BeritaUnggulan

Konsistensi Beradab! Pesan Habib Abu Bakar di Haul ke-9 K.H. Muhammad Kholilurrohman & Haul ke-17 Mas Daqiqi

Peringatan haul ke-9 Almaghfurlah K.H. Muhammad Kholilurrohman bin K.H. Abd. Alim dan haul ke-17 Almaghfurlah Mas Muhammad Daqiqiyah bin K.H. Abd. Alim berlangsung khidmat di Pondok Pesantren Sidogiri, Kamis malam Jumat (25/04).

Acara yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube SidogiriTV ini diikuti para santri, alumni, simpatisan, dan wali santri yang turut menyemarakkan pembacaan Maulid Simthud Durar, Yasin, dan Tahlil.

Dalam mauidzah hasanah-nya, Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf menyampaikan keyakinan bahwa kedua Almaghfurlah kini berbahagia di sisi Allah, berkumpul bersama orang tuanya, K.H. Abd. Alim, dan para Masyayikh Sidogiri.

“Karena Allah berfirman dalam surah ath-Thur ayat 21, bahwa orang-orang beriman akan dipertemukan kembali dengan anak cucunya dalam keimanan,” ujar beliau.

Penyampaian tausiah haul oleh Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf

Putra sulung Habib Hasan Assegaf Pasuruan tersebut juga mengingatkan bahwa umat Islam kini hidup di tengah berbagai fitnah. “Kita sedang dihadapkan dengan beragam fitnah, mulai dari fitnah nasab, ulama, hingga dunia pesantren,” tegasnya.

Menurut beliau, tuduhan bahwa pesantren mengajarkan perbudakan kepada guru sangat keliru. “Kami justru bangga menjadi budak para ulama dan masyayikh,” sambil mengutip dawuh Sayyidina Ali:

“Aku budak orang yang mengajarkanku meski satu huruf. Jika ia berkehendak, boleh menjualku, memerdekakanku, atau menjadikanku budak.”

Habib Abu Bakar menegaskan, dawuh tersebut mengandung makna pentingnya adab dan penghormatan santri kepada guru, sebagaimana diajarkan dalam kitab Ta’limul Muta’allim.

Pembacaan tahlil di salah satu asrama santri

Beliau mengibaratkan, “Fitnah terhadap ulama ibarat kambing yang mencoba menanduk gunung; jangankan roboh, bergerak saja tidak, justru kambingnya yang cedera.”

Beliau kemudian mengutip hadis Rasulullah ﷺ: “Daging ulama itu beracun. Siapa yang memakannya (menggunjing ulama), akan celaka sebagaimana orang yang keracunan.”

Selain itu, Habib Abu Bakar mengingatkan pentingnya adab dalam sejarah Islam.

“Tidak ada orang yang sukses kecuali dengan menghormati, dan tidak ada orang yang gagal kecuali karena meninggalkan penghormatan,” tuturnya.

Beliau mencontohkan adab Sayyidina Ibnu Abbas kepada Shahabat Zaid bin Tsabit serta penghormatan Imam Tajuddin As-Subki kepada Imam an-Nawawi.

Para simpatisan dan alumni memadati area pesantren ketika haul berlangsung

Pada akhir mauidzah-nya, beliau berpesan agar santri tetap konsisten dalam menjaga adab.

“Yakinlah, di balik setiap fitnah pasti ada hikmah. Maka tetaplah istikamah menjadi pribadi yang beradab, sopan, dan menghormati para guru serta masyayikh. Ilmu dan kepintaran tidak akan berguna tanpa rida guru dan adab,” pesan beliau.

Acara haul kemudian ditutup dengan doa oleh Pengasuh Pesantren Sidogiri, Hadratus-Syaikh K.H. A. Fuad Noerhasan.

Penulis: Shohibul Widad Al-Faqih, Redaksi Kabar Ikhtibar
Editor: A. Kholil

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *