Pondok Pesantren Sidogiri menggelar acara 100 hari kewafatan Ibu Nyai Hj. Lu’lu’ul Mukarromah binti KH. Ahmad Toyyib sekaligus Haul ke-10 KH. Muhammad Kholil Rochman bin KH. Abd. Alim dan Haul ke-18 Mas Daqiqiyah bin KH. Abd. Alim pada Sabtu malam (24/10). Rangkaian acara kali ini terbuka untuk umum dan disiarkan secara langsung di kanal YouTube Sidogiri TV.
Acara 100 hari ini diawali dengan pembacaan maulid al-Habsyi, dilanjut dengan pembacaan Yasin dan Tahlil yang dipimpin oleh Ustadz Yasin Abdul Karim. Hadir sebagai pemberi mauizah hasanah, Habib Segaf bin Hasan bin Ahmad Baharun.

Dalam tausiyahnya, Habib Segaf menyampaikan refleksi mendalam tentang hakikat doa dan kehidupan di zaman sekarang.
“Kalau melihat secara hakikatnya, bukan kita yang mendoakan beliau (Bunyai), tapi Bunyai yang mendoakan kita,” ujar Habib Segaf mengawali tausiyahnya.
Beliau kemudian menyampaikan satu pelajaran penting yang pernah disampaikan oleh Bunyai terkait KH. Abd. Alim. Pelajaran yang disampaikan Bunyai tersebut mengandung pesan supaya hidup di zaman sekarang hendaknya tidak mudah mengikuti apa kata orang, melainkan fokus mengurus diri sendiri.
“Seorang mukmin harus berada di antara dua ketakutan, yakni waktu yang telah berlalu dari kita dan waktu yang akan datang yang semakin tercela. Jangan sampai hati kita terhanyut dengan apa yang ada di sekitar kita, sampai kita lupa pada diri kita sendiri,” jelas Habib Segaf.

Lebih lanjut, Habib Segaf juga mengingatkan pesan dari kedua orang tuanya agar senantiasa menjaga kebersihan hati.
“Saya ingat pesan kedua orang tua saya, jangan pernah benci kepada orang lain dan jangan merasa lebih baik dari orang lain. Karena setiap orang tidak ditentukan di awalnya, tapi dinilai dari akhirnya,” ungkapnya.
Baca juga: Keseimbangan Akademik dan Spiritualitas Ditekankan dalam Seminar Psikologi Islam STAI Sidogiri
Selain itu, beliau menegaskan bahwa Allah Mahaadil dan setiap hamba diberikan modal yang sama untuk beribadah.
“Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan semua berhak menerima rida dari Allah,” tegasnya.

Melalui acara 100 hari ini, diharapkan para santri dapat terus mengenang keteladanan dan keikhlasan Ibu Nyai Hj. Lu’lu’ul Mukarromah selama mendidik dan membersamai para santri.
Penulis: Muhammad Rofiul Qodri
Editor: Elmaghroby












