KH. ABU DZARRIN SANTRI YANG MENJADI PENGASUH SIDOGIRI (Bagian III/Selesai)

share to

Pengarang Kitab yang Produktif

Meskipun sudah jadi pengasuh, Mbah Dzarrin—yang terkenal dengan kealimannya—tetap menyalurkan hobinya di kala mondok di Sidogiri dulu. Beliau banyak menghabiskan waktunya dengan muthâla‘ah dan belajar. Tak banyak yang tahu di mana beliau sering menghabiskan waktunya untuk belajar.

Pada suatu kesempatan, ketika santri-santri melaksanakan tugas menjaga pesantren, sesekali beliau mengontrol jalannya ronda itu. Hal ini beliau lakukan dengan tak lupa membawa kitab yang selalu beliau baca.

Kealiman beliau bisa ditilik dari karangannya, baik yang hanya berbentuk manuskrip kuno maupun yang sudah dikodifikasi (dibukukan) dalam bentuk sebuah kitab.

Tulisan beliau banyak sekali jumlahnya, hanya saja banyak yang tidak terkodifikasi. Di antara karangan beliau yang sempat terkodifikasi adalah kitab Sorrof Sono serta kitab yang mengulas tentang Dajjal dan Yakjuj Makjuj. Namun, kitab yang disebutkan terakhir ini hilang dan tidak ditemukan sampai sekarang. Sementara kitab Sorrof Sono, meski pernah digunakan di beberapa pondok pesantren di nusantara, seperti Ponpes Lebak, Ponpes Langitan, Ponpes Lasem, dan beberapa pesantren di Bangkalan, saat ini tidak ditemukan.

Kitab Sorrof Sono adalah kitab yang membahas ilmu sharaf. Kitab ini sangat memanjakan pemula untuk belajar membaca kitab. Selain keterangannya mudah dipahami, kitab ini juga lugas dan ringkas. Sehingga membuat para pemula gampang dalam menghafalkan sekaligus menerapkannya.

Ada hal yang istimewa dalam kitab Kiai Abu Dzarrin yang satu ini. Kitab ini mirip dengan kitab Sharaf Amtsilatut-Tahsrîfiyyah, karya KH Muhammad Ma’shum bin Ali Jombang (w. 1353 H/1934 M). Bedanya, kitab karya KH Abu Dzarrin ini tidak mencantumkan mashdar mîm dalam tashrîfan-nya. Selain itu, Sorrof Sono dikarang lebih dulu ketimbang kitab Sorrof Amtsilatut-Tahsrîfiyyah. Ini bisa dibuktikan dengan melihat masa hidup Kiai Abu Dzarrin dengan Kiai Ma’shum yang terpaut jauh.

Kitab ini diberi nama dengan ‘Sorrof Sono’ karena mengambil nama dusun tempat beliau berdakwah dan menegakkan Agama Allah, tepatnya dusun Karangsono. Mungkin, karena proses penulisan kitab tersebut dirampungkan di dusun Karangsono, sehingga nama kitab itu diembel-embeli dengan nama ‘sono’.

Menurut versi lain, kitab sorrof ini bernama “Sorrof Tugu” bukan “Sorrof Sono”. Akan tetapi pendapat pertama (Sorrof Sono) adalah pendapat yang lebih populer dan lebih banyak diutarakan oleh para narasumber.

Selain Sorrof Sono, beliau mempunyai banyak karya tulis yang masih berupa manuskrip. Mayoritas manuskrip yang beliau tulis berkisar pada ilmu-ilmu Nahwu (Sintaksis) dan Sorrof. Akan tetapi, karena minimnya sarana cetak waktu itu, manuskrip yang beliau miliki tidak sempat dibukukan. Hanya saja, sebagian diajarkan kepada para santri-santrinya (untuk kalangan sendiri).

Dari karangan dan tulisan beliau, bisa ditarik kesimpulan bahwa beliau adalah pakar ilmu alat (gramatika Arab). Seseorang tidak akan bisa membaca kitab kuning dengan benar dan fasih bila tidak memahami ilmu alat. “Ash-Sharfu ummul- ‘ilmi wan-Nahwu abûhâ, (ilmu Sorof adalah ibu dari segala macam ilmu, sementara ilmu Nahwu adalah bapaknya),” dawuh Kiai Abu Dzarrin suatu ketika. Begitulah perkataan sarat makna yang pernah dilontarkan Kiai Abu Dzarrin mengenahi pentingnya mempelajari ilmu alat (Nahwu-Sorof).

Syaikhona Cholil Bangkalan, Waliyullâh Pakar Nahwu Didikan Mbah Tugu

Kealiman beliau akan ilmu gramatika Arab tak hanya terdengar oleh warga sekitar. Bahkan jauh dari seberang sana, beliau begitu populer akan keahlian dalam ilmu yang satu ini (gramatika Arab).

Terbukti, sekalipun telah berpulang ke rahmatullâh, beliau tetap didatangi oleh santri yang hendak mengais ilmu kepadanya. Sebut saja Syaikhona Cholil bin Abdul Lathif Bangkalan (proses belajar Kiai Cholil dikupas secara rinci di bab VII), guru pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah.

Kapabilitas Syaikhona Cholil dalam disiplin ilmu alat ini tidak ada yang meragukan. Bahkan, sejak usia yang masih relatif muda, beliau sudah paham betul dan bahkan hafal luar kepala akan seluk beluk ilmu alat.

Ilmu Nahwu memang sangat dikuasai sekaligus menjadi favorit Kiai Cholil. Terbukti, ketika Ciai Kholil ditanya mengenai masalah apapun, baik fikih ataupun ilmu-ilmu yang lainnya, beliau kerap kali menjawabnya dengan menggunakan nazham Alfiyyah Ibni Malik. Itulah salah satu bukti akan kealiman Syaikhona Cholil Bangkalan yang ilmunya ini, beliau peroleh dari seorang waliyullâh di Pasuruan, KH Abu Dzarrin.

Bergurunya Syaikhona Cholil kepada Kiai Abu Dzarrin ini terekam dalam kasidah yang disenandungkan oleh Jamiyah Qashaid Is’adul Ahbab di PP Syaikhona Cholil Bangkalan. Berikut petikan syairnya:

Kiaeh Cholil omor sebeles tahon

Monduk de’ Pasuruan desah Winongan

Kiaenah Abu Dzarrin ampun sedeh

Kenging petong areh deri pewafattah

Maka adebu Kiaeh Cholil de’ gurunah

Kiaeh Abu Dzarrin sepon tadek omorrah

Kadinapah panjenengan ampon sedeh

Kauleh gilo’ ngajih gi’ terro ngajiyeh

Pas terros atawassul neng pesarean

Tak bu-ambu sabben areh maos Qur’an

Seamponah kenging empak settung areh

Kiai Cholil asaren pas terros amimpeh

Seamponah abunguh pas langsung alim

Mimpeh eburug Kiai Abu Dzarrin

Afal kitab Alfiyyah kelaben Asymuni

Jugen kitab Ibnu ’Aqil ben ’Imrithi

(Kiai Cholil berumur 11 tahun

Mondok ke Pasuruan desa [kecamatan] Winongan

Kiai Abu Dzarrin sudah wafat

Dapat tujuh hari dari kewafatannya

Maka berkatalah Kiai Cholil kepada gurunya

kiai Abu Dzarrin yang sudah wafat Bagaimana sampeyan sudah wafat

[Padahal] saya belum mengaji dan masih mau mengaji

Lalu [Kiai Cholil] bertawassul di pusara [Kiai Abu Dzarrin]

Tiada henti tiap hari membaca al-Qur’an

Setelah [mengaji] selama 41 hari Kiai Cholil tertidur kemudian bermimpi

Bangunnya langsung alim

[Ia] bermimpi diajari Kiai Abu Dzarrin

Hafal kitab Alfiyyah dan Asymuni

Juga kitab Ibnu ’Aqil dan ’Imrithi)

Tatkala Kiai Cholil hendak pulang ke kampung halamannya di Bangkalan, beliau sengaja pulang lewat kota Bangil, Pasuruan. Ketika waktu salat Magrib tiba, beliau baru sampai di Cangaan, Bangil.

Setelah mendengar azan Magrib dikumandangkan, beliau bergegas mencari masjid guna mendirikan salat Magrib. Sampai di masjid, ternyata salat sudah dimulai.

Di tengah pelaksanaan salat, Kiai Cholil tertawa terbahak-bahak seakan melihat hal yang lucu atau aneh. Lengkingan tawa ini terdengar ke seluruh penjuru ruangan masjid dan menyebabkan para jamaah merasa tidak khusyuk, termasuk sang imam salat.

Setelah salat Magrib, sang imam menyapa para jamaah dan bertanya, “Siapa barusan yang tertawa ketika salat Magrib.”

“Saya, Yai…” jawab Kiai Kholil dengan tenang.

“Kenapa kamu tertawa seperti itu (sampai terbahak-bahak red),” tanya imam itu.

“Bagaimana tidak tertawa, Yai…, saya melihat Anda salat dengan memanggul bakul nasi.” Memang, dalam salat tersebut sang imam tidak khusyuk dan membayangkan nasi yang akan disantap setelah salat. Sebab waktu itu sang imam berpuasa dan belum berbuka nasi alias mencukupkan diri dengan takjil minuman saja.

“Kamu dapat ilmu ini (mengetahui pikiran orang) dari mana?” tanya sang imam penuh keheranan.

“(Saya mendapatkannya) dari Mbah Tugu,” jawab Kiai Kholil dengan penuh percaya diri.

Menurut versi lain, kejadian ini benar-benar terjadi, akan tetapi bukan ketika Kiai Cholil pulang dari mondok. Tapi ketika beliau hendak mondok di Cangaan. Wallâhu a’lam.

Selain mengajarkan ilmu-ilmu syariat, KH. Abu Dzarrin juga menggembleng para santri dan masyarakat sekitar sebagai amunisi dan bekal dalam menghadapi kolonial Belanda. Londo Kedawung, begitulah masyarakat menyebut para penjajah yang sering kali melakukan penindasan di Tugu, Karang Sono, dan sekitarnya itu.

Londo Kedawung sangat meresahkan masyarakat. Kedawung adalah salah satu desa yang menjadi markas sekaligus pertahanan Belanda. Banyak punggawa Belanda kala itu yang menjadikan Kedawung sebagai pangkalan senjata dan alat perang. Ada juga yang menjadikan Kedawung sebagai tempat persinggahan ketika mengadakan perjalanan ke timur Jawa.

Kiai Digdaya, Bikin Belanda Tak Berdaya

Belanda, selain menjadi penjajah negara, juga menjadi penghambat jalan dakwah KH Abu Dzarrin. Selain menyiksa dan memaksa rakyat untuk bekerja tanpa upah, Belanda juga berusaha menanamkan keyakinan Barat (Kristen) dalam hati masyarakat pribumi.

Hal ini membuat kebencian Muslim pribumi kepada Belanda menjadi berlipat ganda. Tak ayal, banyak ormasormas atau aliansi yang berbasis Islam menyerukan untuk berjihad melawan Kolonial Belanda. Hal senada juga dilakukan oleh Mbah Tugu. Beliau juga menyerukan perlawanan terhadap penjajah Belanda.

Belanda begitu membenci ulama-ulama Indonesia, terutama ulama yang lantang menyerukan dan memfatwakan bahwa memerangi Belanda adalah jihad yang wajib hukumnya. Maka, dengan siasat liciknya, Belanda menggunakan segala cara agar ulama-ulama itu dienyahkan dari muka bumi, atau paling tidak dipenjara atau diusir dari tempat tinggalnya.

Pindah ke Karang Sono

Di Pondok Tugu terdapat bedug besar sepanjang empat meter. Bedug inilah yang digunakan para santri dan masyarakat sekitar untuk mengumumkan bahwa waktu salat sudah tiba. Apabila bedug ini ditabuh, maka orang Kafir (non Muslim) kota Pasuruan pusing tujuh keliling. Kaca-kaca rumah dan toko mereka pecah karena imbas dari gaung suara bedug yang bertalu-talu.

Bedug ini juga menyebabkan rusaknya mesin salah satu pabrik (konon, pabrik tebu) milik Belanda. Mesin pabrik yang harus bekerja nonstop selalu mati ketika bedug Tugu ditabuh.

Sehingga, tiap kali waktu salat tiba, mesin pabrik itu mati dan tak dapat dihidupkan kembali sampai pelaksanaan salat jamaah di pondok Tugu selesai.

Belanda yang merasa terganggu akan hal ini, mendatangi asal suara dan meminta untuk melenyapkan atau mengganti bedug tersebut. Akan tetapi, masyarakat tidak menggubris permintaan Belanda, bahkan masyarakat menyarankan agar bedug itu ditabuh lebih keras lagi dan lebih kencang.

Kekesalan Belanda tambah menjadi-jadi setelah melihat tidak ada perubahan pada kondisi mesin pabriknya. Dengan kata lain, mesin mereka selalu mati tatkala bedug ditabuh. Padahal mereka sudah meminta agar bedug itu dienyahkan atau paling tidak diganti.

Akhirnya, Belanda melampiaskan kekesalan ini kepada Kiai Abu Dzarrin. Belanda mengambil jalan pintas—dalam menyelesaikan masalah—dengan mengusir Kiai Abu Dzarrin dari Tugu.

Kiai Abu Dzarrin akhirnya memutuskan untuk pindah dari Tugu ke kampung sebelah, Karang Sono. Kedua kampung yang berdekatan ini masih berada dalam satu kawasan, desa Kedawung Kulon.

Kiai Abu Dzarrin pindah membawa semua barangbarangnya ke Karang Sono. Semuanya dipindahkan tanpa terkecuali, termasuk rumah satu-satunya yang beliau miliki.

Para santri dikerahkan untuk memindahkan rumah beliau dari Tugu ke Karang Sono. Jarak yang tidak terlalu jauh antara keduanya membuat pemindahan ini berjalan cepat dan tidak menghabiskan banyak waktu. Tiap santri diharuskan membawa batu bata dan genteng, masing-masing satu buah.

Pemindahan ini berlangsung sekali jalan (dari Tugu ke Karang Sono) dan tidak ada yang bolak-balik. Hal ini menujukkan betapa banyaknya santri Kiai Abu Dzarrin kala itu.

Kekeramatan Kiai Abu Dzarrin

Pada suatu hari, setelah Kiai Abu Dzarrin pindah, mesin milik Belanda mati lagi. Akan tetapi, kali ini mesin itu tidak bisa hidup lagi sampai salat jamaah Kiai Abu Dzarrin selesai. Belanda merasa heran akan kondisi mesinnya. Biasanya, mesin akan hidup lagi apabila salat jamaah Kiai Abu Dzarrin telah selesai.

Belanda akhirnya harus mendatangkan montir dari luar negeri, akan tetapi hasilnya nihil. Berkali-kali montir luar negeri itu mencoba memperbaiki, tapi tetap saja mesin itu tak hidup. Mesin masih tetap mati dan belum juga ’siuman’. Sehingga Belanda berinisiatif mengundang Kiai Abu Dzarrin untuk memperbaiki mesin mereka.

Setelah mengadakan pencarian, Belanda menemukan Kiai Abu Dzarrin di tempat barunya di dusun Karang Sono. Lalu, Belanda mengutarakan maksud kedatangan mereka kepada beliau. Kiai Abu Dzarrin yang semenjak tadi diam mendengarkan penuturan Belanda berkata, “Kamu itu bagaimana, dulu kamu mengusir saya, sekarang kamu ke sini minta bantuan saya.”

Kiai Abu Dzarrin, adalah kiai yang selalu berkenan hadir jika diundang dan sulit hendak mengatakan ’tidak bisa’ bila dimintai pertolongan oleh siapapun, termasuk Belanda. Oleh sebab itu, beliau bersedia mendatangi pabrik milik Belanda guna memperbaiki mesin yang rusak. Aneh bin ajaib, dengan sekali sentuh, mesin itu langsung menyala dan kembali berfungsi seperti sedia kala. Belanda geleng-geleng kepala keheranan melihat hal itu.

Dasar Belanda yang tak tahu terima kasih. Meski sudah pernah ditolong oleh Kiai Abu Dzarrin, mereka tetap mencari gara-gara dengan beliau dan tetap saja meresahkan masyarakat.

Pada suatu ketika, Belanda mengundang Mbah Tugu untuk menghadiri acara yang mereka gelar. Dengan mempersiapkan sajian dan hidangan sesempurna mungkin, Belanda meminta kiai untuk memasuki ruang jamuan yang telah mereka siapkan dengan susah payah. Jamuan mewah penuh aneka ragam lauk-pauk dan makanan lezat mengisi piring-piring dan mangkok-mangkok di atas prasmanan. Namun, ketika Kiai Abu Dzarrin sampai di ruangan tersebut, nasi dan lauk pauknya raib tak berbekas dan hanya menyisakan piring serta bakulnya saja.

Tidak cukup sampai di situ kebejatan Belanda. Kebencian Belanda kepada Mbah Dzarrin semakin menjadi-jadi. Banyak cara yang ada di benak mereka untuk menganiaya dan menyakiti beliau.

Masalahnya adalah, Kiai Abu Dzarrin terkenal sebagai kiai sakti mandraguna. Maka dari itu, mereka tidak mau bentrok fisik dengan beliau. Mereka menggunakan cara lain tanpa melibatkan senjata berat.

Senin-Kamis yang rutin beliau lakukan. Mereka mengundang Kiai Abu Dzarrin (dalam keadaan berpuasa) pada suatu acara. Mereka menyediakan gule anjing belang (hitam-putih) sabagai lauk-pauk dan berbagai sayur-mayur. Syahdan, ketika kiai datang dan makanan mau disajikan ke hadapan beliau, anjing yang sudah siap saji itu hidup lagi, melompat dan lari terbirit-birit sambil menggonggong. Sayur-sayuran yang tadinya siap untuk disantap, menjadi segar kembali seakan baru dipetik.

Yoopo sih koen iki, Do? Wong (anjing dan sayur-mayur) sek urip koen sugokno nang aku! Aku kon padakno bek wedus ta? Aku dikongkon mangan (sayur) kacang mentah, (Kamu ini bagaimana Do? Wong [anjing dan sayur-mayur] masih hidup kamu suguhkan kepada saya! Kamu samakan saya dengan kambing ya, kok disuruh makan [sayur] kacang yang masih mentah),” kata Kiai Abu Dzarrin kepada Belanda. Belanda pun tidak tahu harus berbuat apa. Mereka benar-benar dibuat tak berdaya.

Sejak kejadian itu, Belanda semakin menaruh rasa dendam kepada Kiai Abu Dzarrin. Kebencian mereka semakin mendalam. Mereka muak untuk sekadar melihat raut muka beliau. Tidak hanya itu, mereka juga merasa jijik ketika melihat hal-hal atau pernak-pernik yang dimiliki oleh Kiai.

Pada suatu kesempatan, capil (topi caping untuk bercocok tanam) milik Kiai Abu Dzarrin tergeletak di tengah perempatan jalan. Capil ini menghambat kelancaran transportasi jalan tersebut. Dua perwira Belanda yang melihat capil itu, menanyakan siapa pemiliknya. Seseorang yang kebetulan melewati jalan tersebut mengatakan bahwa capil itu milik Mbah Dzarrin, Tugu.

Setelah mendengar jawaban tadi, dua perwira Belanda tadi menendang capil Kiai kuat-kuat. Aneh bin ajaib, bukannya capil yang melayang, akan tetapi kedua perwira itulah yang terpelanting ke belakang.

Ada hal unik dari capil Kiai Abu Dzarrin itu. Konon, salah satu keistimewaannya adalah, ketika capil itu digerakkan dan diarahkan pada kapal terbang maupun tank milik Belanda, maka keduanya berhenti dan diam tak bergerak seketika itu juga.

Wafat Saat Sujud, Jam Dinding pun Berduka

Sangat banyak bentuk perlawanan masyarakat terhadap Belanda atas titah dan rekomendasi Kiai Abu Dzarrin. Dalam berjuang, beliau lebih mengedepankan kesabaran dan belas kasih. Sehingga, beliau sangat disayang oleh masyarakat sekaligus disegani oleh penjajah Belanda.

Salah satu peran beliau yang paling riil adalah beliau selalu mendidik dan menekankan para santri dan masyarakat agar membiasakan salat berjemaah dan tepat waktu. Hal ini dinyatakan berhasil berdasarkan bukti di lapangan.

Ketika suara bedug dan kentongan menggema bersautan, mereka (santri dan masyarakat) berbondong-bondong bergegas menuju masjid untuk melaksanakan salat berjamaah bersama beliau. Mereka melaksanakan hal ini tepat waktu, tak lain karena meneladani tokoh yang mereka segani, KH Abu Dzarrin.

Pengabdian beliau dalam berdakwah di jalan Allah SWT terhenti ketika Sang Khalik mengambil ruhnya untuk kembali ke pangkuan-Nya. Dalam keadaan berserah diri kepada Allah, Kiai Abu Dzarrin menghembuskan nafas yang terakhir. Beliau meninggalkan dunia yang fana ini ketika bersujud di hadapan Sang Pencipta tatkala melaksanakan salat Fajar (Subuh).

Diperkirakan beliau wafat pada tanggal 16 Syawal 1266 H. Prakiraan ini berlandaskan haul beliau yang rutin digelar pada tanggal 16 Syawal. Sedangkan dalam peringatan haul tahun 1429 H, beliau dihauli untuk yang ke-163 kalinya. Perhitungan mundur selama 163 tahun dari tahun 1429 H jatuh pada tahun 1266 H. Dengan begitu, prakiraan hari wafat beliau adalah 16 Syawal 1266 H.

Berita kematian beliau sangat cepat terdengar ke mana-mana. Dalam waktu singkat, dalem beliau dipenuhi lautan manusia yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Tidak hanya manusia yang merasa kehilangan akan kiai kebanggaan mereka ini. Ketika Kiai Abu Dzarrin wafat, jam dinding yang ada di tempat beliau salat pun ikut berduka (mati).

Seorang hamba biasanya diambil nyawanya oleh Allah SWT dalam keadaan atau aktivitas yang digemari dan sering dilakukan, meskipun dalam kenyataannya, ada juga yang dicabut (nyawanya) tatkala tidak melakukan hal yang disenangi.

Menilik dari waktu dan keadaan ketika beliau wafat, menunjukkan bahwa beliau adalah hamba yang gemar bermunajat kepada Allah . Ketika masih hidup, Mbah Tugu sering menghabiskan waktunya untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT . Hal ini beliau aplikasikan dengan bermunajat (salat) dan muthâla‘ah (belajar). Apabila sudah terjun ke dua hal ini (salat dan belajar), beliau berada dalam puncak konsentrasi dan sangat khusyuk sehingga tidak ingat segalanya, termasuk waktu. Dan, pada akhirnya, beliau tutup usia ketika melaksanakan aktivitas yang beliau gemari.

Wafat di Karang Sono, Dimakamkan di Tugu

Sebelum wafat, Kiai Abu Dzarrin sempat berwasiat kepada sanak familinya agar dikebumikan di Tugu jika ajal menjemput. Wasiat ini tetap diingat oleh keluarga dan sanak familinya. Sehingga, meskipun beliau wafat di Karang Sono, makam beliau berada di desa istrinya, Tugu.

Beliau meminta kepada keluarganya untuk memakamkannya di sana (Tugu), karena Tugu adalah tempat Kiai Abu Dzarrin membangun mahligai rumah tangga dan merupakan tempat beliau ditugaskan oleh gurunya, KH Mahalli Sidogiri.

Beliau wafat meninggalkan empat putra-putri yang tersebar di berbagai pelosok di Kabupaten Pasuruan. Dan hanya Kiai Muhammadun beserta sebagian keturunannya yang masih menetap di Karang Sono dan Tugu.

Tetap Didatangi Santri

Kealiman beliau akan ilmu gramatika Arab sudah terdengar sampai ke pulau seberang. Banyak santri yang rela menyeberangi keganasan ombak lautan hanya untuk mengais ilmu dari Mbah Tugu. Sebut saja Syaikhona Muhammad Cholil bin KH Abdul Lathif Bangkalan, salah satu perintis NU sekaligus guru dari para pendirinya.

Keinginan Cholil muda—yang kala itu berusia 11 tahun— untuk mempelajari dan memperdalam ilmu agama, terutama sintaksis (Nahwu), mendamparkannya ke daerah Pasuruan. Di kabupaten yang terkenal dengan kota santri ini, Cholil mencari guru sesuai dengan perintah ayahnya, KH Abdul Lathif. Ayahnya menyuruh Cholil untuk mencari kiai ’allâmah, ahlul-‘ilmi dan digdaya di Pasuruan, yakni Mbah Tugu (KH Abu Dzarrin).

Setelah sampai di Tugu, Cholil mendapatkan hal yang tidak pernah ia sangka sebelumnya. Mbah Tugu sudah berpulang ke rahmatullâh, bahkan sudah ditahlili untuk yang ketujuh kalinya. Hal ini membuat beliau bersedih dan hampir putus asa.

Dengan rasa penuh penyesalan—karena merasa terlambat, Cholil muda berziarah ke makam KH Abu Dzarrin. Di depan peristirahatan terakhir beliau, Cholil menyampaikan salam ayahandanya kepada Kiai Abu Dzarrin. Syahdan, makam Mbah Tugu pun merekah (sebagai pertanda jawaban salam) dan membuat Cholil terkejut akan hal yang terjadi di hadapannya.

Mengajar lewat Mimpi

Setelah menyaksikan kejadian itu, Cholil muda berkesimpulan bahwa Kiai Abu Dzarrin hanya wafat jasadnya saja, sedangkan sukma dan ruhnya masih sugeng (hidup). Lantas Cholil muda berkata (di samping makam KH Abu Dzarrin), “Yai…, saya mendatangi sampeyan jauh-jauh dari Madura, akan tetapi setelah sampai di sini ternyata sampeyan sudah wafat. Kalau sampeyan tidak mengajari saya, saya tidak akan beranjak dari tempat ini.”

Setelah berkata demikian, Cholil muda beritikad untuk mengaji di pesarean Mbah Tugu. Di sana, ia mengaji alQur’an tiada henti selama empat puluh satu hari empat puluh satu malam.

Setelah menyelesaikan ritualnya ini (riyâdhah bâthiniyyah), Cholil muda merasa lelah dan mengantuk sekali, sehingga ia terlelap dan tertidur pulas beberapa saat. Dalam tidur singkat ini, ia bermimpi diajari langsung oleh KH Abu Dzarrin. Mbah Tugu memberikan semua ilmu yang beliau miliki kepada Cholil muda. Termasuk mengajarinya tujuh kitab fan ilmu Nahwu sekaligus. Di antaranya, Ibnu ‘Aqîl (Syarah Alfiyyah Ibni Mâlik), Ajurrûmiyyah, dan Asmawi.

Dalam waktu yang relatif singkat, Cholil muda sudah hafal dan bahkan menguasai Ilmu Nahwu sampai ke seluk-beluknya. Tak heran, jika dalam suatu ketika beliau ditanya tentang segala ilmu pengetahuan, beliau selalu menjawab dengan menggunakan Nazham Alfiyyah Ibni Mâlik, karya Syekh Muhammad bin Abdullah al-Andalusi. Wallâhu A’lam bish-shawâb.

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *