Gus Muhib: Ahlusunah Wal Jama’ah Tidak Menempatkan Akal di Atas Teks-teks Agama

share to

Annajah Center Sidogiri (ACS) kembali mengadakan mentoring dengan mendatangkan KH. Muhibbul Aman  Aly sebagai mentor, dengan tema Khasais Aswaja pada malam Kamis (14/08). Bertempat di ruang istirahat guru di gedung al-Ghazali, mentoring ini dihadiri oleh seluruh anggota ACS semester I.

Dalam penjelasannya, Gus Muhib (sapaan akrab beliau) menerangkan bahwa ciri-ciri Ahlusunah wal Jama’ah adalah berpegang teguh pada al-Quran dan Hadis. Namun, di dalam berpegang teguh pada al-Quran dan Sunnah, Ahlusunah wal Jama’ah tidak pernah menggunakan daya akal sebagai prioritas utama dalam beragama, dalam artian, Ahlusunah wal Jama’ah tidak menempatkan akal di atas teks-teks agama, sebagaimana orang-orang yang menggunakan daya akal sebagai petunjuk dalam beragama. Sebagaimana yang terjadi pada sejarah perkembangan teologi Islam, yakni munculnya kelompok al-Mu’atthilun (kelompok yang ada jauh sebelum rumusan Asy’ari-Maturidi).

Secara harfiyah makna dari al-Mu’atthilun adalah, kelompok yang mengabaikan teks-teks agama yang bertentangan dengan logika. Artinya ketika teks agama bertentangan dengan akal maka yang dimenangkan adalah akal, ini adalah akar dari pada pemikiran islam Liberal.

Berbeda dengan Ahlusunah wal Jama’ah yang menempatkan akal di bawah teks agama. “Sudah sewajarnya jika segala yang menentukan baik dan buruk itu harus dikembalikan kepada akal.” Jelas Gus Muhib. Hanya saja ketika akal dan teks-teks agama bertentangan, maka akal tidak boleh dimenangkan.  “Dalam usul fikih kita mengenal at-Tahsin wat-Taqbikh al-Akliyaini.” Lanjut beliau.  Oleh karena itu, ketika ada teks agama bertentangan dengan akal, sebagai manifestasi dari anugerah Allah, kita dituntut untuk menimbang. Dan akal lah yang menentukan kebenarannya.

Sebab inilah, menurut Ahlusunah wal Jama’ah, setiap sesuatu yang datang dari tuhan, semuanya diterima. Sekalipun bertentangan dengan akal. “Oleh karena itu, kalimat-kalimat yang berada di awal surat, seperti Alif Lam Mim, menurut Ahlusunah wal Jama’ah memiliki makna. Namun kalau ditanya apa maknanya, maka jawabannya adalah Allahu A’lamu Bimuradihi. Berbeda dengan al-Muatthilun yang berpandangan bahwa kalimat tersebut tidak memiliki makna.” Terang beliau, panjang lebar.

Selain itu, adanya kalimat-kalimat di awal surat yang tidak diketahui maknanya, mengindikasikan bahwa ilmu Allah itu tidak terbatas. Karena dengan demikian, maka terdapat beberapa makna dalam ayat al-Quran yang hanya diketahui oleh Allah.

 

_______

Penulis: Kanzul Hikam

Editor: Saeful Bahri bin Ripit

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *