Lembaga Psikologi dan Bimbingan Konseling (LPBK) kembali menggelar pelatihan psikologi pada Jumat (05/06) di Ruang Auditorium Kantor Sekretariat Pondok Pesantren Sidogiri. Kegiatan ini diikuti oleh 62 guru Madrasah Idadiyah kelas Shifir serta guru Madrasah Ibtidaiyah kelas IV ke bawah.
Acara diawali dengan sambutan Pimpinan Madrasah Idadiyah, Ustadz M. Hafiduddin, yang mengapresiasi upaya LPBK dalam meningkatkan kompetensi para pendidik melalui berbagai program pelatihan psikologi.
Menurutnya, pelatihan semacam ini sangat penting untuk membantu para guru memahami karakter dan kebutuhan peserta didik sehingga proses pendidikan dapat berjalan lebih efektif.
Selanjutnya,Wakil Ketua IV LPBK, Ustadz Saifuddin, menjelaskan bahwa pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan literasi para pendidik, khususnya dalam memahami dan menangani perkembangan anak usia dini.
“Anak usia dini ibarat fondasi sebuah bangunan. Jika fondasi tersebut dibangun dan dirawat dengan baik, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkualitas. Melalui pelatihan ini, kami ingin membentuk pendidik yang sabar, profesional, dan memiliki empati tinggi sehingga murid merasa nyaman dalam proses belajar,” jelasnya.
Pada sesi inti, Kepala LPBK, Mas M. Syamsul Arifin Munawwir, M.Psi., M.H., Psikolog, sebagai narasumber utama, menekankan pentingnya memahami tahapan perkembangan anak, khususnya masa anak-anak akhir (late childhood) yang berada pada rentang usia 11 hingga 12 tahun.
Menurutnya, pemahaman terhadap fase perkembangan tersebut akan membantu guru mengenali perubahan perilaku dan kebutuhan psikologis peserta didik secara lebih tepat.
Dalam kesempatan itu, Mas Syamsul juga membagikan kisah inspiratif tentang KH. Abu Dzarrin saat menempuh perjalanan menuntut ilmu. Ia menceritakan bahwa pada masa awal pendidikannya, KH. Abu Dzarrin sempat tertinggal dibandingkan teman-teman sebayanya. Namun, berkat bimbingan KH. Mahalli, Pengasuh ke-3 Pondok Pesantren Sidogiri, beliau berhasil berkembang menjadi ulama yang berpengaruh.
“Hikmah besar dari kisah ini adalah jangan pernah meremehkan peserta didik yang saat ini tampak tertinggal dalam pelajaran,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa kecerdasan intelektual (Intelligence Quotient atau IQ) bukanlah sesuatu yang bersifat tetap. Menurutnya, kemampuan intelektual seseorang dapat berkembang melalui pendidikan yang baik, lingkungan yang mendukung, serta ketekunan dalam belajar.
Selain itu, Mas Syamsul memaparkan beberapa langkah yang dapat dilakukan guru dalam menghadapi peserta didik yang melanggar aturan atau menunjukkan perilaku indisipliner. Ia menyarankan agar guru memberikan teguran secara tegas namun tetap humanis, serta menghindari bentuk hukuman yang bersifat fisik.
“Guru perlu memberikan pembinaan yang mendidik, mencari akar permasalahan yang menyebabkan anak bersikap tidak disiplin, dan terus mendampingi mereka dengan penuh kesabaran. Jika berbagai upaya telah dilakukan, maka jangan lupa untuk mendoakan mereka karena guru merupakan orang tua bagi muridnya dalam urusan agama,” tuturnya.
Sebelumnya, LPBK juga telah menyelenggarakan pelatihan bertajuk “Konseling Santri” pada Jumat (22/05). Dalam kegiatan tersebut, Ustadz Harianto, S.Pd., Cht., Cmh., Prof. CI, menjelaskan pentingnya memahami kronologi masalah, latar belakang, dan karakteristik klien dalam proses konseling.
Melalui rangkaian pelatihan ini, LPBK berharap para guru dan pengurus Pondok Pesantren Sidogiri dapat terus meningkatkan kompetensi di bidang psikologi pendidikan dan bimbingan konseling sehingga mampu memberikan pendampingan yang lebih optimal kepada para santri.
Penulis: Nijaful Ali
Editor: Elmaghroby












