Pengurus Kuliah Syariah menggelar acara Penutupan Kajian Lembaga Penelitian Studi Islam (LPSI) pada Sabtu malam (03/01). Bertempat di Aula Gedung Sidogiri Corp, kegiatan ini menjadi momen apresiasi bagi para anggota terbaik sekaligus ruang berbagi pengalaman dalam menjaga dan mengembangkan khazanah keilmuan pesantren.
Baca juga: Comparative Study English Course, LPBA Darul Ulum Banyuanyar Kunjungi Sidogiri
Dalam sambutannya, Kepala Kuliah Syariah, Ust. Abdul Qodir Husni, menekankan pentingnya manajemen waktu bagi para santri. Beliau juga menyampaikan rencana menjelang pelaksanaan ujian Semester II MMU Aliyah. Sebelum ujian berlangsung, para peserta akan difokuskan sepenuhnya untuk mempersiapkan materi ujian agar hasil belajar dapat diraih secara maksimal.

Acara inti diisi dengan sesi berbagi pengalaman bersama tiga narasumber yang mengulas urgensi kajian kitab kuning di era kontemporer. Narasumber pertama, Ust. Ach. Saiful Furqon, menegaskan bahwa LPSI bukanlah tempat belajar membaca kitab dari dasar, melainkan wadah pengembangan dan pendalaman hasil belajar.
“Persiapan utama dalam kajian adalah muthala‘ah kitab terlebih dahulu. Tidak ada kajian yang menggunakan terjemahan,” tegas beliau.
Baca juga: Sidang Buku LPSI: Enam Forum Kajian Unjuk Karya, Tiga Terbaik Raih Penghargaan
Alumnus yang pernah menjabat sebagai Kepala Bagian Ubudiyah tersebut juga berpesan agar santri memiliki catatan pribadi pada setiap sesi kajian. Hal ini penting untuk memperkuat argumen ilmiah dengan rujukan dan referensi yang kredibel.
Sejalan dengan hal tersebut, narasumber kedua, Ust. Maliji Ismail, mengingatkan bahwa peserta kajian merupakan santri-santri pilihan. Beliau menyarankan agar peserta kajian hadits minimal menghafal kitab Arba‘in Nawawi. “Fokus dan persiapan yang tinggi adalah kunci agar proses belajar berjalan secara optimal,” ungkap anggota Lajnah Tashih Sidogiri tersebut.
Baca juga: Annajah Center Sidogiri Gelar Ujian Semester untuk Menyiapkan Garda Intelektual Aswaja
Sementara itu, narasumber ketiga, Gus Idris Mubarok, S.Pd., memberikan sudut pandang berbeda dalam menuntut ilmu. Ketua Aswaja Center PCNU Kota Kraksaan ini menekankan pentingnya menguasai matan sebelum beralih ke syarah, serta memperkuat fikih dasar sebelum mendalami ushul fikih. Hal ini bertujuan agar tidak terjerumus pada kecenderungan ijtihad yang tidak terarah.
Terkait kajian muamalah, beliau berpesan agar santri senantiasa membahas permasalahan yang berkembang di tengah masyarakat. “Muamalah masa kini sangat dinamis. Kajian tidak boleh monoton pada teori klasik semata, tetapi juga harus melihat perspektif luar dan isu-isu kontemporer,” tutur alumnus yang pernah menjabat sebagai Ketua Lajnah Muraja‘ah Fiqhiyah (LMF) tersebut.

Acara ditutup dengan pengumuman anggota terbaik dari berbagai bidang kajian, meliputi Hadits, Kaidah Fikih, Faraidh, Falakiyah, Muamalah, Sejarah, Tafsir, Tasawuf, hingga Ushul Fikih.
Penulis: Nijaful Ali
Editor: Fahmi Aqwa












