Harga AMDK Santri
Nov24

Harga AMDK Santri

Santri Kemasan Gelas 120 ml    : Rp. 20.000,-/karton (45 gelas) Praktis untuk sekali minum, menambah meriahnya pertemuan kantor atau acara keluarga Anda. Santri Kemasan Gelas 240 ml    : Rp. 21.500,-/karton (48 gelas)Praktis untuk sekali minum, menambah meriahnya pertemuan kantor atau acara keluarga Anda. Santri Kemasan Botol 330 ml    : Rp 32.000,-/karton (24 botol) Mudah dibawa, enak dipegang. Siap memenuhi kebutuhan air minum anda seorang. Santri Kemasan Botol 600 ml    : Rp 33.500,-/karton (24 botol) Mudah dibawa, enak dipegang. Siap memenuhi kebutuhan air minum anda seorang. Santri Kemasan Botol 1,5 liter   : Rp 35.000,-/karton (12 botol) Berbagi memang menyenangkan. Sesuai untuk perjalanan Anda. Santri Kemasan Galon 19 liter   : Rp 16.000,-/galon Hadirkan kesegaran penuh kualitas dari Air Minum Santri di rumah atau kantor...

Selengkapnya
Haul KH. Hasani Nawawie dan 10 Wasiat
Nov07

Haul KH. Hasani Nawawie dan 10 Wasiat

Pelaksanaan Haul Hadratusyaikh KH. Hasani bin Nawawie ke-19 akan dilaksanakan pada hari Sabtu (malam Ahad), 13 Rabiul Awal 1439 H/09 November 2019 M, di Pondok Pesantren Sidogiri. Sebelum menuju ke acara tersebut, kita perlu tahu sosok yang sangat dikagumi dan disegani oleh santri karena ketegasannya dalam menjaga kesempurnaan shalat. Berikut ini adalah 10 wasiat dari Kiai Hasani bin Nawawie bin Noerhasan berkenaan dengan aktifitas yang ada di Masjid Jami’ Sidogiri. “Lek kesusu melebu masjid, mending gak usah salat tahiyatal masjid, eman. Gak onok tumaknina’e.” (Kalau terburu-buru masuk masjid, lebih baik tidak usah salat tahiyatal masjid. Percuma, tidak ada tumakninahnya.)” Pernah suatu hari kiai melihat santri yang terburu-buru masuk masjid dan salat dengan cepat. Hal tersebut terlihat oleh Kiai Hasani. Beliau pun marah besar (duko, Jawa) melihat tingkah santri yang seperti itu. “Masjid itu baitullah, ojok sampek gawe turu.” (Masjid itu rumahnya Allah, jangan sampai dijadikan tempat tidur.)” Beliau juga sangat marah ketika ada santri atau siapa saja tidur dalam masjid. Walau pun masih ada ikhtilaf perihal hukumnya, beliau melarangnya. Jika ada santri atau tamu yang tidur di masjid, beliau langsung memukulnya. “Santri iku kok rame, onok opo dek masjid?” (Santri itu kenapa ramai, ada apa di masjid?)” Setiap dua pekan sekali di Masjid Jami’ Sidogiri ada kegiatan DKL (Dakwah Keliling). Ketika itu ceramah yang disampaikan berupa hal-hal yang lucu sehingga santri tertawa dan masjid menjadi ramai. Hal tersebut didengar oleh Kiai Hasani. Beliau menyuruh Mas Abdul Bari mengambil batu bata di sungai untuk kemudian dilemparkan ke masjid. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Mas Bari langsung menghubungi Kepala Bagian Ubudiyah agar menyuruh santri tidak ramai-ramai di masjid. “Lek kate lebu masjid disekno sekel kengen, lek metu sekel kacer.” (Kalau masuk masjid harud menggunakan kaki kanan, jika keluar menggunakan kaki kiri.)” “Lek wes gak dibutonno, pateni kipas karo lampu iku. Fasilitas masjid iku milik masyarakat umum,” (Setelah menggunakan kipas dan lampu harus dimatikan. Fasilitas masjid itu milik umum.)” “Lek dungo seng jelas, ojok karepe dewe,” (jika berdoa setelah salat yang jelas, jangan ambil seenaknya saja.)” Menurut ceritanya, lumrahnya usai melakukan salat pasti ada wirid yang dibaca. Begitu juga beliau (Kiai Hasani). Beliau sangat tidak suka ketika bacaan wirid usai salat dibaca terlalu cepat. “Gak onok faedahe (tidak ada faedahnya),” dawuh Kiai Hasani. “Beduk iku ditabuh lek wes jam 12.00 pas, ojok melok jam, melok bincret ae,” (Beduk ditabuh pada jam 12.00 dan usahakan agar melihat di bincret, jangan ikut jam.)” “Salat itu kudu duwe himmah, ojok pokok salat. Salat iku ngadep pengeran, mosok sek ate dipantau terus,” (salat itu harus memiliki himmah, jangan asal salat. Salat itu menghadap tuhan, jangan minta dipantau terus.)” “Khidmah seng temenan, niatono ngawulo nang kiai, saiki atau besok,” (Dalam berkhidmah yang benar,...

Selengkapnya
Sukses, Haul Almaghfurlah KH. Noerhasan bin Nawawi
Okt25

Sukses, Haul Almaghfurlah KH. Noerhasan bin Nawawi

Malam Jumat (25/10) melalui koordinasi Kepala Daerah I, sejumlah santri dan khadam sukseskan Haul KH. Noerhasan bin Nawawie bin Noerhasan yang bertempat di Asrama Daerah I Pondok Pesantren Sidogiri. Turut terlibat dalam kepanitiaan adalah sejumlah Tim Haul dari Sekretariat Pondok Pesantren Sidogiri, TIBKAM (Ketertiban dan Keamanan), dan Bansus 1455 Ikatan Alumni Santri Sidogiri. Menurut Ust. Hariyanto, Kepala Daerah I yang ditunjuk sebagai selaku Koordinator Haul ini, acara haul telah dipersiapkan sejak dua minggu sebelumnya. Beliau menggunakan tenaga 80 santri tingkat Aliyah yang ada di Daerah I serta sejumlah khadam dalem. Beliau pun menghadirkan personalia vokalis Shalawat al-Banjari untuk memimpin Dibaiyah. Tampak hadir Keluaraga dan Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri serta sejumlah Kepala Daerah Pondok Pesantren Sidogiri. Beliau menjelaskan tentang perintah dari pihak keluarga agar tidak menampilkan dan mencantumkan hitungan tahun Haul KH. Noerhasan bin Nawawie bin Noerhasan pada tahun ini. Hal tersebut berkaitan dengan sosok Kiai Noerhasan yang memang terkenal dengan sifat humul-nya. “Biarlah dunia sadar dengan sendirinya tentang sosok Kiyai Noerhasan. Jika sadar, maka tentu mereka akan paham ini haul yang ke berapa”, jelas pria asal Kalimantan ini. Setelah Dibaiyah, acara dilanjutkan dengan pembacaan Surat Yasin dan tahlil yang berpusat di Surau Daerah I dan diikuti oleh semua hadirin baik santri, alumni Pondok Pesantren Sidogiri ataupun masyarakat sekitar. Para tamu berjubel sampai ke bagian luar Asrama Daerah I Pondok Pesantren Sidogiri. Bahkan hingga ke sebagian area parkir yang disediakan panitia di Lapangan Desa Sidogiri. “Dan ini, untuk pertama kalinya acara Haul Kiyai Noerhasan bisa diadakan dengan acara yang tersusun lengkap. Mengingat sebelum-sebelumnya dari Dalem pokok ada acara haul. Sehingga dengan antusias masyarakat sekitar, kami sudah menilai ini sukses. Hanya saja kedepan semoga bisa lebih baik lagi” tutur Ust. Hariyanto dengan senyumnya yang khas. Penulis : Musafal Habib Editor   : Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Baca konten porno, lalu syahwat. Siapa yang salah ?
Sep25

Baca konten porno, lalu syahwat. Siapa yang salah ?

Malam selasa, (24/01), seperti biasanya, dalam musyawaroh yang dilaksanakan di komisi A malam itu, terlihat para musyawirin antusias dengan berbagai macam argumen dan ibarot yang telah disiapkan, apalagi meninjau permasalahan yang dibahas malam itu bersangkutan dengan pornografi, yang memang menjadi sesuatu yang meresahkan dalam dunia pesantren. Malam itu, tersingkap beberapa fakta yang mungkin tidak banyak dari kalangan santri yang mengetahuinya. Berawal  dari gus Muhib yang penasaran dengan kitab fathul izar yang menjadi pembahasan malam itu. Sehingga tersingkap bahwa fathul izar adalah kitab yang belum jelas siapa pengarang sebenarnya, dengan meninjau susunan lafadz di dalamnya yang memang agak kacau, menurut beliau. “sebelum kita membahas permasalahan, apalagi membahas sebuah kitab, kita harus mengetahui kejelasan permasalah, dan kitab yang akan kita bahas. Dalam kitab fathul  izar yang menjadi pembahasan malam ini, saya tidak menemukan pengarang pastinya. Ketika saya cari di internet ada yang mengatakan bahwa kitab ini dikarang oleh orang pasuruan, tapi saya belum menemukan tendensi kuatnya.” Keterangan beliau di tengah-tengah musyawaroh. Baca juga: Kaifa, Satu-satunya Musyawarah Akidah di Sidogiri Dalam sesi akhir musyawaroh malam itu, beliau juga menjelaskan bahwa kita harus membedakan konten bacaan yang berbau porno dengan kitab muktabar  yang membahas bab jima’. “dalam pembahasan kita harus membedakan antara novel porno yang memang dikarang dengan tujuan menggiring pembaca membayangkan apa yang ada didalamnya, dengan kitab yang membahas tentang jima’ dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Dari tujuan pengarang menulis saja sudah jelas perbedaan diantara keduanya, meskipun keduanya berkemungkinan menimbulkan  syahwat .” Terang gus Muhib menashih pembahasan malam itu. Baca juga:Ubudiyah Adakan Diklat di DAS Selain perbedaan kitab dan novel yang sudah jelas beda, dalam kesempatan itu gus Muhib juga menjelaskan bahwa hal tersebut meninjau pembaca yang memang mempunyai gambaran dan bayangan yang berbeda-beda. “sebenarnya dalam masalah syahwat itu tergantung siapa yang membaca. Pikiran orang yang mondok 30 tahun belum menikah, dengan anak yang masih baru menginjak dewasa itu berbeda. Jangankan melihat wanita, melihat kitab bab jima’ saja mungkin pikiran mereka sudah membayangkan hal yang aneh-aneh. Jika terjadi seperti itu, siapakah yang disalahkan, sekali lagi saya tekankan, jangan salahkan kitab, tapi salahkan orang yang membaca, kenapa mereka sampai syahwat membaca kitab tersebut, karena memang dari tujuan pengarang kitab bukan untuk menyuruh atau mengajak kepada syahwat, tapi hanya menjelaskan tentang tata cara dan sebatas pengetahuan agar kita tidak terjerumus kedalam perkara yang tidak disukai Allah.” Pungkas penjelasan beliau sekaligus menutup acara malam itu. Baca juga: Habib Muhammad Ali bin Taufiq Baroqbah: Kewajiban Menutup Aurat Merupakan Ibadah ________ Penulis: Alfin Nurdiansyah* Editor: Saeful Bahri bin Ripit *Redaksi Mading...

Selengkapnya
Ustadz Afifuddin : Nubuwah Nabi Muhammad Sudah Ada Sebelum Beliau diutus
Agu04

Ustadz Afifuddin : Nubuwah Nabi Muhammad Sudah Ada Sebelum Beliau diutus

kembali hadirkan Ustadz Afifuddin sebagai pemateri dengan tema Nubuwah. Hal tersebut sesuai jadwal yang telah disusun pengurus ACS untuk penguatan akidah Ahlusunnah Wal Jamaah bagi peserta semester I. Seperti biasa, ruang istirahat guru Aliyah sebagai lokasi diadakannya mentoring. Ustadz Afifuddin membuka pembahasan dalam mentoring Annajah Center Sidogiri (ACS) dengan malam Senin (04/08)  menjelaskan tentang Nubuwah yang diambil sebagai tema mentoring kali ini karena untuk membantah orang-orang non-muslim bahwa risalah Nubuwah Muhammad tidak hanya dijelaskan dalam al-Quran saja melainkan juga ada  dalam kitab–kitab terdahulu. Beliau mengajak seluruh peserta ACS untuk berfikir logis dan selalu berusaha mengungkap segala cerita sejarah yang belum diketahui seperti misalnya, tentang surat ke Kaisar Heraclius. Kenapa dulu Nabi Muhammad SAW mengawali dengan basmalah. Intinya beliau banyak memberi dorongan untuk kritis dalam sejarah tidak hanya dalan pelajaran fiqih saja. Beliau kembali membawa peserta untuk membahas sejarah. Sejarah yang dibahas adalah perang Khandaq, yang banyak redaksi sejarah menyebutkan kemenangan kaum Muslimin disebabkan oleh taktik Sahabat Salman al-Farisi dengan menggali parit mengelilingi Madinah. Sedankan dalam Perang Khandaq kemenangan yang diraih tidak lepas dari pertolongan Allah dengan mengirim badai yang sangat dingin dan tentera-tentera dari langit yang kasat mata. Ini terbukti karena jika disebabkan taktik paritnya Salman al-Farisi itu hanya membantu mencegah masuknya koalisi pasukannya kaum kafir Quraisy dan Yahudi, sedangkan hal itu juga menyebabkan kaum Muslimin terkepung di dalam Kota Madinah. “Itu pertanda bahwa Allah tidak senang kalau nabi-Nya kalah konsep dengan Salman al-Farisi.” sebut Kepala BPP ini. Beliau menceritakan kisah Raja Yaman, Rabi’ah bin Nasr yang bermimpi tentang negerinya yang kejatuhan api dari atas menuju dataran rendah hingga melahap semua makhluk hidup. Mimpi tersebut ditafsiri oleh tukang sihir raja, bahwa negerinya akan dikuasai kaum Habsyah, kemudian Iram dari dataran Adn, dan terakhir dikuasai Orang yang dipuji yang diberi wahyu dan yang dimaksud adalah Nabi Muhammad SAW. Jadi, menurut cerita tersebut Nubuwah Muhammad telah ada sejak 200 tahun yang lalu berdasarkan cerita Raja Yaman di atas. “Orang yang tidak mempercayai Nubuwah Nabi Muhammad berarti ketinggalan zaman, dan sekali lagi orang Yahudi itu bukan tidak beriman, hanya saja mereka dengki.” Jelas Ustadz Afif. ________________ Penulis : Musafal Habib Editor    : Saeful Bahri bin Ripit  ...

Selengkapnya
I’dadiyah Adakan Training al-Miftah untuk Umum
Jul15

I’dadiyah Adakan Training al-Miftah untuk Umum

Sejak malam Ahad (13/07) Pimpinan Madrasah Miftahul Ulum I’dadiyah menggelar Training al-Miftah untuk umum bagi lembaga yang ingin menerapkan metode Al-Miftah Lil Ulum. Acara tersebut berlangsung sampai Rabu sore (17/07) mendatang. Acara yang bertempat di Gedung Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS) ini diikuti oleh 56 peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri. “Pesertanya 56 orang, rata-rata bukan alumni Sidogiri. Ada yang dari Singapura, Jawa Barat, Madura, dan daerah-daerah yang lainnya.” Ungkap Ust. Rifky Almahmudy, Kepala Madrasah Tarbiyah I’dadiyah. Tujuan acara tersebut adalah sosialisasi metode Al-Miftah lil Ulum dan kaderisasi guru untuk lembaga yang ingin menerapkan metode al-Miftah, “Sekarang kalau ada lembaga yang ingin menerapkan metode al-Miftah harus ada sertifikatnya, begitu juga pembelian kitab al-Miftah untuk lembaga itu. Kami akan melayaninya kalau memang sudah ada sertifikatnya.” Tambah beliau. Acara ini diharapkan dapat menjadikan metode al-Miftah lil Ulum Pondok Pesantren Sidogiri sebagai kurikulum resmi di setiap lembaga di Indonesia, sehingga dapat memudahkan setiap orang yang ingin belajar membaca kitab, “Harapan kami agar al-Miftah ini bisa menjadi kurikulum resmi di setiap Lembaga di Indonesia.” Pungkas beliau ketika di temui di ruang kerjanya. ____ Penulis: Kanzul Hikam Editor: Saeful Bahri bin...

Selengkapnya