Malam itu, langit Sidogiri seakan punya bahasa sendiri. Langit tampak begitu cerah, seolah ikut bersuka cita, menyambut peringatan hari kelahiran manusia agung, Nabi Muhammad ﷺ. Malam Jumat 12 Rabiul Awal 1447 H. atau 5 September 2025 M, ribuan santri dengan wajah teduh dan hati bergetar, berkumpul dalam satu ikatan rasa: rindu yang tak bertepi kepada sang junjungan.
Baca Juga: Lantunan Lagu Kemerdekaan di Peringatan Maulid Nabi
Selepas Isya, yang biasanya dipenuhi obrolan ringan dan canda tawa di pelataran masjid, kali ini berubah menjadi lautan suara shalawat yang bergema dari segala penjuru. Santri-santri, mengenakan pakaian putih bersih dengan sarung hijau senada, berjajar rapi di lantai dasar Masjid Jamik Sidogiri. Hati mereka tenggelam dalam samudera rindu yang menautkan hati pada satu nama: Baginda Nabi Muhammad ﷺ.
Baca Juga: Sidogiri Art Kembali Hadir: Ajang Hiburan dan Edukasi Santri
Maulid bagi mereka bukan sekadar perayaan. Ia adalah detak cinta yang menumbuhkan iman, sekaligus peringatan untuk meneguhkan akhlak. Di balik lantunan shalawat yang bergema, tersimpan kerinduan mendalam kepada sosok yang tak pernah mereka jumpai, namun cintanya terus menyinari hati.
Beberapa hari sebelum malam itu (02/09), para santri MMU Aliyah mendapat siraman ilmu dalam Kuliah Umum bertema “Prinsip Fikih Klasik dalam Konteks Kehidupan Modern yang Kompleks dan Dinamis.” Dua tokoh, K.H. Muhibbul Aman Aly dan Ust. Sholeh Romli, mengurai hikmah yang membentangkan jembatan antara turats klasik dan tantangan zaman. Materi ini menjadi bekal penting bagi para santri Aliyah, agar tetap menjaga nyala warisan turats dalam arus zaman yang terus berubah.

Dan malam itu… adalah malam yang penuh rindu.
Ketika lantunan Maulid Diba`i mengalun, suasana mendadak hening. Syahdu. Wangi bukhur menyeruak memenuhi masjid, menembus ruang batin para santri. Shalawat bergema sahut-menyahut, mengalir dari hati yang tulus, dan menyentuh. Beberapa santri tak kuasa menahan air mata. Ada kerinduan yang tak bisa diungkapkan, hanya bisa dirasakan dalam perasaan syahdu. Di sela-sela bacaan, bunga telur dan bingkisan dibagikan sebagai lambang syukur, sebagai doa sederhana dari hati kecil para pencinta Rasulullah ﷺ.
Baca Juga: Film Santri ‘Jare Sopo?’, Usung Tema Kritik Sosial dengan Sentuhan Ala Pesantren
Maulid di Sidogiri bukan sekedar rutinitas tahunan. Ia adalah peristiwa spiritual untuk lebih menanamkan cinta, meneguhkan akhlak, dan memperbarui tekad untuk hidup dalam jejak sunnah Nabi ﷺ.
Menjelang fajar, wajah-wajah penuh rindu mulai berdatangan. Satu per satu wali santri memasuki area pesantren, membawa buah tangan istimewa untuk anak tercinta. Tenda-tenda pemanggilan berdiri sejak malam, menyambut wali santri yang memanggil melalui prosedur aplikasi Walisantri Sidogiri. Nama-nama dipanggil, daerah demi daerah, disambut pelukan haru dan senyum yang tak bisa disembunyikan. Pertemuan yang singkat, namun cukup untuk menghangatkan hati yang telah lama berjarak.

Belum habis haru, rangkaian peringatan berlanjut dengan Haul ke-24 Almaghfurlah K.H. Hasani bin Nawawie bin Noerhasan. Ribuan hadirin memadati area pesantren sejak selepas Maghrib. Mereka datang dari berbagai penjuru, santri, alumni, dan simpatisan semuanya menyatu dalam doa dan kenangan setelah shalat Isya.
Baca Juga: Peringatan Maulid Nabi: Ribuan Santri Sidogiri Bershalawat Bersama Habib Syech
Puncaknya, pada Sabtu malam (06/09), digelar peringatan Maulid Nabi dalam rangkaian Peringatan Hari Besar Islam (PHBI). Acara khusus bagi santri ini menghadirkan sosok yang selalu dinanti: Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, bersama cucunya, Habib Muhammad Hadi Assegaf. Shalawat menggema tanpa henti, membalut malam hingga menjelang pukul 11.00 Wis. Ribuan suara menyatu, mengalir seperti sungai cinta menuju samudera kasih Nabi Muhammad ﷺ.

Tak hanya menjadi hiburan rohani, malam itu adalah pelajaran hidup. Bahwa mencintai Nabi bukan cukup dengan kata. Tapi dengan laku, dengan akhlak, dan dengan tekad untuk meneladani setiap sunnahnya. Rabiul Awal 1447 H. di Sidogiri menjadi saksi: cinta itu tumbuh, hidup, dan terus diwariskan.
Penulis: Nijaful Ali
Editor: Fahmi Aqwa












