BeritaUnggulan

Kupas Sirah Nabawiyah, LPSI Tekankan Urgensi Seleksi Riwayat Sesuai Akidah Aswaja

Melalui Lembaga Penelitian Studi Islam (LPSI), Kuliah Syariah menggelar diskusi panel yang bertempat di lantai dasar Perpustakaan Sidogiri pada Selasa malam (16/09). Diskusi yang digelar untuk Forum Kajian (FK) Sejarah ini menghadirkan dua alumni Pondok Pesantren Sidogiri yang juga pakar Aswaja, KH. Muhammad Idrus Romli dan Ustadz Ahmad Dairobi Naji sebagai panelis.

Naib I Kuliah Syariah, Ustadz Solehuddin menyampaikan keinginan Pengurus Harian supaya Forum Kajian mampu mendidik kader untuk kemaslahatan generasi selanjutnya. Menurutnya, keberlangsungan organisasi dan kegiatan akademik perlu ditopang oleh kaderisasi yang baik agar semangat kajian studi Islam dapat terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

KH. Idrus Romli dalam pengantar diskusinya menjelaskan kedudukan Sirah Nabawiyah sebagai sumber ilmu yang kedudukannya yang hampir mirip dengan hadis.

KH. Idrus Romli atau yang dikenal sebagai Singa Aswaja ketika menyampaikan materi pada Diskusi Panel LPSI FK Sejarah

Menurutnya, metode untuk menganalisis riwayat dalam Sirah Nabawiyah pada dasarnya dapat dilakukan sebagaimana menganalisis riwayat hadis. Namun, kata beliau, penerimaan riwayat dalam kajian Sirah Nabawiyah memiliki standar yang lebih longgar.

Alumni Pondok Pesantren Sidogiri ini juga menyoroti banyaknya perbedaan riwayat dalam Sirah Nabawiyah, termasuk mengenai tanggal kelahiran Nabi Muhammad. Menurutnya, perbedaan tersebut merupakan bagian dari khazanah riwayat yang ada dan tidak selalu mudah untuk diseragamkan.

Kiai Idrus juga menyinggung bahwa belakangan ini sebagian pakar telah menulis riwayat Sirah Nabawiyah untuk menolak pemikiran Wahabi. Selain dalam kitab hadis, sumber Sirah Nabawiyah juga banyak tertulis di kitab-kitab khusus yang menjelaskan Sirah Nabawiyah secara mendalam.

Ke depan, beliau menekankan urgensi dakwah untuk mendekatkan masyarakat kepada Sirah Nabawiyah. Hal ini dilakukan karena dipandang akan semakin menguatkan iman kita.

“Yang perlu disampaikan ke masyarakat adalah riwayat-riwayat yang dapat menguatkan iman,” ungkapnya.

Sementara itu, Ustadz Ahmad Dairobi Naji menyampaikan bahwa dhawabit Sirah Nabawiyah berbeda dengan sunah. Kemudian beliau mengutip perkataan al-Bushiri sebagai puncak kelonggaran dalam Sirah Nabawiyah: “Kalian boleh memuji Rasulullah dengan cara apa pun asalkan jangan sampai menuhankan beliau.”

Meski longgar, penulis buku Sufi Berduit tersebut mengingatkan bahwa standar minimal tetap harus dijaga, yaitu memeriksa sumber riwayat terlebih dahulu.

“Saya sudah berkali-kali menemukan penceramah yang memakai riwayat palsu,” ujarnya.

Potret penyerahan cinderamata kepada panelis kedua, Ustadz Ahmad Dairobi Naji

Oleh sebab itu, beliau menegaskan bahwa riwayat sejarah harus dipilih yang kuat secara sanad dan tidak bertentangan dengan akidah Ahlusunah wal Jamaah.

“Kalau riwayatnya lemah dan tidak sesuai dengan akidah kita, ya dibuang saja,” tegasnya.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan dapat menjadi pemantik semangat para anggota FK Sejarah dalam mengkaji dan menyebarkan Sirah Nabawiyah kepada masyarakat luas.

Penulis: Muhammad Rofiul Qodri
Editor: Elmaghroby

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *