Ikatan Santri Sidogiri (ISS) menggelar seminar bertajuk The Real Santri: Hakikat Santri pada Kamis malam (04/06) di Aula Gedung Sidogiri Corp. Kegiatan yang dikemas dalam format talk show ini menghadirkan Ustadz Rokib Saki sebagai narasumber dan turut dihadiri oleh Ustadz Ali Abdillah selaku Koordinator Media ISS.
Dalam pemaparannya, Ustadz Rokib menjelaskan bahwa seorang santri dapat disebut sebagai santri sejati apabila mampu memenuhi sejumlah kriteria penting, di antaranya memiliki komitmen berakhlak yang baik dan kuat, memahami adab dalam menghormati yang lebih tua, serta mampu menghargai yang lebih muda.
Beliau mengutip definisi santri yang dirumuskan oleh KH. Hasani Nawawie, yaitu seseorang yang berpegang teguh pada Al-Qur’an, mengikuti sunah Nabi, serta memiliki pendirian yang kokoh dan tidak mudah terombang-ambing oleh pengaruh di sekitarnya.
Menurutnya, identitas seorang santri tidak hanya ditentukan oleh status atau atribut yang melekat, melainkan tecermin dari perilaku dan konsistensinya dalam menjalankan ajaran agama.
“Esensi seorang santri tecermin dalam konsistensinya menjalankan perintah agama dan menjauhi segala larangan-Nya dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ustadz Rokib menegaskan bahwa santri tidak sepatutnya menjadi pemicu perpecahan atau perselisihan di tengah masyarakat. Sebaliknya, santri harus menjadi pribadi yang mampu menjaga persatuan dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip agama.
Dalam kesempatan tersebut, beliau mengutip firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 103 yang memerintahkan umat Islam untuk berpegang teguh pada tali agama Allah dan tidak bercerai-berai.
“Seorang santri tidak boleh mudah diadu domba atau terlibat dalam pertikaian yang dapat merusak persatuan umat,” tegasnya.
Pada sesi akhir, Kepala Badan Tarbiyah wa Ta’lim Madrasy (Batartama) itu juga menyoroti kesalahpahaman sebagian masyarakat dalam memandang santri dan pesantren. Menurutnya, tidak sedikit orang yang menilai santri hanya dari penampilan lahiriah atau lingkungan tempat tinggalnya, tanpa memahami nilai, aktivitas, dan proses pendidikan yang dijalani di pesantren.
“Santri tidak dapat dinilai hanya dari penampilan atau statusnya semata. Jati diri santri terletak pada nilai-nilai yang dipegang dan diamalkan dalam kehidupannya,” pungkasnya.
Melalui seminar ini, ISS berharap para santri semakin memahami hakikat identitasnya sebagai santri serta mampu menjaga nilai-nilai keilmuan, akhlak, dan keteguhan prinsip di tengah berbagai tantangan zaman.
Penulis: Syahrul Maulana
Editor: Elmaghroby












