PWI Pasuruan: Saat Ini Wartawan Mengalami Krisis Kepercayaan

share to
Joko Samudra wartawan MNCTV mempresetasikan meterinya dalam Diklat Jurnalistik Pesantren

Joko Samudra wartawan MNCTV mempresetasikan meterinya dalam Diklat Jurnalistik Pesantren

Bekerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) perwakilan Pasuruan, PC IPNU, PC IPPNU dan Pemda Kabupaten Pasuruan, PC GP Ansor Pasuruan bersama Badan Pers Pesantren mengadakan pelatihan jurnalistik di Pondok Pesantren Sidogiri, Jumat Pagi (18/12). Pelatihan yang bertajuk Mencetak Santri Jurnalis tersebut diikuti oleh perwakilan media-media PPS.

Pelatihan yang bertempat di Auditorium PPS laintai II tersebut mendatangkan Joko Samudra, wartawan MNC TV, Shohib Arifin dari TV9, dan Muhammad Ubaidillah dari Jawa Pos Radar Bromo. Pelatihan yang sudah menyasar tidak lebih dari 13 pesantren di Jawa Timur tersebut merupakan serangkaian acara dalam mempringati Hari Santri 22 Oktober lalu.

Mas Joko Samudra berkesempatan untuk memulai sharingnya. Mantan wartawan Jawa Pos ini tidak terlalu banyak menyinggung teori-teori dasar dalam jurnalistik akan tetapi dia lebih kepada sharing pengalamannya selama menjadi wartawan baik cetak maupun televisi. Wartawan asal Pasuruan ini juga menekankan kekuatan fisik dan intelektual yang harus dimiliki dengan seimbang (balance) oleh seorang jurnalis sejati. “Wartawan harus jenius dan kuat!” Katanya lantang.

Tidak hanya itu, wartawan yang bertubuh kekar ini juga menyinggung idealisme seorang wartawan yang harus ditanamkan dengan kuat. Penerimaan uang suap wartawan tidak luput dari pembahasannya. Dia menyebutkan, salah satu ‘dosa terbesar’ dalam profesi kewartawanan adalah menerima amplop dari narasmuber atau sengaja mencari kesempatan untuk mendaptkannya, “Jangan jadi wartawan amplop,” imbaunya.

Maka dari itu, penanaman kepercayaan kepada narasumber dan keprcayaan dari dari seorang wartawan betul-betul harus dimatangkan. Menurutnya, inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi seorang wartawan untuk sukses dalam pekerjaannya di samping krisis kepercayaan dari masyarakat terhadap profesi kewartawaanan. Maka dari itu, “Jangan jadil wartawan, jadilah seorang penulis,” tegasnya.

Kemudian giliran Mas Shohib Arifin dari TV9 sembilan menyampaikan materinya seputar fotografi. Wartawan yang juga dari Pasuruan ini tidak sendirian, dia ditemani oleh Kang Ube, sapaan akrab Muhammad Ubaidillah, fotografer Jawa Pos Radar Bromo. Keduanya secara bergantian memaparkan teknik fotografi dasar. Tidak lupa keduanya juga menjelaskan beberapa kode etik dasar dalam pengambilan foto dalam suatu liputan seperti menunjukkan id card identitas kewartawanan, meminta izin pengambilan gambar, dan menjaga etika kesopanan.

Tidak hanya itu, Mas Ubaidillah juga memberi trik aman dalam mengambil gambar. Antara lain, memegang kamera sesuai dengan aturannya, mengambil posisi aman dalam pengambilan gambar dalam liputan konflik, dan kehati-hatian dalam menjaga keamanan kamera dari orang yang tidak bertanggung jawab.[]

=====

Penulis : Isomuddin Rusydi
Editor   : Muh Kurdi Arifin

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

1 Comment

  1. INI nmer q 082234893743 mau mondok aq

    Post a Reply

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *