Masyayikh Sidogiri

KH. Abdul Alim bin Abd. Djalil, Anggap Santri sebagai Amanah

KH. Abdul Alim bin Abd. Djalil adalah pengasuh ke-11 Pondok Pesantren Sidogiri. Kiai Lim —sapaan akrab beliau, lahir dari pasangan KH. Abd. Djalil bin Fadhil dan Nyai Hanifah binti Kiai Nawawie.

Kiai Lim belajar kepada banyak guru. Tidak hanya di Sidogiri, tapi juga kepada Masyayikh terkenal di Jawa Timur pada masa itu, seperti Kiai Zubair Sarang, Kiai Fadhlin Jember, dan Kiai Maksum Lasem.

Saat mengasuh pesantren, Kiai Lim membacakan beberapa kitab kepada santri, seperti Ihya’ Ulumiddin, Shahih Bukhari, Fathul Wahhab, dan Tafsir Jalalain. Saat ngaji, sosok yang terkenal sebagai pribadi pendiam ini berubah menjadi pembicara andal dengan penjelasan yang sangat detail dan mudah dipahami.

Kepedulian Kiai Lim pada santri bisa terlihat saat beliau dirawat di rumah sakit. Saat kondisi kritis, Kiai Lim sering memikirkan pengajian santri. Pernah, pada pukul dua dini hari, Kiai Lim peduli dan bertanya, “Bagaimana ngajinya santri-santri?”.

Selain itu, bentuk kepedulian Kiai Lim dapat dirasakan dalam dua wejangan beliau. Hal yang kemudian dapat menjadi kompas bagi para santri Sidogiri untuk menyusuri kehidupan.

“Kalau kamu berbaur dengan masyarakat, harus memberi contoh yang baik dan mengamalkan ilmu yang telah kamu peroleh. Jangan ragu-ragu memperjuangkan agama Allah, sebab nanti akan diberi pertolongan oleh Allah. Apabila kamu menetap di kampung orang, mengajarlah ngaji al-Quran. Jangan sampai berhenti, sampai kamu mati.”

“Ojok wedhi awakmu iki nang sopo-sopo, tapi wedhio awakmu iki marang Gusti Allah, lan lewat marang rile sing haq (Jangan kamu takut pada siapa pun, tetapi takutlah kepada Allah, dan berjalanlah pada rel-Nya yang benar).”

Kondisi Kiai Lim didiagnosa menderita sakit pada liver dan ginjal. Setiap kali ingin dirujuk ke rumah sakit, beliau selalu menolak dengan alasan masih kuat menahan rasa sakit. Pada puncaknya, beliau menghembuskan nafas terakhir pada Ahad, 28 Dzul Qadah 1426 H. Teruntuk beliau, Lahul-Fatihah.

Penulis: Imam Rohimi
Editor: A. Kholil

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *