Taujihat Sekretaris Jenderal Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri; Mas Dwy Sadoellah untuk Para Guru

share to

Assalamualaikum Wr. Wb.

Bismillah Alhamdulillah wash-Shaalatu was-Salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala Alihi wa Shahbihî wa Mawwalah. Amma Ba’du. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah atas segala rahmat, nikmat, dan ma’unah-Nya, sehingga kita bisa bertemu dalam kesempatan yang penuh barakah ini. Shalawat dan salam untuk Nabi kita Rasulullah Muhammad SAW yang telah memberikan contoh dan teladan yang sangat sempurna mengenai perjuangan yang tiada henti, mengenai pengabdian tiada pamrih dan keistikamahan tiada jeda. Bapak-bapak dan saudara-saudara para guru sekalian, berkiprah di lapangan pendidikan semacam Sidogiri ini membutuhkan banyak modal dalam diri kita masing-masing. Salah satu modal terpentingnya adalah kesabaran dalam segala bentuk dan macamnya. Sabar dalam mematuhi aturan, sabar dalam menjahui larangan, sabar dalam menahan kejenuhan dan sabar-sabar yang lain.

Sebab, pendidikan bukan sesuatu yang terjadi secara sporadis dan instan. Pendidikan adalah proses yang berkesinambungan dari waktu ke waktu, nyaris tanpa jeda, tanpa ampun. Tidak seperti membangun gedung yang membutuhkan tenaga ekstra, tapi bisa selesai dalam beberapa waktu. Sedangkan pendidikan tidak akan pernah selesai dan tidak akan pernah sampai pada puncaknya. Setiap kali sebuah target tercapai maka akan ada ribuan target lain yang masih harus kita naiki dan telusuri.

Mengajar merupakan suatu kegiatan yang amat membingungkan, karena bukanlah kegiatan sehari dua hari, tapi sepanjang waktu. Sangat membutuhkan ketahanan dan kemauan untuk menyemangati diri sendiri. Dari sisi bentuk kegiatan mengajar barangkali bukanlah pekerjaan berat, masih kalah berat dengan pekerjaan-pekerjaan lain yang lebih membutuhkan tenaga dan pikiran. Akan tetapi, jika dilihat dari sudut tanggung jawab, maka mengajar merupakan amanah yang sangat-sangat berat. Tanggung jawab keteladanan, tanggung jawab kebenaran, tanggung jawab kedisiplinan dan tanggung jawab-tanggung jawab yang lain. Kedisiplinan adalah kunci bagi eksisnya pendidikan ini. Kita membutuhkan kekuatan hati untuk bisa disipin dari awal sampai akhir.

Disiplin saat awal tahun adalah hal yang amat mudah, tetapi bisa bertahan disiplin dari awal sampai akhir dan tetap semangat saat memasuki masa jenuh membutuhkan kematangan hati dan kemantapan visi. Jika ada orang semangat di awal boleh jadi karena selera, tapi jika orang tersebut terus semangat tanpa henti maka hal itu karena sikap, pola pikir dan pandangan hidup yang matang. Sangat banyak nasehat  dari leluhur yang kita dengar, bahwa menjalani hal-hal biasa tetapi kontinyu setiap waktu jauh lebih hebat dari mengerjakan hal luar biasa, tetapi hanya satu kali. Yang membuat kita disiplin itu adalah semangat yang ada dalam diri kita sendiri. jika seseorang sudah cukup termotivasi, maka kedisiplinan akan terbentuk sendiri. Jika kita tidak termotivasi dan tidak biasa mengatur waktu, maka kedisiplinan adalah mekanisme yang amat menyeramkan. Motivasi dalam diri kita menyebabkan kedisiplinan menjadi sesuatu yang indah.

Hilangnya motivasi setidaknya disebabkan dua hal; pertama, karena kita belum meresapi pentingnya apa yang kita lakukan; kedua, karena ada hal lain yang membuat kita jadi lalai. Saya yakin, kematangan yang dimiliki oleh bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian dapat melenyapkan dua faktor ini.

Bapak-bapak dan saudara-saudara staf guru sekalian. Seperti yang telah sering kali saya sampaikan, posisi bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian di sini adalah sebagai pembantu dari pengasuh. Para santri dan murid-murid itu intinya hendak menimba ilmu kepada kiai, lalu kiai menunjuk dan menugaskan para staf guru sekalian untuk membantu beliau dalam mendidik mereka. Oleh karena itu, ada beberapa hal pokok yang harus kita pegang agar tidak melampaui posisi kita sebagai penerima amanat dari pengasuh. Pertama, dalam menyampaikan ilmu, para staf guru sekalian supaya berhati-hati, jangan sampai ada guru yang lepas dari prinsip-prinsip pokok yang menjadi landasan Pondok Pesantren Sidogiri, terutama dalam hal kesesuaian dengan ajaran Islam, Ahlusunnah Wal Jamaah, hingga kesesuaian dengan tradisi keagamaan yang telah diteladankan oleh para Masyayikh Sidogiri.

Dalam menyampaikan ilmu, informasi, atau pun peraturan-peraturan apapun, tolong dipertimbangkan dengan matang. Siapa yang mendengarkan dan apa pula akibatnya bagi diri ini. Soalnya, pendidikan kita bukanlah pendidikan yang mendewa-dewakan informasi, ilmu pengetahuan, dan wawasan saja. Yang menjadi tujuan inti dari pendidikan ini adalah mengantarkan santri menjadi hamba Allah yang saleh. Apa gunanya ilmu selangit, jika ilmu itu justru mengantarkan mereka menjadi orang-orang yang celaka.  Apa gunanya ilmu yang tinggi, jika tidak disertai dengan akhlak yang mulia dan budi pekerti yang terpuji. Tujuan orang belajar agama itu adalah agar dengan ilmu tersebut anak-anak kita semakin mantap dalam berakidah, semakin patuh terhadap syariat, dan semakin teguh memegang akhlaqul karimah.

Jika ada yang salah dalam landasan, proses, sumber, atau tujuan seseorang dalam menggali ilmu agama maka boleh jadi ilmu agama tersebut bukannya semakin memantapkan akidah, melainkan justru mendangkalkan akidah, dan merasukkan perasaan-perasaan skeptis (sikap mempertanyakan atau mencurigai sesuatu) terhadap ajaran agama. Bukannya membuat dia menjadi orang yang saleh dan wara, justru membuat dia seringkali memperalat ilmu sebagai dalih dari memenuhi nafsu.

Maka berhati-hatilah, agar kegiatan belajar-mengajar di Pondok Pesantren Sidogiri ini sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh Masyayikh. Upayakanlah, agar semangat pendidikan di madrasah ini tidak hanya bercorak wawasan dan pengetahuan, tapi juga bercorak ibadah dan akhlaqul karimah. Sangat baik kalau misalnya murid-murid itu diajak untuk gerak batin di masjid atau di pesarean. Hal itu akan menumbuhkan jiwa spiritual di tubuh pendidikan yang tidak bermoral ini. Tanpa jiwa spiritual, pendidikan hanya akan membentuk sekelompok manusia yang memiliki otak, tapi tidak memiliki hati. Kita semua tentu tidak mengharapkan hal ini.

Bapak-bapak dan saudara-saudara guru sekalian, hal kedua yang mesti dipegang terkait posisi bapak-bapak sebagai pembantu pengasuh adalah anggapan bahwa murid-murid yang diserahkan kepada bapak-bapak dan saudara-saudara adalah santrinya kiai, bukan santri kita sekalian. Maka tolong jangan mudah memanfaatkan mereka untuk kepentingan pribadi bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Tanamkan niat bahwa kita ini ditugaskan untuk melayani kebutuhan mereka, tentu bukan untuk dilayani oleh mereka. Tanamkan perasaan di dalam hati bahwa mereka ini adalah anak yang dititipkan oleh kiai untuk dirumat dan dirawat dengan baik. Dan upayakanlah untuk mendidik mereka dengan cara-cara yang elegan dan sebisa mungkin hindarilah kekerasan. Kekerasan seringkali menimbulkan akibat-akibat buruk, terutama jika kekerasan itu menjadi sarana pelaku yang sedang emosi. Namun demikian, bukan berarti tidak tegas. Tegas tidak identik dengan keras, keras juga belum tentu tegas. Tegas harus senantiasa dipegang dalam melakukan apapun. Meskipun suatu ketika, ketegasan itu juga harus dibarengi dengan prinsip-prinsip kearifan dan kebijakan.

Baiklah, sekian dari saya, semoga bermanfaat, selamat menjalankan amanah yang mulia ini dengan niat dan tujuan yang juga mulia. Semoga sesuai dengan tuntunan dan harapan para Masyayikh. Amin ya Rabbal alamin.

Sidogiri, 27 syawal 1443

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

d. Nawawy Sadoellah

Sekretaris Jendral Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri.

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

1 Comment

  1. Alhamdulillah dengan tausiah beliau hati menjadi tergugah, terharu dan merinding dingin, seraya hati berharap semoga diri ini bisa meneladani apa yang sudah dipaparkan panjang lebar dan dalam se-dalamnya

    Post a Reply

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *