Mas Khalid Dahlan H Ungkap Karamah Mbah Moen

share to

Mendengar kabar wafatnya sosok Ulama Nusantara yang sangat di segani, banyak pribadi yang sangat merasa kehilangan beliau, seluruh santri pada umumnya pasti merasakan kesedihan yang mendalam, karena di antara cara Allah menghapus ilmu dari dunia ini adalah dengan mencabut nyawa para ulama.

Tak terkecuali Mas Khalid Dahlan H, salah satu Alumni Pondok Pesantren al-Anwar, Sarang, Rembang. Ketika ditemui oleh Redaksi sidogiri.net pada malam Rabu (07/08), bakda Maghrib, beliau dengan antusias menyampaikan beberapa pengalaman beliau dan alasan beliau memilih nyantri di Sarang.

Santai: Mas Khalid, perintis chanel YouTube Guyonan Santri, ketika diwawancarai oleh redaksi sidogiri.net

“Yang mau saya sampaikan ini sangat banyak.” Ungkap beliau mengawali pembicaraan. Berawal dari alasan  beliau memilih nyantri di Sarang. Beliau telah menamatkan pendidikan Aliyah Sidogiri pada tahun 2011, setelah lulus beliau nganggur selama setengah tahun, hingga pada akhirnya timbul keinginan untuk ber-kuliyah, namun orang tua beliau tidak memberi izin, “Akhirnya pilihan saya jatuh ke Sarang,” ungkap beliau.

Alasan Mas Khalid memilih Sarang adalah, karena memang beliau memandang sosok KH. Maimoen Zubair, “Sebelum saya mondok, saya cari tau dulu sosok beliau ini seperti apa, dan memang dari ceritanya beliau ini sudah sangat luar biasa, bahkan ke manca Negara.”

Mbah moen (sapaan akrab KH. Maimoen Zubair) adalah sosok yang sangat istiqamah, utamanya dalam  mulang (mengajar. Red) kitab. Hal ini memang karena sejak dulu, toriqoh ulama-ulama Sarang itu mulang kitab. “Bahkan ketika romadon itu dulu beliau mulang kitab sebanyak empat kali, pagi, siang, sore dan habis teraweh, tapi karena mungkin beliau tambah sepuh dikurangi jadi dua kali.” Terang Mas Khalid.

Menurut putra dari KH. Kholil Abdul Karim az-Zahidin ini, karomah Mbah Moen itu banyak. Salah satumya telah terbukti pada hari wafat beliau kemarin. Banyak video yang telah beredar mengenai penjelasan beliau pada salah satu pengajian, mengenai hari Selasa. Mbah Moen  mengungkapkan bahwa embah beliau banyak yang wafat pada hari Selasa. Bahkan abah beliau, Kiai Zubair, itu juga wafat pada hari Selasa, begitu juga dengan ulama-ulama di kota Makkah al-Mukarramah. Menurut penuturan dari Mbah Moen, ulama-ulama di mekah itu biasanya kalau wafat hari Selasa. “Ini saya anggap karomah, karena terbukti beliau wafat pada hari Selasa, beliau seakan telah memberi isyarah pada kita.” Jelas beliau dengan senyuman khasnya.

Pada saat Mas Kolid mondok di Sarang, beliau merasa tidak bisa beradaptasi selama beberapa bulan, hingga tiba saat keluarga beliau datang untuk sowan pada Mbah Moen. “Entah kenapa, pada saat saya salaman, tangan saya oleh Mbah Maimoen itu dipegang lama. Jarang-jarang sikap beliau seperti ini, biasanya Cuma salaman, selesai.” Tutur beliau. Kemudian beliau bertanya pada Mas Kholil, “Yang paling saya ingat itu, beliau awalnya nanya pakek bahasa Indonesia, kemudian diselipkan bahasa Madura. Beliau bilang gini ‘Ikut pleman’ (sambil menirukan ucapan Mbah Moen pada beliau pada waktu itu).” Padahal sangat jarang sekali Mbah Moen menggunakan bahasa Madura.

Pada awalnya Mas Khalid tidak mengerti apa yang Mbah Moen maksud, tapi entah kenapa, menurut pengakuan Mas Khalid setelah itu beliau sering pulang karena memang urusan keluarga. Bahkan terkadang pada saat ujian beliau juga mengaku juga sering pulang karena terpaksa. “Pokoknya dawuhnya mbah moen kayak ngenak gitu. Beliau seakan-akan sudah tau.”

 

_____

Penulis: Kanzul Hikam

Editor: Saeful Bahri bin Ripit

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *