Annajah Center Sidogiri (ACS) menggelar pelatihan menulis ilmiah pada Jumat malam (03/07) di Ruang Auditorium Kantor Sekretariat Pondok Pesantren Sidogiri. Kegiatan yang berlangsung selama dua jam ini diikuti oleh seluruh anggota ACS semester I, semester III, serta Divisi Litbang ACS.
Pada kesempatan tersebut, ACS menghadirkan Ustadz M. Khoiron Abdulloh, S.Pd. sebagai pemateri utama. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa secara metodologis penulisan artikel ilmiah memiliki kemiripan dengan metode syarah yang selama ini digunakan para ulama dalam menjelaskan kitab-kitab klasik.
Menurutnya, baik artikel ilmiah maupun syarah sama-sama bertumpu pada proses mengumpulkan, memahami, lalu menguraikan gagasan yang telah disampaikan oleh para ulama terdahulu. Perbedaannya hanya terletak pada bentuk dan bahasa penyajiannya.
“Menulis artikel ilmiah konsepnya mirip seperti mensyarahi kitab. Hanya berbeda bahasa saja,” ungkapnya.
Staf Redaksi Sidogiri Media tersebut menjelaskan bahwa penulis artikel ilmiah tidak dituntut untuk membangun imajinasi sebagaimana dalam penulisan cerpen, sastra, atau opini. Sebaliknya, penulis lebih dituntut untuk mengolah data, referensi, dan pendapat para ulama secara sistematis kemudian menyajikannya kembali dengan bahasa yang mudah dipahami.
Baca Juga: Bekali Redaksional Majalah Dinding, BPP Gelar Pelatihan Menulis Pemula
“Dalam membuat karya tulis ilmiah, kita tidak perlu berimajinasi tinggi. Yang lebih dibutuhkan adalah data dan referensi, kemudian dilengkapi dengan penjelasan serta analisis penulis,” tuturnya.
Lebih lanjut, Editor Sidogiri Penerbit tersebut menilai bahwa anggota ACS memiliki modal yang sangat kuat untuk menulis karya ilmiah. Menurutnya, kemampuan membaca kitab, memahami isi kandungannya, serta menjelaskan kembali materi yang dipelajari merupakan bekal utama yang sangat mendukung proses kepenulisan.
“Sayang sekali jika ada anggota ACS yang mengaku tidak bisa menulis,” jelasnya.
Meski demikian, penulis buku Wanita Mulia di Sisi Baginda itu juga mengingatkan beberapa kendala yang sering dihadapi penulis pemula. Salah satunya adalah kecenderungan memilih tema yang terlalu berat sehingga proses pengumpulan data dan penyusunan tulisan menjadi lebih sulit.
Ia menyarankan agar penulis memulai dari tema-tema yang lebih sederhana dan mudah dijangkau referensinya, sehingga proses penulisan dapat berjalan lebih efektif dan konsisten.
“Memilih tema berat memang baik, tetapi proses pencarian data dan pengembangannya biasanya membutuhkan waktu yang jauh lebih lama,” ungkapnya.
Menjelang akhir sesi, alumni Sidogiri yang pernah menjadi staf pengajar Madrasah Miftahul Ulum Tsanawiyah tersebut menekankan bahwa keberhasilan menulis tidak cukup hanya mengandalkan pelatihan. Menurutnya, teori yang diperoleh dalam forum pelatihan harus segera dipraktikkan agar keterampilan menulis dapat berkembang.
“Pelatihan ini mungkin hanya berkontribusi sekitar 10 persen. Adapun 90 persen sisanya bergantung pada kemauan dan kesungguhan masing-masing untuk berlatih,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, pengurus ACS berharap para anggota mampu meningkatkan kualitas tulisan ilmiah mereka, memahami kaidah kepenulisan akademik dengan lebih baik, serta termotivasi untuk terus berkarya melalui tulisan.
Penulis: Syahrul Maulana
Editor: Elmaghroby












