KH. ABU DZARRIN SANTRI YANG MENJADI PENGASUH SIDOGIRI

share to

Putra Magelang, Senasab dengan Sayid Sulaiman

Dalam kitab al-Hikam, Ibnu Athaillah as-Sakandari berujar, “Idfin wujûdaka fî ardhil-khumûl.” Pendamlah dirimu dalam ranah ke-khumûl-an (merendahkan diri), atau lebih dikenal dengan low profile. Imam as-Sakandari menyarankan kepada siapa saja untuk sebisa mungkin bersikap tawaduk (merendahkan diri) dan menjauhi ketenaran.

Sifat inilah yang sering kita dapati dalam biografi-biografi ulama terdahulu (salaf). Sifat yang diaplikasikan oleh orang mulia agar tidak dimuliakan. Sifat yang melekat dalam diri ulama yang tidak ingin bergantung kepada kehidupan semu (ad-dunyâ) dan tidak menghendaki kemasyhuran.

Begitu pula dengan KH Abu Dzarrin, sosok kiai yang biografinya akan dikisahkan berikut ini. Beliau adalah santri Sidogiri yang kemudian menjadi ulama kharismatik Pasuruan penerus perjuangan Rasulullah SAW. dalam berdakwah di jalan Allah SWT. (fî sabîlillâh).

Biografi KH Abu Dzarrin tidak banyak diketahui oleh khalayak. Selain karena masanya yang teramat jauh, juga disebabkan sifat low profile yang selalu menghiasi diri beliau. Lumrah saja jika kepribadian beliau tidak dikenal orang banyak.

Meskipun tidak banyak yang mengetahui kiprah KH Abu Dzarrin, kearifan dan kealiman beliau terendus sampai ke seantero Nusantara. Tak ayal, banyak santri luar Jawa yang hendak menuntut ilmu kepadanya.

Selain alim, beliau juga dikenal sebagai sosok kiai yang penuh kehati-hatian dalam keduniawian. Kepribadian dan jejak langkahnya memang patut diketahui dan dijadikan suri teladan oleh santri-santri masa kini.

Beliau menjadi kiai yang ’allâmah tidaklah secara instan. Akan tetapi, dengan kerja keras dan penuh keseriusan. Belajar dengan tekun dan istikamah serta gigih dalam menangkal rasa malas adalah kuncinya. Dan tentunya, tanpa mengenyampingkan kepatuhan dan ketundukan kepada guru (kiai), sekalipun harus memilih jalan yang pahit.

Sekalipun menjadi sosok yang ‘âlim ‘allâmah, tidak ada ego ataupun kesombongan dalam diri Kiai Abu Dzarrin. Bahkan sebaliknya, beliau dikenal sebagai sosok kiai yang tawaduk, merendahkan diri dan tak merasa sebagai orang yang mempunyai wawasan luas (‘âlim). Beliau tetap menjaga prinsipnya ini hingga akhir hayat.

Asal Muasal Kiai Abu Dzarrin

Tak ada yang mengetahui dengan jelas kapan beliau dilahirkan. Akan tetapi masa hidup beliau diperkirakan terbentang antara akhir abad ke-18 sampai awal abad ke-19 Masehi. Perkiraan ini mengacu pada haul beliau yang ke-163 di penghujung tahun 2008 M atau 1429 H.

Membahas biografi seseorang yang telah lama wafat tidaklah mudah. Renggang waktu yang sangat lama sekali, serta tak adanya buku atau kitab yang membahas biografi beliau adalah salah satu penyebabnya

Sedangkan mengenai dari mana beliau berasal, terdapat tiga pendapat yang berbeda. Pertama, beliau dilahirkan di salah satu daerah di kota Magelang. Kota yang sekarang tumbuh menjadi salah satu ikon seni-kultur di Jawa Tengah. Di masa lalu, kota ini adalah salah satu daerah yang dikuasai oleh Kerajaan Mataram pada kurun abad 15 sampai 17 Masehi.

Mayoritas penduduk di sana mengandalkan persawahan, kebun, dan ladang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan bertani dan bercocok tanam, mereka membanting tulang agar kebutuhan sandang dan pangan keluarga terpenuhi. Rata-rata ladang dan sawah mereka ditanami dengan padi dan tembakau. Tetapi, ada juga yang memanfaatkan pasir dan bebatuan gunung sebagai mata pencaharian (ma‘îsyah).

Pendapat kedua mengatakan, bahwa Abu Dzarrin lahir di salah satu daerah yang masih masuk dalam lingkup keresidenan Cirebon, Jawa Barat, kabupaten yang terbilang kaya akan ras dan bahasa. Pada saat ini, warganya adalah paduan komplit antar etnis dengan aneka ragam keturunan dari berbagai suku di tanah air. Semuanya ikut andil mengisi kepadatan sensus penduduk yang digelar serempak dalam jangka sepuluh tahun. Ada yang berasal dari Sunda, Jawa, Bugis, Madura, dan lain sebagainya. Akan tetapi dua ras yang disebut pertama adalah yang paling mayoritas.

Daerah yang terletak di pesisir utara pulau Jawa ini, dikenal sebagai daerah yang religius nan agamis. Hal ini adalah salah satu jasa besar yang ditorehkan oleh Walisongo.

Pada zaman dulu, Cirebon adalah salah satu obyek sasaran dakwah Wali Songo, karena penduduk pribumi daerah ini mayoritas memeluk agama Hindu-Budha. Dan yang berani mengemban tugas mulia dengan berdakwah di sana adalah Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati.

Pendapat yang terakhir berkomentar, bahwa Abu Dzarrin berasal dari Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Kini, Tegal menjadi akses utama menuju ibukota negara dan Bandung. Kota ini banyak memiliki berbagai makanan khas yang sukar ditiru oleh kota lain.

Tegal adalah salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang terhitung sebagai kabupaten yang berdataran rendah, sehingga sering ‘disapa’ banjir ketika musim penghujan tiba. Meskipun didominasi dataran yang rentan banjir Tegal juga memiliki dataran tinggi, bahkan puncak ketinggiannya mencapai 3418 meter dari permukaan laut, yakni puncak Gunung Slamet.

Walaupun berada di pinggir laut, penduduk Tegal tidak banyak yang berprofesi sebagai nelayan. Bahkan, mereka rata-rata mengandalkan perdagangan untuk mencari rezeki guna menafkahi keluarganya.

Dari tiga pendapat di atas, pendapat pertama (asal Magelang) adalah pendapat yang paling masyhur dan yang lebih mendekati kebenaran. Perkiraan ini berlandaskan bahwa Abu Dzarrin dilahirkan tidak jauh dari kehidupan dan kebudayaan Mataram yang masih kental. Sedangkan lokasi kerajaan Mataram dulu mencakup wilayah Magelang dan Yogyakarta. Perkiraan ini, selain diperkuat oleh mayoritas keterangan narasumber, juga diperkuat oleh makam Sayid Abdul Wahab, kakek canggah Kiai Abu Dzarrin, yang terletak di Kabupaten Magelang.

Anak Tunggal

Abu Dzarrin dilahirkan dalam keluarga bersahaja yang taat beribadah. Ayah beliau, Sayid Hashinuddin, adalah tokoh masyarakat karismatik dan berpengaruh yang dikenal memiliki beraneka ragam ilmu kedigdayaan (sakti mandra guna). Beliau juga ikut mengomandani rakyat pribumi menggalang kekuatan untuk mengadakan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Anehnya, hal itu beliau lakukan hanya dengan mengandalkan senjata-senjata tradisional yang tak masuk akal untuk dapat memukul mundur Belanda: batu dan bambu.

Sebenarnya terdapat perselisihan pendapat tentang siapa nama ayah Kiai Abu Dzarrin. Ada yang berpendapat beliau bernama Husen, Hasan dan ada yang mengatakan Hashinuddin. Akan tetapi pendapat yang masyhur adalah Hasinuddin. Pasalnya, nama inilah yang banyak disematkan oleh para keturunan beliau terhadap putra mereka.

Abu Dzarrin adalah putra tunggal Sayid Hashinuddin bin Sayid Ya’kub. Ayah beliau masih terhitung sebagai piutnya Sayid Abu Bakar Ba-Syaiban, Tarim, Hadramaut. Persisnya, KH Abu Dzarrin bin Sayid Hashinuddin bin Sayid Ya’qub bin Sayid Abdul Qahhar bin Sayid Abdul Wahab bin Sayid Abu Bakar Basyaiban Hadramaut.

Dari nasab ini, Abu Dzarrin masih mempunyai hubungan darah dengan Sayid Sulaiman, pembabat Sidogiri, karena Sayid Sulaiman juga termasuk keturunan dari Ba-Syaiban, dengan perincian sebagai berikut: Sayid Sulaiman bin Sayid Abdurrahman bin Sayid Umar bin Sayid Muhammad bin Sayid Abdul Wahhab bin Sayid Abu Bakar Ba-Syaiban. Jadi, nasab Abu Dzarrin dan Sayid Sulaiman bertemu di Sayid Abdul Wahhab bin Sayid Abu Bakar Ba-Syaiban.

Ba-Syaiban adalah salah satu waliyullâh yang disegani di Tarim, Hadramaut. Daerah di selatan Arab ini, terkenal dengan kota segudang ulama dan wali.

Mayoritas ulama Hadramaut memiliki semangat juang dan dakwah yang tinggi. Banyak di antara mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk berdakwah fî sabîlillâh (di jalan Allah). Di antaranya adalah Sayid Abdurrahman, ayah Sayid Sulaiman Sidogiri, pendiri sekaligus pengasuh pertama Pondok Pesantren Sidogiri dan Sayid Mas’ud Al-Haddar, ayahanda KH Aminullah pengasuh kedua Sidogiri yang diambil menantu Sayid Sulaiman.

Selain kedua ayah pengasuh Sidogiri itu, banyak ulama dari Tarim lainnya yang menyebar ke seluruh penjuru tanah air dengan mengusung tujuan mulia yang berupa menyebarkan Syariat Islam. Mereka rela terpisah dari familinya masing-masing nan jauh di seberang samudra.

Berkelana Mencari Guru Sampai ke Gembong

Selama berada di Magelang, Abu Dzarrin kecil belajar ilmu agama kepada ayahnya sendiri. Dengan penuh perhatian, Sayid Hashinuddin begitu telaten dalam mendidik putra satu-satunya itu. Karena hanya dialah yang menjadi harapan beliau untuk meneruskan perjuangannya, perjuangan yang membutuhkan pengorbanan dan dedikasi tinggi dalam menerapkan satu-satunya ajaran yang diridai Allah.

Semangat Abu Dzarrin yang menggebu-gebu dalam menuntut ilmu, membangkitkan gairahnya untuk berkelana dalam mencari ilmu, sehingga beliau banyak mengetahui seluk-beluk daerah Magelang dan sekitarnya.

Banyak daerah di Magelang yang sudah disinggahi oleh Abu Dzarrin. Entah berapa kilometer dia berjalan setapak demi setapak hanya untuk mencari guru ilmu syariat (kiai) dan pondok pesantren.

Sudah banyak pesantren dan padepokan yang telah beliau singgahi hanya untuk menggapai maksud mulia ini. Tidak ada keterangan yang menjelaskan, bahwa beliau pernah menetap di satu tempat (pesantren) khusus selain di Pondok Pesantren Sidogiri.

Nyantri ke Sidogiri

Beliau baru kembali ke kediamannya setelah merasa cukup dalam perkelanaan itu. Dalam perjalanan pulang, beliau berencana untuk mencari guru dan pesantren lain yang bisa dijadikan sebagai pelabuhan thalabul-’ilmi. Sesampainya di rumah, Sayid Hashinuddin berkata padanya, “Kalau mau mondok (mencari ilmu), mondoklah di Gembong selatan pasar.”

Gembong adalah nama Sidogiri tempo doeloe. Kemungkinan, pasar yang dimaksudkan Sayid Hashinuddin adalah pasar Ngempit. Nama ini (Gembong) sudah tidak lagi digunakan pasca kedatangan Sayid Sulaiman Mojoagung. Karena, setelah Sayid Sulaiman menemukan daerah yang beliau cari, beliau menggantinya dengan nama baru, yakni Sidogiri.

Nama ini merupakan hasil penggabungan dari dua kata antara sido (jadi) dan giri (dari Penguasa Giri). Maka, jadilah nama Sidogiri. Syahdan, nama ini terus digunakan sampai sekarang untuk mengenang pemberian Penguasa Giri itu.

Awal mula pengembaraan Sayid Sulaiman ke Gembong adalah atas inisiatif Penguasa Giri—seorang ulama yang menjadi raja di Giri, Gresik—yang tak lain adalah keturunan Sunan Giri. Beliau (Raja Giri) memberikan segumpal tanah “Giri” kepada Sayid Sulaiman dan memerintahnya untuk mencari tanah yang sama dengan tanah itu. Jika tanah itu ditemukan, maka di sanalah Sayid Sulaiman harus menetap dan berdakwah.

Atas sejarah inilah, Gembong lambat laun berganti nama menjadi Sidogiri. Akan tetapi, tak ada yang mengetahui secara persis mulai kapan nama itu diresmikan dan mendapatkan legalisasi ganti nama secara sah.

Sebagaimana lumrah di kalangan umum, pada zaman dahulu tidak mengenal pengesahan maupun legalisasi, lebih-lebih tanda tangan bermaterai di atas kertas. Semua itu tidak ditemukan dalam peradaban lampau. Yang pasti, nama Gembong telah mempunyai nama baru yang berupa ’Sidogiri’.

Meskipun sudah berubah nama menjadi Sidogiri, ternyata nama lama (Gembong) masih melekat di telinga khalayak ramai, terutama bagi mereka yang berada di luar Sidogiri. Jadi, maklum saja kalau Sayid Hashinuddin, ayah Abu Dzarrin, menyebutkan Gembong ketika memerintah putra semata wayangnya untuk berpetualang mencari ilmu ke Sidogiri.

Abu Dzarrin muda menekatkan dirinya untuk mengais ilmu di tanah rantau. Sesuai dengan titah ayahnya, Abu Dzarrin berjalan ke timur menuju salah satu daerah di Pasuruan. Dengan membawa bekal seadanya, ia berjalan setapak demi setapak mencari desa yang bernama Gembong itu.

Beliau berangkat dari rumahnya dengan berbekal satu keranjang kitab untuk mengaji, dan satu keranjang lainnya yang hanya berisikan intip sebagai penawar rasa lapar. Beliau tidak memakan intip itu kecuali ketika beliau merasa sangat lapar. Tak jarang beliau mengganjal perutnya dengan batu hanya untuk mengurangi rasa lapar yang melilit perutnya. Selain bekal yang dibawa pas-pasan, jarak yang begitu jauh juga menjadi pertimbangan utama.

Setelah bertanya ke sana-ke mari, akhirnya desa yang ditunjukkan oleh ayahnya ditemukan juga. Desa rindang nan sunyi yang terletak di “selatan pasar” itulah yang sekarang dikenal dengan sebutan “Sidogiri”.

Dijauhi Teman-Teman Santri

Abu Dzarrin mondok ke Sidogiri ketika salah satu pesantren tertua di Jawa Timur itu berada di bawah kepengasuhan KH Mahalli. Pesantren Sidogiri waktu itu masih berupa bangunan cangkruk yang dikelilingi rerimbunan pepohonan lebat nan rindang.

Kiai Mahalli berasal dari Bawean yang terkenal alim ’allâmah dan warak. Beliau adalah menantu KH Aminullah yang juga dari Pulau Putri (Bawean).

Dalam statistik kepengasuhan, KH Mahalli adalah pengasuh ketiga di Sidogiri. Beliau menggantikan dua pendahulunya yang lebih dulu berpulang ke rahmatullâh, Sayid Sulaiman (pengasuh pertama sekaligus pendiri Pondok Pesantren Sidogiri) dan KH Aminullah (pengasuh ke-2 serta menantu Sayid Sulaiman).

Di Sidogiri, Abu Dzarrin dikenal sebagai santri yang rajin dan mempunyai kegemaran yang tak banyak disukai oleh santri lain, yaitu musyawarah. Beliau senang sekali berdiskusi dan bermusyawarah dengan teman-temannya. Beliau tidak membeda-bedakan status dan kasta santri. Bila ada mata pelajaran atau ‘ibârat (redaksi) yang tidak dipahami, beliau mencari santri yang dianggapnya mampu untuk dijadikan tempat bertanya dan berdiskusi. Tak peduli apakah itu santri senior, santri junior ataupun santri yang baru masuk sekalipun. Atas kegemaran inilah beliau cepat kenal akrab dengan santri-santri lain.

Abu Dzarrin dengan rutin melaksanakan aktivitas belajar mengajar dengan penuh semangat. Tak pernah ada kata terlambat dalam kamus Abu Dzarrin muda. Beliau belajar dengan porsi yang berbeda dengan porsi belajar santri pada umumnya. Waktu beliau banyak dihabiskan untuk belajar, murâja‘ah dan musyawarah. Dari sangat inginnya untuk selalu belajar, beliau membuat tempat khusus yang sederhana dan beliau letakkan di atas pohon di pinggir sungai. Tujuannya tak lain adalah biar memudahkan beliau untuk mengambil wudu atau bahkan melompat ke dalam sungai jika rasa kantuk datang menghampiri.

Akan tetapi, kegemarannya untuk terus berdiskusi (musyawarah) pupus di tengah jalan. Hal ini disebabkan oleh penyakit yang beliau derita. Beliau menderita penyakit gatal-gatal yang cukup parah. Sehingga beliau dijauhi teman-temannya dari pergaulan mereka.

Dengan alasan takut menular, jorok, dan jijik teman-temannya banyak yang menghindari Abu Dzarrin muda. Apabila Abu Dzarrin mempunyai kejanggalan dalam salah satu pelajarannya, biasanya beliau langsung menanyakannya kepada santri lain. Akan tetapi, semenjak terkena penyakit ini, beliau kesulitan mencari teman yang bisa diajak bercengkerama dan diskusi.

Lanjut Bagian Kedua: KH. ABU DZARRIN SANTRI YANG MENJADI PENGASUH SIDOGIRI (Bagian II)

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *