BeritaUnggulan

Sinergi MMU Aliyah dan Wali Murid dalam Mengawal Kedisiplinan Murid LPPS

Hasil belajar santri Luar Pondok Pesantren Sidogiri (LPPS) yang menurun dari tahun ke tahun menjadi perhatian serius pimpinan madrasah. Merespons hal tersebut, MMU Aliyah Pondok Pesantren Sidogiri menggelar pertemuan bersama wali murid LPPS di Aula Gedung Sidogiri Corp, pada Sabtu malam (10/10), guna memperkuat sinergi pengawasan dan kedisiplinan murid.

Acara diawali dengan sambutan perwakilan Pimpinan MMU Aliyah, Ustadz Muhammad Mujib. Beliau mengimbau kepada wali murid untuk tidak jenuh dalam mengopeni santrinya kiai, atau lebih tepatnya anak masing-masing. Sebab, dari tahun ke tahun, khususnya bagi murid yang tidak bermukim di pondok, hasil belajarnya cenderung mengalami penurunan.

“Kami juga mengusahakan dan mencari penyebab penurunan tersebut. Karena murid LPPS yang mukim di rumah orang tua cukup banyak dibanding yang menjadi khadim dalem, lebih tepatnya, murid yang khadim berjumlah 98 dari total 386 murid LPPS,” ungkap Ustadz Mujib.

Ustadz Muhammad Mujib juga memberitahukan bahwa pada tahun ini tidak ada lagi syafaqah atau kenaikan kelas atau kelulusan dengan bantuan pertimbangan 4 (P4), khususnya bagi murid kelas akhir. Pengurus menetapkan ujian remedial bagi murid yang nilainya tidak memenuhi syarat setelah melewati tiga pertimbangan sebelumnya.

Selanjutnya, sambutan dari perwakilan wali murid disampaikan oleh Ustadz Abdullah Isro’ Umar. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa syukur atas kesempatan yang diperoleh anak-anak mereka untuk menimba ilmu di Pondok Pesantren Sidogiri. Ustadz Abdullah Isro’ juga menegaskan komitmen wali murid untuk mendukung kebijakan madrasah dalam mendidik para murid.

“Kami siap bekerja sama dengan pengurus dan jajaran guru demi menjadikan anak-anak kami sebagai santri yang taat serta termasuk ‘ibadillahish-shalihin. Kami juga memohon maaf atas segala pelanggaran yang dilakukan oleh anak-anak kami selama di Pondok Pesantren Sidogiri, khususnya di madrasah,” ujar beliau.

Sambutan terakhir disampaikan oleh Ustadz H. A. Baihaqi Juri selaku perwakilan wali kelas. Beliau mohon bantuan seluruh wali murid yang hadir untuk selalu memperhatikan anak-anaknya yang sedang menempuh pendidikan di MMU. “Karena kami sendiri sebagai wali kelas hanya dapat bertatap muka langsung dengan murid maksimal empat jam, dan itu pun tidak setiap hari,” ujar beliau.

Ustadz Baihaqi juga berpesan tentang bahaya kecanduan smartphone pada anak. Anak yang sudah kecanduan gawai akan mengalami penurunan konsentrasi belajar dan rentan terseret pada perbuatan dosa.

“Kami juga mengimbau untuk menjauhkan anak dari vape atau rokok elektrik. Sebab, vape yang pernah dilaporkan polisi kepada pihak MUI untuk diharamkan kini mengandung kadar nikotin yang sangat tinggi bahkan narkoba,” tegas Ustadz Baihaqi.

Memasuki sesi sosialisasi tata tertib murid, Wakil Kepala I MMU Aliyah, Ustadz Muhammad Mufid, menjelaskan prosedur perizinan berbasis digital melalui grup WhatsApp. Pihak madrasah juga menyediakan kode batang (barcode) khusus bagi wali murid untuk bergabung dalam grup koordinasi tersebut.

“Bagi wali murid yang telah tergabung dalam grup WhatsApp, pengajuan izin dilakukan melalui format yang telah disediakan. Adapun bagi wali murid yang tidak memiliki ponsel atau mengalami kendala akses, perizinan tetap dapat dilakukan secara manual. Perlu diperhatikan bahwa batas waktu perizinan hanya berlaku selama satu hari,” jelasnya.

Pada sesi dialog interaktif, diskusi berlanjut dengan membahas batas waktu penyetoran tugas murid MMU Aliyah berupa Satuan Kredit Sorogan (SKS) untuk menunjang nilai baca kitab murid.

“Setiap jadwal pengumpulan SKS akan kami umumkan di dalam grup wali murid untuk menanggulangi keterlambatan murid dalam mengumpulkan SKS,” pungkas Ustadz Mufid sekaligus menutup acara.

Penulis: Nijaful Ali
Editor: Elmaghroby

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *