Kenapa Mazhab Empat Berbeda?

share to

Terkadang dibenak kita terbesit pertanyaan, “Kenapa pendapat para ulama itu berbeda-beda? Padahal semua memiliki dasar hukum yang sama?”

Sebenarnya, dalam sistematika perumusan dalil tidaklah sama. Sebab, dari kalangan mazhab memiliki metodologis menyusun sistematika sendiri-sendiri. Sehingga ada dalil yang terkadang disepekati dan tidak disepakati oleh ulama, lalu hal itu melahirkan hukum yang beraneka-ragam.

Perbedaan itu tidak hanya terjadi dalam aspek intensitas dan otoritas penggunaan dalil. Akan tetapi, perbedaan itu menyangkut dalil non-permanen yang tidak dianggap sebagai dalil oleh kalangan yang lain. Berikut sebagian perbedaan sistematika perumusan hukum dari empat mazhab:

Mazhab Hanafi

Hasan Abu Thalib dalam kitabnya Tathbiq Asy-Syari’ah Fil-Bilad Al-Arabiyah, menjelaskan bahwa usulul-istinbat dan sistematika mazhab Hanafi adalah al-Quran, Sunnah, Atsâr, Ijmâ’, Qiyâs, Istihsân dan ‘Urf. Hal ini berdasarkan pernyataan Abu Hanifah sendiri yang berbunyi,“Saya berpegangan kepada Kitab Allah, bilamana saya menemukannya. Apabila tidak, maka saya berpegangan kepada Sunnah dan Atsâr. Bila masih belum menemukan, maka saya mencari pendapatnya sahabat dan mengambil yang saya sukai dan membiarkan yang lain, dan tidak akan pindah dari pendapat mereka kepada pendapat lain. Sedangkan jika persoalan sampai kepada Ibrahim as-Sya’bi, Hasan al-Bisri, Ibnu Sirrin dan Said Ibnu Musayyab, maka saya akan berijtihad…

Dari kutipan itu, sangat jelas bahwa Imam Abu Hanifah meletakkan al-Quran pada urutan pertama, disusul dengan Sunnah hingga ditutup dengan ‘Urf.

Mazhab Maliki

Selayaknya mazhab lain, Imam Malik pun menyusun kerangka ushulul-mazhab-nya. Akan tetapi, dengan urutan berbeda, yakni: al-Quran, Sunnah, Ijma’, Qiyâs, ‘Amal Ahli Madinah, Mashâlih Mursalah, Istihsân, Dzara’i’, ‘Urf dan Istishâb.

Perbedaan yang sangat mencolok adalah penerapan dalil ijtihad yang mereka pegangi, terutama dalam ‘Amal Ahli Madinah. Bahkan menurut Hasan Abu Thalib, kalangan Malikiyah lebih dominan menggunakan ‘Amal Ahli Madinah.

Mazhab Syafi’i

Berbeda dengan sistematika yang dirumuskan oleh Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, Imam Syafi’i menolak jika Istihsân disebut dalil hukum. Bahkan beliau mengarang kitab Ibthâlul-Istihsân, sebuah kitab khusus yang menolak Istihsân sebagai dalil.

Beliau lebih suka Istinbâtul-Hukum dari al-Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyâs. Terkadang—menurut Hasan Abu Thalib—Imam Syafi’i menggunakan Istishâb dan Maslahah Mursalah sebagai sumber dalil.

Mazhab Hambali

Urutan sistematika pengambilan hukum dalam mazhab Hambali sebagai berikut: al-Quran, Sunnah, Ijma’, Qiyâs, Istishâb, Mashâlih, Saddudz-Dzara’i’ dan Qaulush-Shahâbi.

Menurut Hasan Abu Thalib, kalangan Hambali lebih mendahulukan Qaulush-Shahâbi dari pada Qiyâs. Mereka memakai Qiyâs sebatas dalam keadaan yang tidak darurat.

Walhasil, perbedaan pendapat adalah sebuah keniscayaan. Mengingat, manusia diciptakan dengan sifat keberagaman. Dunia takkan indah jika tidak beragam. Maka dari itu, perbedaan umat Nabi Muhammad SAW adalah keunggulan, bukan kekurangan.

Muhammad ibnu Romli/sidogiri.net

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *