ArtikelHikayat

Kiai Noerhasan bin Nawawie: Sang Bulan di Siang Hari

Di antara deretan tokoh besar keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, nama Kiai Noerhasan bin Nawawie muncul sebagai sosok yang istimewa—bukan karena ketenarannya, melainkan karena kesederhanaan dan ketidaksukaan beliau terhadap ketenaran.

Kiai Noerhasan merupakan salah satu dari lima tokoh laki-laki keturunan Kiai Nawawie bin Noerhasan, yang dikenal dengan sebutan “pancawarga”. Kelima anggota pancawarga tersebut adalah:

  1. Kiai Noerhasan bin Nawawie
  2. Kiai Cholil bin Nawawie
  3. Kiai Sa’dullah bin Nawawie
  4. Kiai Sirajul Millah Waddin bin Nawawie
  5. Kiai Hasani bin Nawawie

Dalam kesehariannya, Kiai Noerhasan dikenal sebagai pribadi yang pendiam, sangat menjaga diri, dan tidak menonjolkan identitas sebagai seorang kiai. Beliau lebih suka menundukkan kepala, menceritakan kisah abah beliau, atau menuturkan kisah para ulama terdahulu. Ketika diminta untuk menyampaikan pidato, beliau menolak. Bagi beliau, berpidato berpotensi menimbulkan kemasyhuran—hal yang bertentangan dengan prinsip hidup beliau.

Sebuah kisah menarik terjadi ketika Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih, seorang ulama besar asal Malang, berkunjung ke Masjid Jami’ Sidogiri untuk mengisi tausiah. Seusai acara, beliau bertemu Kiai Noerhasan dan menyapanya, “Dari mana, Pak Haji?” tanpa mengetahui siapa sebenarnya beliau. Kiai Cholil yang mendampingi saat itu segera menyela, “Ini kakak saya, Bib.”

Mendengar hal tersebut, Habib Abdullah dengan spontan menyampaikan sebuah hadis:

الأَخُ الْكَبِيْرُ فِي مَنْزِلَةِ الْوَالِدِ، لَهُ الْحُقُوْقُ وَعَلَيْهِ الْحُقُوْقُ

“Saudara tertua kedudukannya seperti orang tua. Ia memiliki hak dan kewajiban yang sama seperti orang tua.”

Habib Abdullah pun menambahkan, “Kalau sampean punya keperluan mengenai pondok, sampaikan dulu kepada Kiai Noerhasan. Jika beliau setuju, laksanakan. Jika tidak, maka jangan.”

Pada kesempatan lain, seorang wali santri yang tidak mengetahui identitas beliau, bertanya saat sowan: “Pak Haji saking pundi?” (Pak Haji dari mana?). Sekali lagi, Kiai Cholil menegaskan dengan penuh takzim, “Niku kakang kulo”. (Itu kakak saya).

Begitulah sekelumit kehidupan Kiai Noerhasan bin Nawawie. Sosok khumul, mastur (tersembunyi), dan tidak suka masyhur. Beliau pandai menyembunyikan status beliau sebagai kiai dari keluarga besar ulama, meski kedudukan beliau sangat tinggi dalam silsilah Sidogiri.

Kiai Noerhasan ibarat bulan di siang hari. Terlihat, namun tidak mencolok. Hadir, namun tanpa gemerlap. Sejuk, tenang, dan menyinari dalam diam.

Penulis: Imam Rohimi
Editor: A. Kholil

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *