Pemahaman yang utuh terhadap teks sumber serta peka terhadap konteks kebahasaan menjadi kunci utama dalam menerjemahkan literatur klasik maupun keagamaan. Itulah yang ditegaskan oleh Ustadz Ahmad Dairobi Naji dalam pemaparannya di agenda Kelas Menulis Menengah yang diselenggarakan oleh Badan Pers Pesantren (BPP) di Ruang Rapat Gedung Sidogiri Corp, Rabu malam (05/11).
Baca juga: Pimpinan MMU Tsanawiyah dan Aliyah Siapkan Lulusan Berkualitas melalui Program Upramer
Di hadapan para awak media, baik cetak maupun online, Ustadz Dairobi menyampaikan bahwa proses penerjemahan, khususnya teks berbahasa Arab itu tidak sekadar memindahkan kosa kata atau menyesuaikan gramatika secara kaku. Lebih dari itu, seorang penerjemah dituntut untuk menangkap maksud mendalam dari pengarang demi menyampaikan gagasan secara utuh kepada objek pembaca yang dituju.
“Begitupun bagi seorang penerjemah, pengalaman sangat berpengaruh dalam menerjemah,” ujar beliau yang menekankan urgensi pembiasaan dan kedalaman wawasan bagi seorang penerjemah.
Baca juga: Daftar Juarawan Imda II MMU Tsanawiyah
Ustadz Dairobi juga menguraikan tiga fondasi penting yang harus dikuasai oleh seorang penerjemah. Pertama, penerjemah harus memiliki pemahaman konteks yang mendalam. “Seorang penerjemah harus menyelami maksud pengarang secara utuh, bukan hanya sekadar menerjemah,” tegas beliau.
Baca juga: Meski Usang, Teori Evolusi Masih Relevan Dikaji Sebagai Asah Daya Kritis Analisis
Kedua, harus terampil dalam menulis pada bahasa sasaran. Artinya, menguasai diksi dan kekayaan bahasa Indonesia agar gagasan dapat tersampaikan secara natural dan mudah dipahami pembaca tanpa hilang esensinya.
Baca juga: MMU Tsanawiyah Beri Apresiasi Juara Imda II, Tekankan Keberhasilan Hakiki Santri
Ketiga, penerapan gaya dan model proporsional. Untuk hal ini, Ustadz Dairobi menjelaskan agar selalu menjaga keorisinilan konteks, seperti pada terjemahan ayat al-Qur’an dan hadis, dengan tetap memerhatikan struktur bahasa asal.
Selain itu, materi juga mengupas pentingnya mempertahankan struktur retorika Arab. Beliau mencontohkan konteks taqdim dan ta’khir kalimat serta hasr (pembatasan).
“Hal ini diberlakukan apabila struktur tersebut memuat motivasi atau konotasi makna khusus yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca,” ungkap beliau kepada peserta.
Baca juga: Dengan Sistem Berbeda, Kursus Zakat Hadirkan Dua Pakar Produktif
Setelah sesi pemaparan materi, acara berlanjut diskusi interaktif yang berlangsung hangat. Kemudian ditutup dengan pembagian hadiah dan apresiasi, yang diberikan kepada pengelola media berprestasi.
Berikut daftar para kader, media, dan insan redaksi terbaik semester I BPP:
- Media Terbaik I: Mading Tafaqquh
- Media Terbaik II: Mading Muktamad
- Pemimpin Redaksi Terbaik: Moh. Salman Alfarisi (Buletin Tauiyah)
- Desainer Terbaik: Muhammad Khafid Pratama (Mading Tauiyah)
- Redaksi Terbaik I: Sharlyf Niwar Assadel (Mading Tafaqquh)
- Redaksi Terbaik II: Shohibul Widad Al-Faqih
- Juara Lomba Mading Semester I: Mading Madinah
- Kader Desainer Terbaik: Azis Vaturrohman (Mading Desainer Santri)
- Kader Jurnalis Terbaik: Hilmy (Mading Jurnalis Santri)
Baca juga: Drama Adu Penalti, Kuliah Syariah Melaju ke Semifinal
Melalui penyelenggaraan kelas menulis menengah ini, diharapkan para peserta semakin baik dalam mengasah naluri kebahasaan, serta terus melahirkan jurnalis yang berkualitas tinggi.
Penulis: Nijaful Ali
Editor: Elmaghroby












