyai Hanifah, untuk membuat sendiri masakan yang akan dimakan, seperti kecap, petis, tempe, serta bahan-bahan makanan lain yang bisa dibuat sendiri. Ibu Nyai Hanifah pernah sedikit protes perihal kehati-hatiannya tersebut, “Abah (Kiai Nawawie) saja tidak begitu” kata Nyai. Dengan ringan Kiai Djalil menjawab, “Abah wis wushul, aku durung (Abah sudah wushûl, aku belum).”

Sifat sederhana dan istikamah Kiai Djalil menyebabkan masyarakat sekitar menjadi segan. Tanpa disuruh, kaum perempuan di sekitar Sidogiri merasa malu bila tidak menutup aurat. Sulit menemukan perempuan berjalan sendirian tanpa disertai mahramnya. Bila naik dokar pun, pasti dokarnya selalu tertutup.

Memang ada orang yang menilai, apa yang dilakukan Kiai Djalil ini akan mempersulit diri sendiri. Padahal kalau menurut tataran Fikih, sesuatu apa pun yang sudah jelas halal tidak perlu dipermasalahkan.

Dalam dunia Tasawuf kita kenal ungkapan Hasanatul-Abrâr Sayyi’atul-Muqarrabîn (kebaikannya orang baik, adalah kejelekannya orang yang dekat pada Allah SWT.). Tingkat amal manusia itu berbeda-beda, tergantung maqam-nya. Tekun beribadah karena mengharap pahala atau takut siksa, sudah baik untuk orang kelas ‘biasa’, tapi tidak untuk kalangan ‘elit’ sekelas Rabiah al-Adawiyah, Sufyan al-Tsauri, atau Al- Ghazali. Bagi orang lain, gaya hidup Kiai Djalil yang sangat selektif terhadap makanan, mungkin akan menyusahkan, namun bagi Kiai Djalil sendiri itu dirasakan sebagai satu kenikmatan.

Apa yang menjadi prinsip Kiai Djalil ini sudah pas dengan arti wara’. Dalam kitab-kitab Tasawuf, wara’ diartikan dengan meninggalkan barang halal karena khawatir terjerumus pada yang haram. Ini yang diamalkan oleh Kiai Djalil. Bukan meninggalkan barang haram dan mengambil yang halal.

Dan betul, jika seorang hamba benar-benar takut pada Allah SWT., maka Allah I akan menjaganya terjerumus ke dalam kedurhakaan. Suatu ketika Kiai Djalil diundang salah seorang tetangganya untuk menghadiri undangan walimah. Kiai tahu, di tempat walimah, ada pertunjukan haram. “Jika datang berarti ridhâ bil-ma’siyat (ridha dengan maksiat). Jika tidak datang, merusak hubungan antar tetangga ( haqqul-jâr).” Setelah dipikir agak lama, Kiai memutuskan untuk hadir. Saat akan berangkat ada kejadian yang ganjil. Kiai merasakan kakinya sakit luar biasa, namun bila balik ke rumahnya sakit itu hilang. Akhirnya Kiai tidak datang dengan alasan sakit, dan hubungan antar tetangga pun tetap terjalin.

Mujahadah dan Ibadah

Mungkin agak sedikit kontras dengan cerita di atas. Membaca cerita kewara’an Kiai Djalil, terbayang sosok yang tampil apa adanya atau berpakaian lusuh. Ternyata tidak. Dalam kesehariannya, Kiai Djalil selalu berpakaian rapi bahkan terlihat necis. Pakaiannya selalu disetrika. Khususnya ketika akan salat, terlihat seperti orang yang akan melakukan perjalanan jauh. Dalam pandangan Kiai Djalil, sederhana, bukan berarti tampil semrawut.

Di samping sosok yang wara’, Kiai Djalil juga dikenal ketekunannya dalam beribadah. Saat masih mondok, tiap malam beliau hanya tidur satu jam, yakni sekitar pukul 11.00. Jam 12.00 beliau bangun dan terus khusyuk beribadah sampai jamaah Subuh dengan Kiai. Ketekunan beliau ini terus berlanjut hingga beliau berkeluarga. Hanya sejak berkeluarga, tiap malam beliau tidur dua jam.

Sejak usia baligh sampai wafat. Beliau hanya satu kali tidak salat berjamaah. Hal ini beliau ungkapkan sendiri kepada santri-santrinya beberapa waktu menjelang wafatnya. Hal ini mengingatkan kita pada tabi’in bernama Said bin Musayyibyang dalam 50 tahun tidak pernah satu kalipun ketinggalan takbiratul ihram bersama Imam.

Awal-awal menjadi pengasuh. Beliau melakukan tirakat 7 hari di Batuampar Pamekasan. Selama 7 hari itu beliau berpuasa dan berbuka hanya dengan separuh pisang, sisanya dibuat makan sahur. Dan setiap harinya mengkhatamkan Al-Qur’an.

“Tuntutlah Ilmu yang Banyak, dan Bersungguhsungguhlah”

Semasa Kiai Djalil, malam selasa adalah malam libur bagi semua santri. Bermacam-macam aktivitas mereka lakukan. Ada yang pergi adhang (menanak nasi). Ada pula yang wiridan dan zikiran di Masjid, atau ngobrol di kamar masing-masing tentang segala macam yang ada kaitannya dengan aktivitas sehari-hari. Melepaskan kesumpekan.

Sementara itu ada yang pula yang berkumpul di surau sembil bergurau. Di antara santri yang berkumpul di surau itu ada yang bernyanyi bersama dengan beberapa temannya. “…Pulau Bali pulau kesenian…”. Dia asyik saja bernyanyi sambil tersenyum. Semuanya senang larut dalam kegembiraan, tertawa terbahak-bahak. Tanpa mereka sadari, Kiai Djalil sudah ada di tempat itu dari arah belakang. Si santri yang menyanyi dan semua kawannya tidak tahu bahwa ada Kiai di belakang mereka.

Sejurus kemudian mereka sadar bahwa sedari tadi Kiai ada diantara mereka. Semuanya kontan diam, takut dan gemetar. Keringat dingin perlahan turun di kening, padahal tubuh sedang terasa panas. Mereka merasa berbuat kesalahan pada Kiai. Tapi Kiai tidak marah saat itu, hanya keesokan harinya beliau menulis di papan “Uthlub ‘ulûman wa-jtahid katsîrân!! (Carilah ilmu sebanyak mungkin dan bersungguh-sungguhlah!)”.

Pesan Kiai Djalil itu menjadi pegangan prinsip pokok bagi santri Sidogiri untuk giat menuntut ilmu pengetahuan agama. Kalimat itu juga banyak ditulis dalam almanak dan buku-buku.

Bersambung ke: Biografi Kiai Abdul Jalil bagian III

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *