Pengurus Pusat Ikatan Alumni Santri Sidogiri (PP-IASS) sukses menggelar Silaturahim Nasional atau Silatnas ke-7 pada Jumat (15/05). Silatnas yang diselenggarakan di Lapangan Pondok Pesantren Sidogiri, menjadi ajang silaturahim ribuan alumni dan Sidogirian dari seluruh tabah air.
Dalam kesempatan tersebut, panitia menghadirkan Habib Jindan bin Novel bin Jindan sebagai pengisi tausiyah utama. Mengawali ceramahnya, beliau mengutip hadis Nabi Muhammad:
إنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا
“Sesungguhnya aku diutus sebagai seorang guru.”
Beliau memaparkan bahwa posisi pendidik atau pengajar (mu’allim) adalah tugas mulia yang diwariskan langsung oleh Baginda Nabi Muhammad. Dengan tidak langsung, Habib Jindan menegaskan bahwa setiap alumni yang kini menjadi tokoh masyarakat atau pengajar, pada hakikatnya sedang mengemban misi kenabian.
Beliau juga menyambungnya dengan hadis:
إنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Menurut Habib Jindan, hadis tersebut menunjukkan bahwa misi utama Rasulullah adalah membentuk akhlak dan karakter manusia agar menjadi lebih mulia. Ia menegaskan bahwa Nabi Muhammad merupakan sosok yang paling takut kepada Allah.
“Tidak mungkin seorang ulama yang benar-benar alim tidak memiliki rasa takut kepada Allah,” ujarnya di hadapan para alumni.
Ia menjelaskan bahwa hakikat ilmu bukan sekadar kemampuan berbicara atau berdebat, melainkan sejauh mana ilmu tersebut mampu mendekatkan seseorang kepada Allah dan diwujudkan dalam pengamalan sehari-hari.
Baca juga: Panitia Maksimalkan Persiapan demi Sukseskan Silatnas ke-7 IASS
Habib Jindan juga mengisahkan keteladanan Ar-Rabi’ bin Khutsaim, seorang ulama tabiin yang dikenal sangat tawaduk dan memiliki rasa takut yang mendalam kepada Allah. Ia disebut kerap pingsan ketika teringat dahsyatnya siksa akhirat.
Selain itu, Habib Jindan menyinggung pentingnya menjaga kekhusyukan dalam beribadah. Menurutnya, kekhusyukan merupakan inti dari ruh keilmuan yang paling pertama hilang dari kehidupan manusia.
Selanjutnya, Habib Jindan turut mengangkat keteladanan Hasan al-Bashri yang dikenal senantiasa hidup dalam kekhusyukan dan rasa takut kepada Allah.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengisahkan ibadah malam Rasulullah yang dilakukan hingga kedua kaki beliau bengkak. Ketika ditanya oleh Sayıdan Aisyah, Nabi menjawab:
أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“Tidakkah aku pantas menjadi hamba yang banyak bersyukur?”
Melalui kisah tersebut, Habib Jindan mengajak para alumni untuk istikamah menjalankan sunah Nabi serta menjauhi perkara makruh dan haram.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kehalalan makanan dan perilaku sehari-hari sebagai bagian dari implementasi ilmu dan akhlak.
Menutup tausiyahnya, Habib Jindan berpesan agar para alumni menjadi representasi akhlak guru dan Masyayikh Sidogiri di tengah masyarakat. Ia mengingatkan agar nama besar para ulama tidak dijadikan sarana mencari popularitas ataupun kepentingan pribadi.
“Jadikan para guru dan masyayikh sebagai teladan serta penolong kita, bukan sebagai alat untuk mengangkat kepentingan pribadi,” pungkasnya.
Penulis: Nijaful Ali
Editor: Elmaghroby











