ArtikelHikayat

Gua Hira’, Saksi Bisu Pertemuan Pertama Rasulullah dengan Malaikat Jibril

Pertemuan pertama Nabi Muhammad ﷺ dengan Malaikat Jibril merupakan peristiwa yang sulit dilupakan oleh Rasulullah. Sebabnya, peristiwa ini merupakan titik awal beliau diangkat menjadi utusan terakhir untuk seluruh umat manusia.

Saat Nabi Muhammad hampir menginjak usia empat puluh tahun, beliau mulai senang mengasingkan diri dari keramaian manusia dan fokus untuk beribadah. Kepercayaan syirik yang dianut oleh kaum kafir Quraisy membuat Nabi merasa risih. Penyembahan berhala yang tiada manfaatnya, mengusik hati Nabi.

Mengutip dari kitab ar-Rahiq al-Makhtum, Nabi Muhammad memilih gua Hira’, sebuah gua yang berjarak dua mil dari Makkah, sebagai tempat uzlahnya. Bermodalkan sawiq (sejenis kue) dan air yang dibawa dari kediamannya, Rasulullah menghabiskan waktu dengan beribadah, tafakkur, dan memberi makan setiap orang miskin yang datang kepada beliau. Ketika bekal habis, Nabi akan pulang untuk mengambil bekal dan kembali lagi gua Hira’.

Tiga tahun berlalu, Rasulullah tetap istikamah dalam melaksanakan uzlah hingga pada suatu hari di bulan Ramadhan kejadian yang tak pernah diduga terjadi. Jibril, sang malaikat penyampai wahyu datang menemui beliau. “Bacalah!,” perintah Jibril. Nabi Muhammad yang dilahirkan sebagai seorang yang tidak bisa baca-tulis jadi bingung dan hanya mampu menjawab, “Aku tidak bisa membaca”. Lalu, Jibril memeluk erat Nabi hingga beliau merasa kesakitan.

Untuk kali keduanya, Jibril menyuruh Nabi untuk membaca. Sayangnya, jawaban beliau tetap sama. Jibril kembali memeluk Nabi dengan erat. “Bacalah!” Jibril tetap menyuruh Nabi untuk kali ketiganya. Namun, sama saja Rasulullah tidak mampu untuk menunaikan perintah tersebut. Pelukan erat Jibril kembali membuat Nabi kesakitan.

Setelah Jibril melepaskan pelukan ketiganya, dia membacakan sebuah wahyu yang menjadi pertanda terangkatnya Nabi Muhammad sebagai seorang nabi. Wahyu tersebut adalah lima ayat pertama surah al-’Alaq.

Pertemuan Rasulullah dengan Malaikat Jibril sangat membekas di ingatan beliau. Hingga saat Nabi pulang, rasa takut masih saja menghantui pikiran. Sampai-sampai Rasulullah meminta Khadijah, sang istri tercinta untuk menyelimutinya agar rasa takut tersebut hilang.

Senada dengan al-Mubarakfuri, kisah ini juga diutarakan oleh al-Imam Muhammad az-Zarqani, dan diperkuat oleh al-Imam Muhammad Ibnul-Qayyim al-Jauziyah. Kini, peristiwa agung tersebut kita kenal sebagai Nuzulul-Qur’an. Berawal dari sebuah gua sunyi, kemudian cahaya kebenaran memancar ke seluruh penjuru dunia membawa petunjuk dan kasih sayang untuk umat manusia.

Penulis: Moh. Syauqillah
Editor: Fahmi Aqwa

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *