HikayatUnggulan

Kiai Nawawie bin Noerhasan, Salah Satu Pendiri NU yang Disegani

KH.Nawawie bin Noerhasan, seorang ulama kharismatik yang luas akan ilmu fikih dan budi pekertinya yang begitu dermawan. Beliau menjalani hidup dengan menempuh rihlah keilmuannya di Pondok Pesantren Syaikhona Cholil Bangkalan yang sebenarnya masih tergolong famili beliau. Syaikhona Cholil dan Kiai Nawawie sama-sama cicit dari Kiai Asror bin Abdullah bin Sulaiman Bangkalan.

Di sana Kiai Nawawie mendapatkan ilmu dengan susah payah, berbeda dari kakak beliau sendiri, KH. Bahar bin Kiai Noerhasan yang terkenal memiliki ilmu ladunni, ilmu intuitif yang didapat langsung dari Yang Maha Kuasa. Pada usia yang relatif muda, umur 12 tahun, Kiai Bahar sudah menjadi pemangku Pesantren Sidogiri, sehingga beliau mendapat julukan “Kiai Alit” (Kiai yang masih muda).

Setelah merampungkan pendidikannya di Pesantren Syaikhona Cholil, beliau melanjutkan belajar ke Termas, Jawa Tengah. Termas merupakan suatu kawasan yang banyak melahirkan ulama-ulama besar, seperti Syekh Mahfudz at-Termasi, ulama terkenal yang mengajar dan bermukim di Masjidil al-Haram, Mekah.

Setelah menuntut ilmu di Termas, Kiai Nawawie menghabiskan masa mudanya di Makkah al-Mukarramah. Di tanah suci itu, beliau mempelajari segala bidang ilmu pengetahuan dengan tekun, ditemani oleh KHR. Syamsul Arifin, Situbondo. Masa rihlah beliau di Mekah saat itu, menyadarkannya bahwa ilmunya belum cukup, dan senantiasa dibutuhkan.

Kiai Nawawie kemudian pulang dari Makkah setelah menerima kabar bahwa kakaknya, Kiai Bahar, pengasuh Pondok Pesantren saat itu telah berpulang ke rahmatullah. Beliau, diminta untuk meneruskan tongkat perjuangan, menjadi pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri.

Setelah Kiai Nawawie diangkat menjadi pengasuh, beliau dikenal dengan sebutan ulama yang zuhud dan wara, selain keluasan ilmu, terlebih dalam bidang ilmu fikih. Tak jarang KH. Hasyim Asyari, pendiri dan Rais Akbar NU, datang ke Sidogiri hanya sekadar bertukar pikiran masalah fikih bersama beliau.

Kiai Nawawie ikut andil dalam kelahiran NU, ketika para ulama berprihatin terhadap situasi negara dan kondisi keagamaan masyarakat saat itu. Tali tambang yang mengelilingi bumi pada logo NU, juga merupakan istikharah dan usulan beliau.

Kiai Nawawie dikenal sebagai sosok yang sangat hati-hati. Itu terlihat dari sikapnya yang selama mengajar tidak pernah menulis di papan tulis. Hal itu, karena beliau khawatir terhadap sisa-sisa tulisan ayat al-Quran, yang bisa saja terinjak-injak oleh santrinya.

Banyak hal yang penting untuk ditiru dan diteladani dari beliau. Kiai Nawawie hidup semasa revolusi fisik masih mencuat di negara ini. Tetapi di sela-sela itu, Kiai Nawawie masih terus menjalankan keistikamahan beliau dalam menjalankan ajaran-ajaran agama, ketekunan dan kesabaran beliau dalam mendidik serta kedalaman ilmu yang dimilikinya, menjadikan beliau sangat disegani dan dihormati di kalangan para ulama.

Salah- satu yang paling menonjol adalah sifat kedermawanannya, di samping Kiai Nawawie yang sangat senang dengan kesederhanaan dan menjauhi kemewahan. Semua yang dimiliki Kiai Nawawie sangatlah jauh dari kata mewah. Ketika musim hujan tiba, dalem beliau seringkali basah karena banyak genteng yang bocor. Dalam pendapat beliau sendiri, hidup mewah di dunia akan mengurangi kenikmatan hidup di surga.

Seperti itulah pengertian Kiai Nawawie tentang perjalanan hidup, hingga pada Jumat pagi 25 Syawal 1347 H. Kiai Nawawie wafat dalam keadaan bersujud di mihrab tempat beliau selalu menyendiri untuk menghadap Rabb-nya. Beliau pergi dengan meninggalkan tangis para santri dan ulama-ulama besar di Jawa Timur. Bukan hanya itu, dari kalangan non-Muslimpun ikut berduka, bahkan dari pihak kompeni, penjajah negara ini.

Sepeninggal Kiai Nawawie, Pondok Pesantren Sidogiri dipangku oleh KH. Abd. Djalil bin Fadhil. Beliau adalah santri yang menjadi menantu Kiai Nawawie, yang masih keturunan Sayid Abu Bakar asy-Syatha ad-Dimyathi, pengrang kitab Hasyiah I`anah ath-Thalibin.

Penulis: Nijaful Ali

Editor: M. Masyhuri Mochtar

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *