Kunci melakukan segala hal adalah kesemangatan yang diiringi dengan rasa senang. Rasa senang tidak selalu diukur dengan memenuhi ambisi pribadi. Justru, rasa senang adakalanya timbul hanya dengan melihat orang lain senang, mungkin karena kebutuhannya terpenuhi atau sebab lainnya. Kurang lebih inilah perasaan yang diungkapkan oleh Fadlli Robby selaku Humas VII Ketertiban dan Keamanan (Tibkam) PPS yang bertugas menjaga liburan maulid.
“Ya, meski kita merasa ngantuk, capek, dan payah, tetap bahagia melihat anak-anak dikirim, meski saya sendiri tidak dikirim,” ujarnya.
Saat bertugas melakukan penjagaan selama libur santri di bulan Maulid (25-28/08), santri asal Maluku itu mengutarakan temuan-temuan yang ia hadapi, terutama soal ketertiban pesantren.
Baca juga: Habib Quraisy Tekankan Urgensi Mencintai Nabi dalam Peringatan Maulid
Selain stigma negatif yang sudah menjamur di kalangan santri, kendala lain yang kerap kali membuat dia lesu adalah ketika berkaitan dengan wali santri.
“Kalau sudah berhadapan dengan wali santri, kita usahakan menegur dengan ramah tetapi tegas,” tambahnya.
Meski demikian, dia juga mengungkapkan bahwa masih banyak wali santri yang tidak mengindahkan peraturan pesantren setelah sebelumnya ditegur olehnya. Bahkan, ironisnya mereka malah membela anaknya yang indisipliner.

Akan tetapi, menurut santri yang duduk di bangku Aliyah ini, bagaimanapun respons wali santri tidak akan memengaruhi semangat khidmahnya bila disikapi dengan bijak.
“Apapun jenis khidmahnya, kalau kita laksanakan dengan senang, tidak akan terasa berat,” pungkasnya.
Perasaan yang sama juga dialami oleh Muzaiyyinul A’mal, Anggota Cegah Berantas Barang Berbahaya (CB3) Daerah S Bagian Pemeriksaan Paket, saat memantau barang bawaan santri dan wali santri yang meliputi makanan dan minuman.
“Patroli ke tengah-tengah wali santri cukup menantang karena ada kontak langsung dengan wali santri,” terangnya.
Selama melakukan patroli, santri asal Pamekasan itu juga mengutarakan bahwa kewajiban menegur orang lain untuk menaati peraturan pesantren bukanlah tugas pengurus tertentu. Semua santri, meski bukan pengurus, juga terkena tuntutan untuk menegakkan ketertiban pesantren tersebut.
“Harusnya, anggota CB3 juga berhak menegur santri atau wali santri yang indisipliner karena menertibkan peraturan pesantren bukan cuma kewajiban pengurus,” tegasnya saat tengah menjaga pada sif siang.
Santri Aliyah yang juga mendapat amanah sebagai Pemred Majalah Ijtihad itu juga menekankan bahwa tugas khidmah seperti menertibkan makanan dan minuman oleh CB3 itu tidak hanya saat event tertentu saja.
“Harusnya setiap saat mereka menegakkan peraturan pesantren,” imbuhnya.
Apabila barang bawaan santri kebetulan tidak sesuai tata tertib pesantren, dia tidak segan-segan untuk menindaknya sesuai dengan peraturan yang berlaku. Apabila berupa barang mentah, maka dia akan menelepon wali dari santri yang bersangkutan untuk dimintai tindak lanjut. Sedangkan, apabila berupa barang siap santap atau sudah diolah, santri bisa memilih antara memakannya di tempat atau mengalokasikannya ke petugas luar PPS.
“Meski diberikan ke petugas luar PPS, prosedur mengharuskan anaknya sendiri yang memberikan agar sejalan dengan nilai fikihnya,” tambahnya.
Lain hati, lain perasaan. Di lokasi yang berbeda, tepatnya di stan Maulid Fest, santri yang bernama Ahmad selaku anggota event menyayangkan kebijakan baru. Kebijakan tersebut berupa larangan menawarkan produk stan dengan mendatangi tempat kunjungan.
Meski demikian, dia tetap merespons dengan positif kebijakan tersebut karena efisiensi tenaganya lebih terjaga.
Baca juga: Launching Logo Milad 290, “Satu Arah dalam Bermanhaj dan Bermazhab”
Santri asal Pasuruan yang bertugas menjaga stan Sidogiri Media merasakan tantangan tersendiri karena baru mengemban amanah tersebut.
“Pertama kali jadi penjaga stan memang menjadi kendala tersendiri bagi saya, tetapi sambil dijalani akhirnya saya bisa beradaptasi,” paparnya.
Ahmad juga menjelaskan motivasinya di balik kesemangatannya dalam berkhidmah, meski hanya dengan menjaga stan event Maulid Fest.
“Menjaga stan menurut saya lebih bermanfaat untuk mengisi liburan maulid dibanding aktivitas kurang bermanfaat lainnya,” pungkasnya.
Itulah secuplik kisah beberapa santri Sidogiri yang merelakan liburannya demi berbakti kepada Masyayikh. Apabila memang tidak bisa memberi sumbangsih akademik, secercah harapan mereka adalah semoga tetesan keringat khidmah mereka diterima dan dibalas oleh Masyayikh Sidogiri.
Penulis: Muhammad Fajar
Editor: Elmaghroby












