“Belajar sejarah menjadikan iman semakin mantap dan biar paham bahwa yang taat akan bahagia, sedangkan yang tidak taat akan sengsara,” jelas Habib Fahmi al-Muhdhor dalam ceramahnya, pada Peringatan Tahun Baru Islam 1448 H di Pondok Pesantren Sidogiri, Senin malam (15/06).
Memperingati tahun baru Islam, merupakan agenda rutin di Pondok Pesantren Sidogiri, dan masuk pada program Perayaan Hari Besar Islam (PHBI). Peringatan Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1448 Hijriah, digelar di Lapangan Pondok Pesantren Sidogiri, dan dihadiri oleh jajaran pengurus harian PPS dan staf pengajar Madrasah Miftahul Ulum (MMU) serta belasan ribu santri aktif yang berlokasi di Lapangan Pondok Pesantren Sidogiri.
Pada mauizah hasanah, Habib Fahmi mengawali ceramahnya dengan mengungkap manfaat belajar sejarah sebelum menjelaskan kronologi hijrah Nabi Muhammad ﷺ. Belajar sejarah dapat menjadikan iman tambah mantap.
Hijrah Nabi dari merupakan peristiwa besar yang kemudian dijadikan nama kalender dalam Islam. Berbeda dengan tahun Masehi yang diawali dengan peristiwa yang berkaitan dengan Nabi Isa.

Perjalanan hijrah Nabi dari Makkah menuju Madinah yang berjarak sekitar 500 km ditempuh selama 10 atau 13 hari. Hijrah dimulai pada hari Senin, sama dengan kelahiran Rasulullah dan ayat yang pertama kali turun, yang juga pada hari Senin. Beliau juga menjelaskan keterkaitan, kenapa Madinah menjadi pilihan hijrah, bukan Mesir, Syam, atau kota lainnya?
“Pertama, ayah Nabi Muhammad ﷺ wafat di kota Madinah. Kedua, keluarga Rasulullah ﷺ dari ibu beliau ada di Madinah. Ketiga, penduduk Madinah siap menyambut beliau,” jelas beliau.
Ulama yang memiliki ciri khas dakwah humoris dengan tidak melupakan kesantunannya ini menyoroti kondisi fisik Nabi Muhammad ﷺ saat hijrah yang masih bugar meski sudah berusia lanjut.
“Baginda Nabi Muhammad ﷺ sewaktu bersembunyi di gua Tsur berusia 50 tahunan, tetapi beliau tetap kuat,” kenang beliau.
Selain itu, saat Nabi Muhammad ﷺ yang ditemani Sayidina Abu Bakar mengamankan diri di gua Tsur selama tiga malam, Sayidah Asma’ binti Abu Bakar mengantarkan kebutuhan logistik ke gunung Tsur, padahal beliau sedang hamil tua. Itu menjadi pelajaran bahwa dakwah butuh perjuangan yang luar biasa.
Baca juga: Sukseskan PHBI Tahun Baru Islam, Panitia Jalin Kerja Sama Antardivisi
Alumnus Yaman ini juga menceritakan kisah saat Nabi Muhammad ﷺ bersama Sayidina Abu Bakar di dalam gua Tsur yang sarat akan nilai akhlak santri kepada gurunya. Saat memasuki gua, Sayidina Abu Bakar meminta izin untuk masuk terlebih dahulu demi memastikan keamanan gua dengan menyumpal lubang-lubang gua dengan kain serbannya.
Ketika sudah dirasa aman, Sayidina Abu Bakar pun mempersilahkan baginda Nabi Muhammad ﷺ untuk beristirahat di pangkuannya sebagai bentuk akhlak seorang santri.
“Meski, Abu Bakar adalah mertua Nabi Muhammad ﷺ beliau tetap memuliakan nabi layaknya santri kepada gurunya”, tambah beliau.
Sesaat menjaga Nabi istirahat di pangkuannya, Abu Bakar melihat seekor ular hendak keluar dari sebuah lubang dan beliau berinisiatif menghalanginya dengan kaki demi melindungi Nabi. Kaki Abu Bakar pun tersengat beberapa kali oleh ular tersebut sampai bulir air mata yang tak kuasa beliau tahan jatuh ke pipi Nabi hingga terbangun.
Baca juga: Sambut Tahun Baru 1448 H, Pesantren Sidogiri Gelar PHBI Muharam
Konon, ular yang menggigit Abu Bakar itu hanya ingin melihat paras indah Nabi yang sudah dinanti-nantikannya ribuan tahun demi mengharap syafaatnya. Untuk itu, melalui momen hijrah, beliau mengajak santri untuk bergeser, dari yang malas belajar menjadi semangat, dari yang melanggar peraturan menjadi taat.
“Inti dari kisah hijrah pada malam ini adalah mengajak kita berhijrah dari yang sebelumnya malas supaya lebih semangat, yang tidak patuh menjadi lebih patuh terhadap peraturan,” ajak beliau mengakhiri tausiyahnya malam itu.
Penulis: Muhammad Fajar
Editor: Elmaghroby












