Menangkal Klaim Sekte Jabariyah

share to

Semenjak akhir abad pertama Hijriyah, mulai jamak ditemukan telur-telur doktrin nyeleneh yang menetas di tengah-tengah kalangan umat Islam. Hal ini tentu saja membikin sederet umat Islam mulai terbuai dengan doktrin tersebut atas  janji-janji yang menggiurkan. Tak terkecuali di Negeri Persia, doktrin Qodariyah yang berideologi bahwa segala gerak-gerik manusia terbebas dari intervensi takdir. Artinya, manusia itu sendiri yang mengendalikan segala perilaku perbuatan kesehariannya tanpa ada keterlibatan kendali dari Tuhan. Beda halnya dengan Manhaj Jabariyah, doktrin antitesis Qodariyah ini  justru berasumsi bahwa segala sesuatu yang tereliasasi di dunia, entah itu perilaku baik atau buruk, itu semua timbul dari ketentuan dan takdir dari Allah SWT. Dalam artian, manusia bak kapas yang diterpa angin, tak mempunyai daya kinerja yang efektif untuk melaksanakan keinginannya, dikarenakan manusia terjerat dalam keterpaksaan (majbûr).

Setelah dinalar secara teologis, ideologi sempalan Jabariyah ternyata menimbulkan  seabrek kejanggalan. Pasalnya, doktrin yang mereka anut sangat bertolak-belakang dengan apa yang dipahami oleh kalangan Ahlusunah wal Jamaah.  Dalam kasus ini, mereka yang memahami bahwa manusia tak berdaya (majbur) dengan justifikasi ayat al-Quran:

وَمَا تَعْمَلُوْنَ ا خَلَقَكُمْ وَااللهُ

“Padahal Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat.” (QS. as-Shaffat [37] :96)

Sekilas, Jabariyah cuma memandang dari tekstualitas ayat yang ditampilkan tanpa ada penjelasan takwil sedikitpun.

Titik Penjelasan

                 Dalam sudut-pandang manhaj Asy’ariyah, meraka menilai bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat yang memiliki andil kuasa dari seluruh gerak-gerik makhluk-Nya. Tak terkecuali manusia,  manusia adalah makhluk bermoral sehingga dapat membedakan baik dan buruk. Tak pelak, manusia ketika hendak melakukan suatu perbuatan dapat merasakan bahwa timbulnya perbuatan tersebut atas keingininan pribadinya. Namun, tetap dalam konsep al-Asy’ari,  kendati segala perbuatan manusia dikerjakan sendiri, namun semua itu di bawah kendali kuasa Allah SWT.

Dalam kitab Hasyiyah ad-Dasuqi, al-Isfirayini menyatakan statement tegas, bahwa manusia dibekali dua kontrol oleh Allah. Yakni, kontrol manusia dan kontrol Tuhan. Al-Isfirayini mencontohkannya dengan shalat, beliau menyatakan bahwa pekerjaan salat diciptakan oleh Allah, sedangakan jika ditinjau dari sudut kepatuhan manusia, shalat tersebut adalah ciptaan manusia. Namun hal ini tak mengubah komitmen pemahamannya, bahwa muatstsir dari tindakan semua manusia hanya Allah semata.

Senada dengan konsep di atas, Syekh Thahir bin Sholih al-Jazari dalam magnum-opusnya (Jawahirul Kalamiyah) memaparkan, bahwa sejatinya manusia tidak terjerat dalam jaring keterpaksaan sebagaimana asumsi Jabariyah. Sebab, Sang Pencipta membekali potensi akal yang mumpuni untuk membedakan perkara baik dan buruk, serta daya parsial untuk merealisasikan perkara tersebut. Dalam konteks ini, Imam Jalaluddin ar-Rumi menegaskan, bahwa seluruh tubuh manusia adalah alat-alat untuk melahirkan pelbagai karya. Nah, setelah mengupayakan usaha dengan maksimal, semua upaya dipasrahkan kepada Allah SWT (Tawakkal). Bahkan, al-Ghozali mengkategorikan bodoh kuadrat jika terdapat orang yang hanya menengadahkan tangan seraya berdoa kepada Allah dengan menafikan usahanya yang mesti dikerjakan.

___________________

Penulis : Ali Abdillah*

Editor : Saharuddin Yusuf

*Pemimpin Redaksi Mading Madinah

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net