Pimpinan MMU Ibtidaiyah dan Tsanawiyah Pondok Pesantren Sidogiri sukses menggelar kegiatan halalbihalal dan koordinasi guru ranting pada Jumat malam (24/04). Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Selatan PPS tersebut menghadirkan KH. Muhibbul Aman Aly sebagai muhadir.
Baca juga: Halalbihalal Madrasah Ranting: Perkuat Ikatan dengan Madrasah Induk
Dalam momentum halal bihalal itu, KH. Muhibbul Aman Aly atau yang akrab disapa Gus Muhib mengajak para guru untuk terus menekuni berbagai amal kebaikan yang telah dilakukan selama bulan Ramadan. Menurutnya, amal baik tidak seharusnya berhenti setelah Ramadan berakhir.
“Amal baik yang telah dikerjakan pada bulan Ramadhan harus terus dilanjutkan pada bulan-bulan berikutnya, jangan berhenti hanya di bulan Ramadhan,” ujarnya.

Selain itu, Gus Muhib juga menekankan pentingnya memperkuat hubungan antara madrasah ranting dan madrasah induk di lingkungan Pondok Pesantren Sidogiri. Ia menyampaikan bahwa ikatan yang kuat akan menjaga keselarasan langkah dengan para Masyayikh Sidogiri.
“Dengan kuatnya ikatan tersebut serta komitmen dalam mengikuti aturan di Sidogiri, maka kita akan berada dalam satu barisan bersama para Masyayikh,” tegasnya.
Lebih lanjut, Gus Muhib menjelaskan tiga metode pembelajaran yang lazim digunakan di pesantren, yaitu ta’lim, tadris, dan tarbiyah. Namun, ia menegaskan bahwa tarbiyah merupakan metode yang paling utama.
“Ada tiga metode pendidikan yang biasa digunakan di pesantren, yakni ta’lim, tadris, dan tarbiyah. Namun, yang terpenting dari ketiganya adalah tarbiyah,” jelasnya.
Anggota Dewan Syariah Baznas tersebut menerangkan bahwa tarbiyah merupakan sistem pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek pengajaran (ta’lim) dan pembelajaran (tadris), tetapi juga pembinaan akhlak serta penyucian jiwa (tazkiatun nafs). Menurutnya, ilmu yang bermanfaat hanya dapat diperoleh apabila disertai dengan tazkiatun nafs.
Ia juga mengibaratkan ilmu sebagai air jernih, sementara hati sebagai wadahnya. Jika ilmu masuk ke dalam hati yang kotor, maka ilmu tersebut tidak akan memberikan manfaat.
“Jika ilmu masuk ke dalam hati yang kotor, seperti air yang dituangkan ke dalam wadah yang kotor, maka tidak akan memberikan manfaat,” ungkapnya.
Selain itu, Gus Muhib turut menyinggung pentingnya mata rantai sanad keilmuan yang tersambung hingga kepada Nabi Muhammad ﷺ. Ia menegaskan bahwa sanad yang jelas akan memudahkan ilmu terserap dengan baik oleh para murid.
“Jika sanad keilmuan tersambung dengan baik, maka ilmu tersebut akan masuk secara jernih ke dalam hati para murid,” pungkasnya.
Penulis: Muhammad Rofiul Qodri
Editor: Elmaghroby












