Masyayikh Sidogiri

Kiai Sa’doellah bin Nawawie; “Potret Uwais Al-Qarni” dalam Berbakti

Uwais al-Qarni, sosok non fiktif yang mastur di bumi, tetapi masyhur di langit. Hidup di era Rasulullah, tapi tidak terbilang shahabat, karena tidak berjumpa langsung dengan beliau. Meski demikian, Rasulullah mengenalnya sebagai pria yang berbakti kepada sang ibu. Rela menggendong kambing setiap pagi meski para tetangga mengecapnya sebagai orang gila. Hal itu dilakukan, hanya untuk latihan menguatkan fisik supaya kelak ia bisa menggendong ibunya yang sudah lanjut usia, berangkat haji dari Yaman ke Makkah. Uwais hidup di Qarn, sebuah daerah di wilayah Asir, dekat perbatasan Yaman–Arab Saudi saat ini.

Puluhan abad kemudian, tepat pada tahun 1922 M. lahir sosok negarawan, politikus dan diplomatik ulung yang berbakti pada ibunya di Sidogiri, dari pasangan Kiai Nawawie bin Noerhasan dan Nyai Asyfi’ah alias Nyai Gondang. Sosok ini bernama Sa’doellah, yang kemudian dikenal K.A. Sa’doellah.

Kiai Sa’doellah tidak hanya mengetahui bahwa ‘surga berada di telapak kaki ibu’, melainkan juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pernah beliau menggendong ibunya ke jeding atau ke tempat yang lain, padahal umur beliau saat itu sudah 50-an.

Di kisah lain, Kiai Mudatsir asal Pamekasan yang pernah menjabat Ketua II di Pondok Pesantren Sidogiri. Ia izin pulang dan mengajak Kiai Bahrullah Aziz dari Jember yang menjabat sebagai Bendahara Umum pondok. Keduanya diizinkan untuk pulang dengan syarat tidak boleh telat. Namun, mereka telat kembali.

Kembali ke pondok, Kiai Sa’doellah memanggil mereka berdua dan marah. Saking marahnya, muka beliau memerah dan menggebrak meja sambil dawuh, “Kenapa kamu terlambat?! Kamu kan punya tanggung jawab?!”

Kiai Mudatsir memberanikan diri dan mengutarakan alasan bahwa ibunya tidak mengizinkan dirinya balik sebelum menyelesaikan tugas di rumah. Sebelum selesai memberi alasan, Kiai Sa’doellah menangis tersedu-sedu sambil dawuh, “Saya maafkan jika kamu terlambat karena ibumu. Saya maafkan. Tidak ada bandingannya orang berbakti pada ibu.”

Di sisi lain, Kiai Sa’doellah pernah berpesan di hadapan pengurus dan guru saat rapat di gedung madrasah tempo dulu, “Kamu jangan berani-berani pada ibumu. Surga itu ada di telapak kaki ibu.”

Menjelang pulangan, Kiai Sa’doellah menyampaikan taujihat kepada seluruh santri untuk berbakti kepada orang tua, terutama ibu, “Santri-santri ketika mau kembali ke pesantren, diharapkan mencuci kaki ibunya kemudian diminum.”

Begitulah potret Kiai Sa’doellah dalam berbakti kepada orang tua terutama ibunda beliau. Bukan hanya berpesan, tapi juga disertai tindakan dan aksi. Jika boleh berlebihan, beliau adalah potret Uwais al-Qarni yang terlahir kembali di Sidogiri.

Referensi: Jejak Langkah 9 Masyayikh Sidogiri

Penulis: Imam Rohimi
Editor: A. Kholil

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *